Loading...
SAINS
Penulis: Sotyati 18:49 WIB | Senin, 06 Juni 2016

Bayi Gajah Lahir di Tesso Nilo

Bayi gajah yang lahir di Taman Nasional Tesso Nilo, Pelalawan, Riau, dari induk Lisa, anggota Elephant Flying Squad. (Foto: wwf.or.id/Ruswanto)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Kabar gembira datang dari Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Kabupaten Pelalawan, Riau. Seekor anak gajah betina lahir dengan selamat pada tanggal 1 Juni 2016, ketika semua orang yang peduli kepada lingkungan hidup mempersiapkan diri memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni. 

Anak gajah itu anak ketiga yang lahir dari induk gajah Lisa, gajah anggota Elephant Flying Squad sejak April 2004. Semua anak Lisa dilahirkan di TNTN.

Elephant Flying Squad sendiri terdiri atas delapan perawat gajah (mahout) dan empat ekor gajah terlatih, kerja sama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Balai TNTN, dan WWF-Indonesia. Tim itu bertugas melakukan penanganan konflik manusia-gajah dengan menggunakan gajah-gajah terlatih untuk melakukan patroli, dan penggiringan gajah liar kembali ke kawasan hutan. Patroli menggunakan gajah Tim Flying Squad secara rutin dilakukan dua kali dalam seminggu.

Kepala Balai TNTN, Darmanto, menyatakan rasa senangnya menyambut kelahiran bayi gajar tersebut di Taman Nasional Tesso Nilo, “Ini menyiratkan harapan baru untuk konservasi gajah agar semua pihak lebih berperan aktif untuk perlindungan spesies langka ini dan habitatnya.”

Ia menambahkan, ”Taman Nasional Tesso Nilo merupakan habitat gajah dengan jumlah populasi terbesar di Riau, sekitar 150 ekor gajah liar. Ini harus menjadi kebanggaan masyarakat Riau dan kita bersama agar dapat mempertahankan keberlangsungan populasi gajah tersebut di alam.”

Darmanto berharap anak gajah itu dapat tumbuh sehat dan membawa perhatian berbagai lapisan masyarakat dan pemerintah untuk lebih nyata melakukan dan mendukung perlindungan Tesso Nilo. “Kami berharap Pemerintah Kabupaten Pelalawan dan Provinsi Riau turut mendukung upaya konservasi dan pengembangan ekonomi masyarakat berbasis ekologi di  sekitar TNTN,” dia menjelaskan.

Petugas kesehatan dari BBKSDA Riau,WWF, dan para mahout, terus memeriksa kesehatan dan merawat Lisa dan bayinya secara teratur pasca proses kelahiran. Drh Rini Deswita dari BBKSDA Riau menyatakan, ”Kami telah memeriksa dan kedua gajah ini dalam keadaan sehat. Kami akan terus memantau perkembangan keduanya.”

Untuk sementara waktu Lisa tidak ikut serta menjalankan tugasnya dalam upaya penanganan gangguan gajah.

Wishnu Sukmantoro, Manajer Program WWF Sumatera Tengah menyatakan, “Dengan kelahiran ini, tim Flying Squad kini  memiliki tiga anak gajah yang terdiri atas dua jantan dan satu betina. Kami bersama otoritas terkait akan terus meningkatkan upaya perawatan maksimal kepada anak-anak gajah ini agar dapat tumbuh baik.” Ia menambahkan, ”Selain melakukan upaya mitigasi, keberadaan gajah-gajah Flying Squad dapat menjadi sarana edukasi kepada masyarakat untuk mengenal ekologi  gajah sumatera.“

Sementara gajah dewasa di tim Flying Squad memiliki tugas pokok untuk penanganan konflik, tiga ekor anak gajah dapat mendukung upaya penyadartahuan masyarakat tentang gajah sumatera. Dengan memastikan gajah selalu berada dalam kawasan hutan yang merupakan habitat aslinya, risiko perburuan dapat ditekan. Hingga saat ini perburuan dan perdagangan ilegal bagian tubuh gajah masih cukup marak, tak hanya di Indonesia. Karena itulah, Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini mengangkat tema “Zero Tolerance for Illegal Wildlife Trade”. WWF mengajak semua pihak untuk aktif menghentikan dan melaporkan kejadian peradagangan satwa liar khususnya yang masuk dalam daftar dilindungi. (wwf.or.id)

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home