Loading...
RELIGI
Penulis: Prasasta Widiadi 14:41 WIB | Minggu, 09 November 2014

Atraksi Budaya Lokal Hiasi Penutupan PRPG PGI 2014

Atraksi Budaya Lokal Hiasi Penutupan PRPG PGI 2014
Para pemuda pemudi dari Sanggar Ondeta di bawah arahan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata melakukan Tari Hulufahasa. (Foto-foto: Prasasta Widiadi).
Atraksi Budaya Lokal Hiasi Penutupan PRPG PGI 2014
Para pemuda pemudi dari Sanggar Ondeta melakukan gerakan tarian sekapur sirih.
Atraksi Budaya Lokal Hiasi Penutupan PRPG PGI 2014
Para pemuda melakukan gerakan tarian perang dengan mengacung-acungkan tombak dan gada.
Atraksi Budaya Lokal Hiasi Penutupan PRPG PGI 2014
Para pemuda melakukan gerakan tarian perang dengan mengacung-acungkan tombak dan gada.
Atraksi Budaya Lokal Hiasi Penutupan PRPG PGI 2014
Para pemuda dan pemudi bersiap-siap melakukan tarian Hulufahasa.
Atraksi Budaya Lokal Hiasi Penutupan PRPG PGI 2014
Bupati Nias Barat, Aroziduhu Gulo
Atraksi Budaya Lokal Hiasi Penutupan PRPG PGI 2014
Wakil Bupati Nias Barat, Hermit Hia, S.IP
Atraksi Budaya Lokal Hiasi Penutupan PRPG PGI 2014
Wali Kota Manado, Vicky Lumentut (kiri) dan Bupati Nias Barat saat tiba di Pantai Sirombu.

SIROMBU,  SATUHARAPAN.COM – Atraksi beberapa tarian yang mencirikan budaya lokal digelar pada penutupan Pekan Raya Pemuda Gereja (PRPG) pada Sabtu (8/11) di Pantai Sirombu, Kabupaten Nias Barat.

Para peserta PRPG dan warga sekitar Pantai Sirombu, Kecamatan Sirombu, Kabupaten Nias Barat dapat melihat berbagai pementasan budaya dalam penutupan PRPG antara lain pagelaran yang mencirikan budaya Nias, antara lain dari Sanggar Budaya Ondeta dari Kecamatan Mooi, Kabupaten Nias Barat yang menggelar Tari Sekapur Sirih.

Tarian ini mengutamakan gerakan para penarinya yang terdiri dari 20 perempuan, dan sembilan laki-laki semuanya gerakan serempak tangan ke kanan dan kemudian ke kiri, sementara kaki kanan dan kiri perlahan-lahan mengikuti arah gerakan tangan seperti orang mencangkul di sawah.

Penutupan PRPG antara lain dihadiri oleh Bupati dan wakil Nias Barat, Aroziduhu Gulo dan Hermit Hia, S.IP, Bupati Simalungun, J.R. Saragih, dan Wali Kota Manado, Vicky Lumentut.  

Saat akhir pementasan tari sekapur sirih para penari perempuan membentuk formasi memisahkan diri, yakni saat dibagi menjadi dua yakni depan dan belakang. Salah satu penari mendekat ke para kepala daerah ‘luar nias’ yang kemudian ditemani salah satu pejabat daerah Nias Barat untuk mengunyah sirih sebagai suatu pertanda penghormatan kepada tamu agar saling menghormati.

PRPG yang menjadi salah satu kegiatan sebelum Sidang Raya (SR) XVI PGI diselenggarakan dan berisi pembahasan berbagai masalah penting seputar gereja dari sudut pandang kaum muda.

Tari lainnya yang diperagakan oleh Sanggar Budaya Ondeta dari Kecamatan Mooi, Kabupaten Nias Barat adalah Tari Perang dan Tari Hulufahasa.

Tari perang dipentaskan dalam pagelaran ini saat penyambutan Bupati Simalungun, J.R. Saragih datang beserta rombongan. Para penari terdiri atas 15 orang laki-laki usia muda yang bergerak seperti orang hendak berperang karena di tangan kanan ada tombak dan di tangan kiri memegang gada.

Gerakan yang dilakukan para penari yakni melompat-lompat kecil sembari tangan kiri mengayun-ayunkan gada ke atas, sementara tombak di tangan kanan tetap dipegang erat dan sesekali dilemparkan dan dicengkeram lagi dengan tangan kanan, namun tidak ditembakkan ke arah depan.   

Sementara tari hulufahasa dipentaskan seusai J.R Saragih menyampaikan ceramah tentang Kepemimpinan dan Jiwa Muda. Tari Hulufahasa dipentaskan dengan 25 penari terdiri dari 18 perempuan dan sembilan laki-laki dengan seragam tradisional Nias, para penari perempuan ada yang menggunakan rok dan kemeja hitam, tidak ketinggalan rompi berwarna keemasan bercampur oranye, sementara mahkota atau topi daerah berwara kuning bercampur keemasan.

Para penari laki-laki mengenakan celana panjang hitam, dan kemeja putih dengan rompi hitam, dan ada juga yang tanpa mengenakan rompi, tetapi sama-sama mengenakan kemeja putih.

Tari dimulai dengan membuka formasi dari para penari pria dan wanita yang berbaris berbanjar dan kemudian ada yang berbaris di  sebelah kiri dan kanan, gerakannya mirip dengan sekapur sirih, pada bagian akhir memperagakan tontonan bela diri tradisional suku Nias yang dipentaskan di hadapan para pejabat.       

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home