Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 09:14 WIB | Kamis, 30 Januari 2020

Air Mata di Sidang Parlemen Eropa Memutuskan Brexit

Anggota Parlemen Uni Eropa dari Inggris, Nigel Farage, orang yang paling getol dengan gagasan Brexit dan gigih berkampanye, berbicara kepada media ketika ia meninggalkan Parlemen Eropa di Brussels, hari Rabu (29/1). (Foto: dari AP)

BRUSSELS, SATUHARAPAN.COM-Anggota Parlemen Eropa Inggris terlihat menangis ketika majelis membacakan syair lagu perpisahan “Auld Lang Syne” dalam debat terakhir mereka yang menetapkan Inggris keluar dari blok Uni Eropa setelah 47 tahun.

Parlemen Eropa pada hari Rabu memberikan persetujuan akhir untuk keluarnya Inggris dari Uni Eropa, membuka jalan bagi negara itu untuk keluar dari tersebut blok pada hari Jumat (31/1) setelah hampir setengah abad, dan dikhawatirkan membuat kemunduran besar bagi integrasi Eropa.

Setelah debat yang emosional di mana beberapa pembicara meneteskan air mata, anggota parlemen Uni Eropa memberikan suara 621 setuju dan 49 menentang perjanjian Brexit yang disepakati antara Inggris dan 27 negara anggota lainnya pada Oktober lalu, lebih dari tiga tahun sejak warga Inggris memilih untuk keluar dari Uni Eropa.

Tiga belas anggota parlemen abstain dalam pemungutan suara dan majelis kemudian membacakan syair lagu “Auld Lang Syne”, sebuah lagu perpisahan dari tradisional Skotlandia.

Setelah pembicaraan yang berkepanjangan, Inggris akan meninggalkan blok itu, di mana ia bergabung pada tahun 1973, pada tengah malam waktu Brussels (23:00 GMT) pada hari Jumat (31/1). Saat itu bendera Inggris akan diturunkan dan tidak lagi berkibar dari kantor Uni Eropa. Juga hal yang sama: bendera Uni Eropa akan diturunkan dari tempatnya di Inggris.

Bukan Hanya “Au Revoir”

Dalam sidang yang penuh emosi di Brussels, anggota parlemen dari semua 28 negara Uni Eropa menyatakan cinta dan kesedihan mereka, meskipun beberapa di antara mereka, terutama dari Partai pendukung Brexit Inggris, terlihat kegembiraan mereka.

"Kami akan selalu mencintaimu dan kami tidak akan pernah jauh," kata Presiden Komisi Uni Eropa, Ursula von der Leyen.

Dengan hanya dua hari yang tersisa sampai hari Brexit, legislatif menyetujui ketentuan kepergian Inggris dari Uni Eropa, di mana Perdana Menteri Inggris Boris Johnson telah bernegosiasi dengan 27 pemimpin Uni Eropa lainnya pada musim gugur tahun lalu. Bagian dari perjanjian ini mengikuti dukungan pekan lalu yang diputuskan parlemen Inggris.

Ketua resmi parlemen pendukung Brexit, Guy Verhofstadt, mengatakan bahwa "pemungutan suara ini bukan kata perpisahan," menambahkan bahwa itu “hanya sebuah au revoir” (perpisahan dalam bahasa Prancis).

Meskipun kesepakatan tentang syarat keluarnya Inggris telah diselesaikan, masih ada ketidakpastian besar di masa depan. Setelah kepergian Inggris pada hari Jumat, transisi akan dimulai, di mana Inggris akan tetap berada dalam pengaturan ekonomi UE hingga akhir tahun. Namun tidak akan memiliki suara dalam kebijakan, karena tidak akan menjadi anggota UE lagi.

Satu Tahun Transisi

"Itu saja. Semua sudah berakhir," kata Nigel Farage, yang telah berkampanye untuk Brexit selama dua dekade. Saat meninggalkan tempat, pria yang bisa dibilang melakukan lebih dari siapa pun dalam keputusan negara itu untuk memilih Brexit dalam referendum pada Juni 2016, sambil mengibarkan Bendera Britania Raya.

Negara-negara UE sedang bersiap untuk berbagai kemungkinan hasil pembicaraan mengenai kesepakatan perdagangan baru dengan Inggris pada akhir tahun, dan perencanaan darurat kesepakatan yang disebut periode transisi. Inggris berusaha untuk merundingkan kesepakatan perdagangan yang komprehensif dalam waktu 11 bulan. Meskipun jadwal itu dipandang sebagai ambisius oleh banyak pengamat diskusi perdagangan, yang sering berlarut-larut selama bertahun-tahun.

"Kami tidak akan menyerah pada tekanan atau tergesa-gesa," kata Presiden Prancis, Emmanuel Macron. "Prioritasnya adalah untuk menentukan, dalam jangka pendek, menengah dan jangka panjang kepentingan Uni Eropa dan untuk melestarikannya."

Uni Eropa mengatakan jangka waktu seperti itu terlalu pendek dan kekhawatiran tetap ada bahwa jalan keluarnya akan kacau. Apa yang dihindari pekan ini, mungkin masih terjadi pada akhir tahun jika transisi berakhir tanpa kesepakatan. (AP/Reuters)

Editor : Sabar Subekti

Kampus Maranatha
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home