Loading...
PARENTING
Penulis: Agus Gunawan 01:01 WIB | Kamis, 27 Mei 2021

Belajar Terus Menjadi Orang Tua

SATUHARAPAN.COM-Keluarga adalah pendidik utama, pertama dan paling lama. Donald M. Joy, Ph.D,Professor di  Asbury Theological Seminary mengatakan keluarga sebagai kurikulum pertama Allah. Dalam keluarga terjadi pemulaan segalanya, yaitu meletakan dasar terutama dasar iman bagi anak-anak yang Tuhan hadirkan.

Agus Gunawan

Namun, peran sebagai orang tua bukanlah peran yang mudah bagi setiap orang yang mendapat kesempatan untuk mendidik dan membesarkan anak-anak di dalam Tuhan. Anne Neufeld Rupp dalam bukunya “Tumbuh Kembang Bersama Anak: Menuntun Anak Menuju Pertumbuhan Emosional, Moral & Iman”, mengatakan bahwa kehidupan kita sebagai keluarga seperti perjalanan melintas hutan.

Kata ”perjalanan” memberi kesan bahwa tahun-tahun bersama keluarga kita tidaklah statis, tetapi dinamis dengan naik turun dan tikungan-tikungan jalan yang membawa kita pada berbagai kejutan, suka cita dan tidak jarang kepedihan dan penderitaan.

Meskipun keluarga adalah pendidik utama, kita menyadari bahwa keluarga sebagai pendidik seringkali tidak dipersiapkan dengan baik.  Berbagai kegiatan parenting menolong orang tua untuk memahami peran mereka sebagai pendidik. Sebagai orang tua, tentunya kita membutuhkan ide sebanyak-banyaknya. Namun, masing-masing anak itu memiliki keunikan, dan kenyataannya kita tidak dapat menggunakan cara yang sama untuk setiap anak.

Setiap orang mempunyai pendapat masing-masing tentang apa yang terbaik dalam membesarkan anak. Namun, bagaimana cara menerapkannya menjadi sangat penting. Secangkir penerapan lebih berguna daripada seember ide cemerlang setiap hari. Menerapkan ide dalam membesarkan anak lebih rumit daripada yang dibayangkan. Setiap anak, sekali lagi unik, dan setiap keluarga mempunyai dinamikanya masing-masing.

Beragam Kemungkinan

Sebagai orang tua, kita menyadari bahwa membagi hidup dan iman di dalam keluarga adalah sebuah perjalanan yang dipenuhi dengan perubahan-perubahan yang tak terduga dan beragam kemungkinan. Tentunya kita menyadari, tidak ada keluarga yang sempurna. Seandainya ada, maka kita tidak memerlukan TUHAN.

Karena kita tidak sempurna, maka kita sangat membutuhkan TUHAN lagi, dan lagi dalam prosesnya. Oleh karena itu, sebagai orang tua Kristen, kita perlu bersandar pada firman Tuhan sebagai otoritas dalam mewariskan iman dari orang tua kepada anak, dan mengajar anak-anak untuk hidup mengikut Kristus sebagai sesuatu yang sangat penting dalam setiap rumah tangga.

Bagian Kitab Ulangan 6:4-9 mengingatkan kepada kita bahwa peran keluarga menjadi sangat penting dalam pertumbuhan iman anak yang akan membentuk karakternya sesuai dengan firman Tuhan. Tidak satu kali anak belajar memahami dan bertumbuh dalam pemahaman yang benar, tetapi berkali-kali. Firman Tuhan mengingatkan kita dalam proses mendidik itu,”…,haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk…dalam perjalanan…berbaring…bangun.” (ayat 7).

Bentuk pemikiran yang unik namun alkitabiah terhadap peran orang tua memberi orang tua cara berpikir dan bertindak yang terbaik untuk segala situasi keluarga mereka masing-masing. Namun, sebagai orang tua, kita mesti mengingat bahwa pendekatan apa pun berdasarkan hati dalam membesarkan anak membutuhkan pemikiran yang strategis, perencanaan dan penerapan.

