Loading...
OLAHRAGA
Penulis: Lisa Karlina Lumongdong 08:19 WIB | Jumat, 23 April 2021

Belajar Kegigihan dari Grandmaster Irene Kharisma Sukandar

Belajar Kegigihan dari Grandmaster Irene Kharisma Sukandar
Grandmaster Wanita Irene Kharisma Sukandar. (Foto: instagram.com/irene_sukandar)
Belajar Kegigihan dari Grandmaster Irene Kharisma Sukandar
Irene (kiri) saat melawan Dadang Subur atau Dewa Kipas di laga yang diinisiasi Deddy Corbuzier. (Foto: Ist)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Nama Grandmaster Wanita Irene Kharisma Sukandar kian meroket dan populer beberapa hari belakangan ini menyusul kasus problematika “Dewa Kipas” yang kontroversial. Kasus ini beberapa waktu lalu sempat mencuat menjadi berita hangat diperbincangkan sampai pada akhirnya menyeret Irene ke pertarungan dramatis melawan Dadang Subur.

Di laga yang diinisiasi Deddy Corbuzier ini, Irene unggul telak 3-0 atas Dadang. Irene, yang lahir tanggal 7 April 1992 ini, berhasil mengembalikan reputasinya setelah sempat didera hujatan oleh ribuan warganet.

Irene yang mulai menekuni catur di umur tujuh tahun berhasil membuktikan bukan hanya keunggulan teknis yang dimilikinya, namun juga ketangguhan mentalnya mengatasi tekanan yang tinggi dari warganet. Kemenangannya ini merupakan kemenangan proses panjang pembinaan yang tidak bisa dikhianati, yaitu kualitas.

Penyuka traveling dan membaca buku itu mengakui bahwa laga persahabatan dengan Dadang Subur tentunya berbeda dengan laga yang biasa diikutinya selama ini. Beban mental yang ada di pundaknya bukanlah perebutan prestasi, namun pertaruhan professionalitas, termasuk di dalamnya citra baik catur Indonesia di mata internasional.

Seluruh harapan yang dituangkan di surat terbuka yang dilayangkan untuk Deddy Corbuzier sebelumnya yang menyebabkannya diundang di acara podcast Deddy, dipertaruhkan di duel ini.

Terlebih ribuan “hate speech” yang diterimanya sangat menekan batinnya, setelah pada awalnya Irene harus menolak tantangan Deddy untuk bertarung dengan Dadang Subur karena kebijakan Percasi yang menginginkannya fokus pada target utama mempersiapkan diri menghadapi ajang SEA Games di Vietnam tahun ini, namun akhirnya Percasi mengijinkan Irene menerima undangan tarung tersebut mengingat masalah ini sudah cukup serius dan harus diselesaikan secara tuntas di medan laga dwitarung.

Bukan hal mudah dan ringan untuk siapapun tak luput Irene juga, yang selama ini memiliki pengikut di media sosial yang sangat mengaguminya karena prestasinya membawa harum nama bangsa dan negara, namun keadaan secara drastis berbalik, harus menerima deraan ribuan cercaan dan cacian karena kekurangpahaman warganet pada esensi persoalan yang sesungguhnya.

Memontum ini ternyata menjadi ujian bagi ketangguhan mental Irene. Kegigihan yang selama ini menjadi mottonya yang dipegang dan dijalaninya, harus dibuktikan saat itu. Yang menjadi tantang baginya adalah sekalipun begitu berat beban yang harus dipikulnya, dia tetap terus melangkah maju dan pantang menyerah terarah pada tujuan yang ingin dicapainya.

Yang menjadi lawan utamanya adalah dirinya sendiri. Pilihan ada di tangannya, apakah dia melihat segala hujatan sebagai tembok tebal yang menghalanginya melangkah sehingga dia berhenti dan bahkan mundur, ataukah dia  memaknai cercaan justru sebagai perapian yang kian membakar semangatnya untuk terus maju menghadapi rintangan.

