Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 11:51 WIB | Senin, 30 November 2020

Boko Haram Bunuh 40 Petani di Nigeria

Orang-orang menghadiri pemakaman mereka yang dibunuh oleh militan Boko Haram di Zaabarmar, Nigeria, hari Minggu, 29 November 2020. Para pejabat Nigeria mengatakan tersangka anggota kelompok militan Islam Boko Haram telah membunuh sedikitnya 40 petani padi dan nelayan saat mereka memanen tanaman di negara bagian Borno. Serangan itu dilakukan hari Sabtu di sawah di Garin Kwashebe, sebuah komunitas Borno yang terkenal dengan pertanian padi. (Foto: AP)

MAIDGURI, SATUHARAPAN.COM-Kelompok militan Islam Boko Haram menewaskan sedikitnya 40 petani dan nelayan di Nigeria saat mereka memanen tanaman di negara bagian utara negara bagian Borno, kata para pejabat, dan korban tewas bisa meningkat menjadi sekitar 60 orang.

Serangan terjadi pada hari Sabtu (28/11) di sawah di Garin Kwashebe, dan pada hari yang sama ketika warga memberikan suara untuk pertama kalinya dalam 13 tahun untuk memilih dewan lokal, meskipun banyak warga yang tidak ikut memberikan suara mereka.

Para petani dilaporkan ditangkap dan dibunuh oleh gerilyawan bersenjata sebagai pembalasan karena menolak membayar uang pemerasan kepada seorang militan.

Malam Zabarmari, seorang pemimpin asosiasi petani di negara bagian Borno, mengkonfirmasi pembantaian itu kepada The Associated Press, mengatakan setidaknya 40 dan hingga 60 orang bisa terbunuh.

Presiden Nigeria, Muhammadu Buhari, menyatakan kesedihannya atas pembunuhan tersebut. “Saya mengutuk pembunuhan para petani, pekerja keras kami oleh teroris di Negara Bagian Borno. Seluruh negeri terluka oleh pembunuhan yang tidak masuk akal ini. Saya bersama keluarga mereka di saat kesedihan ini,” katanya.

Buhari mengatakan pemerintah telah memberikan angkatan bersenjata semua yang dibutuhkan "untuk mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi penduduk." Seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Ahmed Satomi, yang mewakili daerah pemilihan Federal Jere di Borno, mengatakan sedikitnya 44 pemakaman berlangsung hari Minggu (29/11).

“Para petani dan nelayan dibunuh dengan darah dingin. Lebih dari 60 petani terkena dampaknya, tetapi sejauh ini kami baru menerima 44 mayat dari pertanian,” kata anggota parlemen tersebut.

Menolak Pemerasan

Boko Haram dan faksi yang memisahkan diri, Negara Islam Provinsi Afrika Barat, keduanya aktif di wilayah tersebut. Pemberontakan Boko Haram selama lebih dari satu dekade telah menyebabkan ribuan orang tewas dan puluhan ribu lainnya mengungsi.

Para pejabat mengatakan anggota Boko Haram sering memaksa penduduk desa untuk membayar pajak ilegal dengan mengambil ternak atau hasil panen mereka, tetapi beberapa penduduk desa mulai menolak pemerasan.

Satomi mengatakan para petani di Garin Kwashebe diserang karena mereka telah melucuti senjata dan menangkap seorang pria bersenjata Boko Haram pada hari Jumat (27/11) yang menyiksa mereka.

“Seorang pria bersenjata yang merupakan anggota Boko Haram datang untuk mengganggu para petani dengan memerintahkan mereka untuk memberinya uang dan juga memasak untuknya. Saat menunggu makanan dimasak, para petani memanfaatkan momen saat dia melangkah ke toilet untuk merampas senapan dan mengikatnya,” katanya.

“Mereka kemudian menyerahkannya kepada aparat keamanan. Namun sayangnya, aparat keamanan tidak melindungi para petani pemberani. Dan sebagai pembalasan karena keberanian mereka, Boko Haram bergerak dan datang untuk menyerang mereka di pertanian mereka." Pemberontak juga membakar sawah sebelum pergi, katanya. (AP)

Editor : Sabar Subekti

Kampus Maranatha
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home