Loading...
SAINS
Penulis: Sabar Subekti 10:10 WIB | Selasa, 26 Desember 2023

Air Laut Kaspia Menyusut Tajam, Para Ahli Menduga Akibat Perubahan Iklim

Ketinggian air yang rendah terlihat di resor Avaza di Laut Kaspia di Turkmenistan pada 13 September 2023. Laut Kaspia, perairan pedalaman yang diapit oleh wilayah Kaukasus dan Asia Tengah, telah menyusut secara drastis dari tahun ke tahun. (Foto: dok. AFP)

TURKMENBASHI, SATUHARAPAN.COM-Di pantai Laut Kaspia di Turkmenistan, Batyr Yusupov tidak bisa lagi mengangkut penumpangnya antara dua pelabuhan. Airnya tidak cukup dalam.

“Saya biasa bepergian antara Turkmenbashi dan Hazar,” kata pekerja feri berusia 36 tahun itu tentang pelabuhan yang dipisahkan oleh teluk kecil di pantai Turkmenistan. “Tetapi kami belum bisa pergi ke sana selama setahun karena penyusutan Laut Kaspia yang parah,” katanya.

Setidaknya di satu kota tepi laut, penduduk setempat memperhatikan air surut ratusan meter.

Tapi ini bukan hanya tentang rute feri atau harus berjalan lebih jauh untuk bisa berenang dengan baik: perubahan ini berdampak pada jantung ekonomi Turkmenistan yang sedang kesulitan. Dan tahun demi tahun, permukaan air semakin turun.

Masih belum jelas mengapa hal ini terjadi, namun para ilmuwan mengatakan hal ini disebabkan oleh proses alami yang diperburuk oleh perubahan iklim.

Sebuah studi pada tahun 2021 memproyeksikan bahwa pada tahun 2100, permukaan air di Laut Kaspia bisa turun lagi sebesar delapan hingga 30 meter (26 hingga 98 kaki).

Laut Kaspia, perairan pedalaman, diapit oleh wilayah Kaukasus di barat dan Asia Tengah di timur. Turkmenistan, bekas republik Uni Soviet, adalah salah satu dari lima negara di Laut Kaspia bersama Azerbaijan, Kazakhstan, Iran, dan Rusia.

Negara-negara itu semua, sampai batas tertentu, terpengaruh oleh perubahan tersebut. Di selatan Turkmenbashi, di kota tepi laut Hazar, citra satelit menunjukkan garis pantai telah surut sekitar 800 meter (setengah mil) di kedua sisi. Hal ini telah mengubah kota yang terletak di ujung semenanjung menjadi sebuah pulau.

Alih-alih berlayar antara Hazar dan pelabuhan utama Turkmenbashi, Yusupov kini membawa penumpang ke Gyzylsuw, di antara keduanya, yang lebih mudah diakses dengan perahu. Namun di sana pun, situasinya tidak jauh lebih baik.

“Dermaga baru sedang dibangun karena kedalaman dermaga lama sudah tidak cukup,” kata salah satu warga sekitar, Aisha, 40 tahun.

Lusinan perahu berkarat berjejer di pantai Gyzylsuw.

Rumah Aisha memiliki panggung yang melindunginya dari laut, yang kini tampak tidak berguna lagi. “Bahkan saat badai, air tidak sampai ke rumah,” katanya.

Di Turkmenbashi sendiri, kota pesisir terbesar di Turkmenistan, perubahan garis pantai terlihat jelas bagi para perenang. “Musim panas lalu, air mencapai bahu saya, lalu sekitar pinggang saya,” kata seorang warga biasa, Lyudmila Yesenova, 35 tahun. “Tahun ini, tingginya di bawah lutut saya.”

Surutnya perairan mengancam infrastruktur maritim Turkmenbashi, pelabuhan utama di Asia Tengah yang penting bagi perdagangan antara Eropa dan Asia. Dan di seberang pantai Kaspia terletak Baku, ibu kota Azerbaijan yang kaya minyak.

Menteri Luar Negeri Turkmenistan, Rashid Meredov, menyampaikan peringatan tersebut dalam pidatonya baru-baru ini. “Saat ini, permukaan laut mendekati nilai minimum sepanjang pengamatan instrumental,” katanya pada bulan Agustus.

“Dalam 25 tahun terakhir, penurunannya hampir dua meter,” yang berarti penyusutan laut menjadi sangat nyata dalam beberapa tahun terakhir, tambahnya.

“Laut telah berpindah ratusan meter dari pantai sebelumnya,” katanya. “Di wilayah utara Kaspia, angkanya bahkan lebih tinggi.”

Negara tetangganya, Kazakhstan, negara terbesar di Asia Tengah, juga menyuarakan keprihatinannya terhadap Turkmenistan.

Namun setelah bertahun-tahun terjadi perselisihan mengenai kendali cadangan hidrokarbon yang sangat besar di wilayah tersebut, kolaborasi yang diserukan Meredov masih berada pada tahap awal.

Ilmuwan Turkmenistan, Nazar Muradov, mengaitkan perubahan permukaan laut dengan “gerakan tektonik dan fenomena seismik, yang mengubah dasar laut”.

Ia mengatakan permukaan air laut sebelumnya pernah turun pada tahun 1930-an dan 1980-an sebelum naik kembali. Namun perubahan iklim juga harus diperhitungkan dalam fenomena terbaru ini, tambahnya.

“Permukaan laut juga bergantung pada aliran sungai, yang tingkatnya semakin berkurang, serta tingkat curah hujan yang rendah dan penguapan yang intens.”

Kazakhstan juga bergantung pada laut untuk industri minyak dan gasnya.

Penurunan permukaan air, ditambah dengan kenaikan suhu, juga berdampak buruk pada kehidupan laut di Kaspia, termasuk anjing laut.

Sebagai tanda bahwa ia menanggapi situasi ini dengan serius, pemimpin Kazakh, Kassym-Jomart Tokayev, telah mengumumkan bahwa ia telah menganggap penurunan populasi anjing laut di bawah “kendali pribadinya.” Ia juga mengatakan Kazakhstan akan mendirikan lembaga penelitian untuk mempelajari Kaspia. (AFP)

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home