Loading...
BUDAYA
Penulis: Sabar Subekti 12:58 WIB | Sabtu, 18 September 2021

Bangkok: Berkebun Sayur di Atas Atap Taksi

Ini lebih sebagai upaya untuk protes dan mengundang perhatian ketimbang untuk usaha menghasilkan uang dari jual sayur.
Bangkok: Berkebun Sayur di Atas Atap Taksi
Kebun saytur di atas atap taksi bekas yang diparkir di Bangkok, Thailand, Kamis, 16 September 2021. (Foto-foto: AP/Sakchai Lalit)
Bangkok: Berkebun Sayur di Atas Atap Taksi

BANGKOK, SATUHARAPAN.COM-Armada taksi di Thailand memberi makna baru pada istilah "taman atap", karena mereka memanfaatkan atap taksi yang menganggur akibat krisis virus corona untuk dijadikan petak kebun sayuran kecil.

Pekerja dari dua koperasi taksi merakit taman mini pekan ini menggunakan kantong sampah plastik hitam yang dibentangkan di bingkai bambu. Di atas, mereka menambahkan tanah di mana berbagai tanaman, termasuk tomat, mentimun dan kacang panjang, ditanam.

Hasilnya lebih terlihat seperti instalasi seni yang menarik perhatian daripada tempat parkir, dan itu sebagian intinya: untuk menarik perhatian pada nasib pengemudi taksi dan operator yang sangat terpukul oleh tindakan penguncian akibat pandemi virus corona.

Koperasi Taksi Ratchapruk dan Bovorn sekarang hanya memiliki 500 mobil yang tersisa di jalan-jalan Bangkok, dengan 2.500 mobil menganggur di sejumlah lokasi kota, menurut eksekutif berusia 54 tahun, Thapakorn Assawalertkul.

Dengan jalanan ibu kota yang sangat sepi hingga saat ini, ada terlalu banyak persaingan untuk tarif yang terlalu sedikit, yang mengakibatkan penurunan pendapatan pengemudi. Banyak yang sekarang tidak mampu membayar sewa harian kendaraan, bahkan setelah tagihannya dikurangi setengahnya menjadi 300 baht (setara US$ 9,09), kata Thapakorn. Jadi mereka pergi, meninggalkan mobil-mobil dalam barisan yang panjang dan sunyi.

Beberapa pengemudi menyerahkan mobil mereka dan kembali ke rumah mereka di daerah pedesaan ketika pandemi pertama kali melanda tahun lalu, karena mereka sangat ketakutan, katanya. Lalu menyerah dan mengembalikan mobil mereka selama gelombang kedua.

“Beberapa meninggalkan mobil mereka di tempat-tempat seperti pompa bensin dan memanggil kami untuk mengambil mobil,” kenangnya.

Dengan gelombang baru virus tahun ini, koperasi "benar-benar lumpuh," karena ribuan mobil diserahkan oleh pengemudi mereka, katanya.

Infeksi baru Thailand berkisar di bawah 15.000 dalam beberapa hari terakhir setelah memuncak di atas 23.400 pada pertengahan Agustus. Pemerintah Bangkok berharap negara itu keluar dari gelombang ini, yang sejauh ini merupakan yang paling mematikan, menyumbang 97% dari total kasus Thailand dan lebih dari 99% kematiannya. Secara total, Thailand telah mengkonfirmasi 1,4 juta kasus dan lebih dari 14.000 kematian.

Situasi ini telah membuat perusahaan taksi dalam krisis keuangan, berjuang untuk membayar kembali pinjaman untuk pembelian armada mereka. Koperasi Ratchapruk dan Bovorn berutang sekitar dua miliar baht (US$ 60,8 juta), kata Thapakorn. Pemerintah sejauh ini belum menawarkan dukungan keuangan langsung.

“Jika kami tidak segera mendapat bantuan, kami akan berada dalam masalah besar,” katanya kepada The Associated Press, Kamis (16/9).

Kebun atas taksi tidak menawarkan aliran pendapatan alternatif. Para pegawai koperasi yang tadinya dimintai pemotongan gaji, kini bergiliran merawat kebun-kebun yang baru dibangun itu.

“Kebun sayur adalah tindakan protes dan cara untuk memberi makan staf saya selama masa sulit ini,” kata Thapakorn. “Thailand mengalami gejolak politik selama bertahun-tahun, dan banjir besar pada tahun 2011, tetapi bisnis tidak pernah seburuk ini.” (AP)

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home