Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 01:23 WIB | Selasa, 17 November 2020

Belarusia Penjarakan 700 Demonstran

Petugas menahan seorang pendukung oposisi selama unjuk rasa untuk memprotes hasil pemilihan presiden Belarus di Minsk, pada hari Minggu (15/11/2020). (Foto: AFP)

MINSK, SATUHARAPAN.COM-Lebih dari 700 orang dipenjara menyusul protes anti pemerintah terbaru di Belarus, kata kementerian dalam negeri pada hari Senin (16/11), ketika kemarahan meningkat atas kematian seorang pengunjuk rasa baru-baru ini.

Ribuan orang turun ke jalan di ibu kota Belarusia, Minsk, pada hari Minggu (15/11), demonstrasi terakhir dari tiga bulan terakhir menentang terpilihnya kembali pemimpin kuat Alexander Lukashenko pada bulan Agustus.

Penentang Lukashenko (66 tahun dan telah berkuasa selama lebih dari dua dekade), mengatakan pemilihan itu dicurangi dan bersikeras politisi pemula, Svetlana Tikhanovskaya, adalah pemenang sebenarnya dari pemilihan tersebut.

Kementerian dalam negeri Belarusia mengatakan pada hari Senin bahwa lebih dari 700 orang dibawa ke penahanan pra peradilan karena "melanggar undang-undang tentang pertemuan massal."

Kelompok hak asasi manusia Viasna melaporkan bahwa setidaknya 1.200 orang ditahan pada hari Minggu.

Memanggil Duta Besar Polandia

Selama protes hari Minggu, polisi bersenjata membubarkan kerumunan dengan menggunakan gas air mata dan granat kejut dan mengerahkan meriam air.

Juga pada hari Senin, kementerian luar negeri Belarusia memanggil duta besar Polandia di Minsk dan menuntut agar Warsawa mengekstradisi pendiri Nexta Live, saluran Telegram oposisi yang berbasis di Polandia yang telah mengkoordinasikan protes di negara bekas Soviet itu.

Kementerian luar negeri mengatakan bahwa Warsawa harus menyerahkan kepada pendiri Belarus Nexta, Stepan Putilo dan Roman Protasevich, yang sampai saat ini menjadi pemimpin redaksi Nexta.

Awal bulan ini, Komite Investigasi Belarusia membuka kasus kriminal terhadap pasangan itu dan menuduh mereka mengatur kerusuhan massal setelah pemilihan Agustus.

Tikhanovskaya, yang diberikan perlindungan di Lithuania, negara anggota Uni Eropa, tak lama setelah pemilihan, mengatakan pada hari Senin bahwa dia bertemu dengan duta besar dari beberapa negara Barat untuk membahas sanksi lebih lanjut terhadap rezim Lukashenko karena "peningkatan kekerasan yang nyata."

Dalam sebuah pernyataan di Telegram, dia menambahkan bahwa sanksi baru bisa diharapkan "pekan ini." Uni Eropa telah memberikan sanksi kepada Lukashenko dan sekutunya, terkait kecurangan pemilu dan tindakan keras terhadap pengunjuk rasa.

Kematian Demonstran

Ribuan orang turun ke jalan-jalan Minsk pada hari Jumat lalu untuk berduka atas kematian pengunjuk rasa berusia 31 tahun, Roman Bondarenko, yang dinyatakan meninggal sehari setelah polisi menangkapnya.

Beberapa orang tewas sejak protes meletus pada Agustus dan UE memperingatkan pekan lalu bahwa kematian Bondarenko dapat mengakibatkan sanksi lebih lanjut.

Sejumlah pemimpin Barat telah mendukung Tikhanovskaya dan menolak untuk mengakui hasil pemilu Belarus. Lukashenko yang didukung Moskow menolak untuk mundur dan malah mengusulkan reformasi konstitusi. (AFP)

Editor : Sabar Subekti

Kampus Maranatha
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home