Situasi ini bisa menjadi titik kritis baginya. Di titik terendah ini dia bergelut dalam batin terdalam, dia berhadapan dengan dirinya sendiri. Dia harus memutuskan apakah titik ini menjadi titik balik yang mendongkraknya naik meroket makin tinggi, ataukah menjadi titik belok yang membuatnya menukik ke bawah? 

Ternyata, sikap ksatria sudah menjadi darah dagingnya dan menyatu dalam jiwanya. Kekawatiran bahkan ketakutan boleh saja hadir, tetapi rasa itu tidak boleh menjadi penentu keputusannya. Akhirnya dia memilih untuk mengubah “beban” yang dipikulnya menjadi dorongan kuat. Tanggung jawab ini harus diemban untuk meluruskan banyak hal yang dianggapnya telah menyimpang keluar jauh dari jalur yang semestinya.

Irene juga menyadari bahwa dirinya tidak hanya membawa namanya sendiri, tetapi juga citra catur nasional. Tak ternafikan, dukungan orang-orang terdekat terlebih keluarga, menjadi kekuatan tak terlihat yang menopangnya ikut memikul beban mental itu bersama-sama.

Dan pada akhirnya, komitmen kuat serta konsistensi keuletan dan ketekunan yang selama ini dijalani sebagai seorang pecatur, keluar sebagai pemenang. Kemenangan Irene mengubah paradigma warganet terhadap substansi persoalan kasus ini. Tidak berhenti sampai di situ saja, tapi yang terlebih penting adalah bahwa kemenangan Irene, berdampak besar pada perubahan mendasar perilaku netizen dalam menyikapi kasus ini. Irene bukan hanya memperbaiki citra dirinya, namun terlebih utama memberi pembelajaran tata nilai dan sportivitas di berbagai aspek hidup, serta juga pemaknaan yang benar tentang professionalitas.

Karena ketangguhannya telah teruji dan terbukti, saat ini nama Irene semakin besar, popular, dan menjadi “mahal” tentunya. Nila tinggi yang dimiliki Irene, bukan mengacu pada jumlah materi yang dimilikinya saat ini, tapi justru karena sejumlah “air mata” pergulatan dan pergelutan yang telah tercurah, yang telah berubah menjadi “mata air” pembelajaran berharga untuk publik terbuka, seluruh masyarakat Indonesia.

Berbagai capaian prestasi dan penghargaan yang telah dibukukannya semakin meyakinkan kita akan ketangguhannya.

Profile Irene Kharisma Sukandar

Pendidikan:

  • Master of Arts di Hubungan Internasional GPA 3.61 Webster University St. Louis, Amerika Serikat
  • Sarjana Sastra program studi Sastra Inggris Universitas Gunadarma, Jakarta, Indonesia

Prestasi:

  • Bergelar Grandmaster Wanita dan Master Internasional
  • Medali Perak Olimpiade Catur, Spanyol 2004
  • Juara Asia tahun 2012 dan 2014
  • Dua medali emas SEA Games Myanmar 2013
  • Juara Nasional berkali-kali.
  • Mewakili Indonesia diberbagai event internasional seperti olimpiade, kejuaraan dunia, dan ajang kontinental serta regional lainnya.
  • Menjadi pelatih catur di beberapa negara berbahasa Inggris seperti Amerika Serikat, Australia, dan Singapura
  • Berkecimpung di berbagai ajang di lebih dari 60 negara.
  • Saat ini aktif dalam kepengurusan Federasi Catur Internasional (FIDE) menjabat sebagai Councillor.

Penghargaan:

  • "Parama Krida Pratama" oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2005.
  • "Wanita Pertama Indonesia bergelar Grandmaster Wanita" oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) pada tahun 2008.
  • "Atlet Putri Terbaik Indonesia" oleh Tabloid BOLA pada tahun 2008.
  • "Asian Generation T. List" tahun 2017.
  • Menjadi "10 Most Inspiring Women 2018" versi Forbes Indonesia.
  • "FORBES 30 Under 30" pada tahun 2019.

 

 

 

 

 

 


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home