Loading...
EKONOMI
Penulis: Sabar Subekti 08:55 WIB | Selasa, 05 Mei 2020

Analis: Harga Pengobatan dengan Remdesivir Rp 68 Juta

Dua ampul obat rendesivir untuk ebola. (Foto ilustrasi dari dok. Reuters)

SATUHARAPAN.COM-Satu paket pengobatan sakit karena virus COVID-19 menggunakan remdesivir diperkirakan mencapai US$ 4.500 (setara Rp 68 juta). Dengan harga itu, Gilead Sciences Inc. Yang memproduksinya masih dapat menghasilkan lebih dari US$ 2 miliar  (setara Rp 30 triliun) untuk biotek, menurut analis di Piper Sandler, dikutip Bloomberg.

Itulah harga maksimum yang direkomendasikan oleh Institute for Clinical and Economic Review (ICER) untuk perawatan selama 10 hari dengan remdesivir Gilead, yang menerima persetujuan darurat dari regulator Amerika Serikat pada hari Jumat (1/5).

Namun pihak Gilead sejauh ini diam mengenai rencana penetapan harganya dan tidak segera menanggapi permintaan komentar melalui email.

Ketika Anda berbicara tentang menyelamatkan hidup, US$ 4.500 itu “tampaknya sangat masuk akal,” kata Tyler Van Buren dari Piper Sandler dalam sebuah wawancara telepon. Bahkan setelah janji untuk memberikan 1,5 juta botol pertama, obat itu dapat menghasilkan lebih dari US$ 2 miliar dalam penjualan pada akhir tahun berdasarkan label harga itu, kata Van Buren.

Namun dia tidak mengharapkan Gilead untuk mengungkapkan harga sampai setelah pasokan yang disumbangkan telah habis. Dan “beberapa miliar penjualan mudah dicapai” dengan jumlah pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit tetap tinggi untuk masa yang akan datang.

Biaya Produksi

Sejumlah analis Wall Street menjadi lebih berhati-hati pada kemampuan Gilead untuk mendapat untung dari remdesivir di tengah pandemi, memacu beberapa penurunan peringkatnya pekan lalu. Izin oleh Administrasi Makanan dan Obat-obatan AS (FDA) mengikuti hasil dari studi yang dipimpin AS yang menyarankan obat itu segera di rumah sakit, Ini bertentangan dengan hasil dari China yang menunjukkan remdesivir tidak berpengaruh pada pencegahan kematian.

Dengan harga US$ 4.500 per pasien, remdesivir “akan memiliki margin kotor dan kontribusi laba keseluruhan yang berada di bawah produk lain perusahaan, tetapi tidak sangat dilutif terhadap prospek profitabilitas masa depan perusahaan,” tulis Leerink's Geoffrey Porges dalam sebuah catatan kepada klien Senin.

Perkiraan ICER didasarkan pada remdesivir yang menunjukkan manfaat terkait kematian. Badan nirlaba itu mengatakan jika perusahaan mencari untuk hanya memulihkan biaya produksi, rejimen pengobatan 10 hari harus menelan biaya sekitar US$ 10 (sekitar Rp 150.000). Angka itu tidak termasuk biaya penelitian dan pengembangan, karena remdesivir sebelumnya dikembangkan untuk hepatitis C, kata ICER.

Gilead tidak asing dengan perdebatan penetapan harga obat-obatan setelah pengawasan politik atas harga obat-obatan HIV-nya. Perusahaan itu mengatakan mungkin akan menghabiskan US$ 1 miliar untuk remdesivir tahun ini. Sahamnya naik sebanyak 2,3 persen di awal perdagangan di AS hari Senin (4/5). (Bloomberg)

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home