Loading...
RELIGI
Penulis: Sabar Subekti 08:26 WIB | Minggu, 21 November 2021

Betlehem Bersiap Sambut Natal, dan Berharap Datangnya Turis

Betlehem Bersiap Sambut Natal, dan Berharap Datangnya Turis
Turis mengunjungi Gereja Kelahiran, di kota Betlehem, Tepi Barat, Selasa, 16 November 2021. (Foto-foto: AP/Nasser Nasser)
Betlehem Bersiap Sambut Natal, dan Berharap Datangnya Turis
Pekerja Palestina menyiapkan pohon Natal di Manager Square, bersebelahan dengan Church of the Nativity, di kota Betlehem, Tepi Barat, Selasa, 16 November 2021.

BETHLEHEM, SATUHARAPAN.COM-Menjelang Natal, sebuah dinding kayu yang menjulang tinggi, yang pernah menjadi hitam karena jelaga dari jutaan lilin para peziarah, sedang dibersihkan dan mendapat kemilau emasnya lagi, di Gereja Nativity, yang dibangun di situs di mana orang percaya Yesus lahir di sana.

Turis diharapkan berkunjung untuk melihatnya pada musim liburan Natal yang hampir tiba. Betlehem, kota alkitabiah itu, telah berjuang sejak awal pandemi virus corona hampir dua tahun lalu. Natal biasanya merupakan musim puncak untuk pariwisata di tempat kelahiran Yesus, yang terletak di Tepi Barat yang diduduki Israel. Di masa pra pandemi, ribuan peziarah dan turis dari seluruh dunia merayakannya Natal di Gereja Kelahiran dan Alun-alun Manger yang berdekatan.

Israel membuka kembali perbatasannya untuk turis yang sudah divaksinasi awal bulan ini, tetapi relatif sedikit yang diharapkan untuk melakukan perjalanan ke Betlehem musim liburan ini, dan tidak sebanyak pada tahun pemecahan rekor sebelum pandemi. Sebagian besar turis yang mengunjungi Betlehem terbang ke Israel karena Tepi Barat tidak memiliki bandara.

Banyak hotel di Betlehem tutup dan pemilik toko berjuang untuk tetap bertahan. Aladdin Subuh, seorang penjaga toko yang tokonya berada tak jauh dari Manger Square, mengatakan dia hanya membuka pintu untuk mengeluarkan udara dari toko.

“Ini hampir Natal dan tidak ada siapa-siapa. Bayangkan itu,” katanya, mengamati beberapa orang yang lewat dengan harapan melihat orang asing mencari suvenir. “Selama dua tahun, tidak ada bisnis. Ini seperti mati perlahan.”

Meskipun pandemi telah merusak industri pariwisata Tanah Suci yang pernah berkembang pesat bagi orang Israel dan Palestina, untuk Betlehem yang bergantung pada pariwisata, dampaknya sangat parah. Israel, pintu gerbang utama bagi turis asing, telah melarang sebagian besar pengunjung asing selama satu setengah tahun terakhir sebelum pembukaan kembali bulan ini.

Lebih dari 30.000 turis memasuki Israel pada paruh pertama November, dibandingkan dengan 421.000 pada November 2019, menurut Kementerian Dalam Negeri Israel.

Pemerintah mandiri Palestina yang mengelola daerah-daerah kantong otonom di Tepi Barat hanya memberikan dukungan terbatas, dalam bentuk pembebasan pajak dan program pelatihan, kepada para pelaku bisnis perhotelan, operator tur, dan pemandu wisata, kata Majed Ishaq, direktur pemasaran di Kementerian Pariwisata Palestina.

Dia mengatakan kementerian meluncurkan kampanye untuk mendorong warga Palestina Israel mengunjungi Betlehem dan kota-kota Tepi Barat lainnya selama musim liburan. Ia menambahkan, jumlah wisman diharapkan 10%-20% dari angka sebelum pandemi.

Gereja Kelahiran adalah permata mahkota Betlehem, sebelum pandemi, turis memasuki basilika abad ke-6 itu yang antreannya bisa membentang hingga di luar pintu. (AP)

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home