Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 23:24 WIB | Selasa, 21 April 2020

Banjir di Yaman, Tujuh Orang Tewas

Orang-orang berjalan di jalan yang rusak akibat banjir di kota Sanaa, ibu kota Yaman, pada 15 April lalu. (Foto: dok. Reuters)

SANAA, SATUHARAPAN.COM-Setidaknya tujuh orang tewas dan 85 lainnya luka-luka dalam banjir bandang yang terjadi di Yaman baru-baru ini, menurut PBB hari Selasa (21/4).

"Hujan lebat dan banjir terjadi di seluruh provinsi utara, termasuk Marib, pada pertengahan April menyebabkan korban jiwa dan merusak properti, serta situs-situs untuk para pengungsi internal," kata badan koordinasi kemanusiaan PBB, OCHA.

"Informasi awal menunjukkan bahwa tujuh orang, lima perempuan dan dua anak-anak, tewas dalam banjir itu dan 85 orang lainnya terluka, termasuk tujuh orang terluka parah dan dirawat di rumah sakit."

Ibu kota Yaman, Sanaa, yang dikuasai kelompok pemberontak yang didukung Iran, Houthi, dan distrik-distrik di provinsi yang sama "telah sangat terpengaruh" oleh banjir itu, katanya, dikutip AFP.

Badai juga melanda provinsi lain, termasuk Ibb, Hajjah, dan Marib yang merupakan kubu utara dan terakhir pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi. Wilayah itu saat ini merupakan "pusat gravitasi" konflik di Yaman.

Utusan khusus PBB untuk Yaman, Martin Griffiths, mengatakan pekan lalu bahwa kemajuan sedang dibuat menuju gencatan senjata setelah pihaknya menyerukan jeda untuk menghadapi ancaman virus corona.

Yaman, telah lima tahun dilanda perang yang menyebabkan banyak korban, menyebabkan kelaparan dan masalah kesehatan. Dan sekarang menghadapi ancaman virus corona yang akan memperparah situasi di sana.

Yaman mengumumkan kasus COVID-19 pertamanya pada 10 April, dan organisasi-organisasi bantuan telah memperingatkan bahwa sistem kesehatannya, seluruhnya runtuh sejak konflik antara pemerintah yang diakui secara internasional dan milisi Houthi yang pecah pada tahun 2014, tidak siap untuk menangani masalah tersebut.

Diperkirakan 24 juta orang Yaman atau lebih dari 80 persen populasi negara itu, hidupnya bergantung pada bantuan kemanusiaan atau perlindungan untuk bertahan hidup, menurut PBB. Lebih dari tiga juta orang mengungsi, dan sebagian besar berada di kamp-kamp yang sangat rentan terhadap penyakit.

Editor : Sabar Subekti

Kampus Maranatha
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home