Ide tidak berarti apa-apa jika tidak ditindaklanjuti dan diterapkan dalam rumah tangga. Mempunyai ide saja tidak cukup. Kita harus merencanakan penerapannya. Saat kita sebagai orang tua merumuskan falsafah diri sendiri yang Alkitabiah dalam membesarkan anak. DR. Scott Turansky dan Joanne Miller, RN, BSN dalam buku The Christian Parenting Handbook-50 Heart-Based Strategies for All the Stages of Your Child’s Life  mengingatkan tentang prinsip-prinsip berikut ini:

  1. Mulailah dengan berdoa dan mintalah hikmat, kasih karunia, kesabaran, dan ketekunan dari Allah. Bagian ini menjadi sangat penting karena banyak orang tua kehilangan kesabaran yang tidak jarang menimbulkan luka dalam proses pembentukan karakter anak-anak.
  2. Bersyukurlah dan pujilah Tuhan atas kemajuan dan kedewasaan yang kita lihat pada diri anak-anak kita. Rasul Paulus mengingatkan dalam 1 Korintus 3:6, sebagai orang tua kita bisa menanam dan menyiram, tetapi kita mesti menyadari bahwa Allahlah yang memberi pertumbuhan pada anak-anak kita.
  3. Bangunlah dasar yang Alkitabiah. Penting menjadikan firman Tuhan sebagai otoritas kita dan bagi anak-anak. Kita akan kagum ketika membaca Alkitab dan menemukan banyak bagian yang cocok untuk diterapkan di dalam kehidupan keluarga. Kita melihat firman Tuhan menjadi panduan untuk kehidupan, maka kita akan menemukan banyak kebenaran Alkitab yang akan mempengaruhi cara kita membesarkan anak. Bangunlah persekutuan bersama dalam keluarga dan mulailah mempercakapkan firman Tuhan dengan anak-anak kita.
  4. Berpikirlah untuk jangka panjang. Jagalah perspektif kita dengan beralih dari gambaran kecil ke gambaran besar. Interaksi setiap hari adalah potongan-potongan kecil dari suatu gambar yang lebih besar. Perilaku buruk mencerminkan keadaan hati. Memperhatikan satu demi satu merupakan strategi yang lebih besar untuk mengarahkan anak kepada kedewasaan. Buatlah persekutuan keluarga rutin sebagai bagian disiplin rohani yang akan berdampak di masa depan.
  5. Ingatlah yang terpenting. Berfokuslah pada hal-hal itu, dan biarkan sisanya mengikuti. Usahakan yang terbaik dalam pendekatan kita, hindari sifat “reaktif” dalam membesarkan anak. Jangan lukai anak-anak dengan emosi kita yang tidak terkendali.
  6. Perhatikan variasi tema. Setiap nilai yang kita tanamkan bisa divariasikan dalam berbagai situasi dan kondisi. Jadi, jangan bosan untuk terus mengingatkan anak-anak tentang nilai tersebut dan penerapannya dalam berbagai situasi. Sering tantangan yang kita hadapi sekarang merupakan potongan dari gambaran yang lebih besar dari perubahan yang diperlukan.
  7. Berfokuslah pada hati. Buatlah rencana yang menolong anak-anak mengatasi rintangan di dalam diri mereka untuk jangka panjang, bukan hanya masalah perilaku saat ini. Menjadi pendidik adalah pekerjaan dengan proses yang panjang. Kesalahan hari ini biarlah menjadi pembelajaran baik untuk menjadi lebih baik di masa mendatang.

Ingatlah, anak-anak hebat tidak lahir dari sekolah yang hebat. Anak-anak yang hebat lahir dari ayah dan ibu yang hebat. Ayah dan Ibu yang hebat lahir dari keluarga yang mau terus belajar dari firman Tuhan yang menjadi dasar kehidupan rumah tangganya. Dari keluarga yang terus belajar dari firman Tuhan, Allah pasti memberi pertumbuhan.

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home