Loading...
SAINS
Penulis: Reporter Satuharapan 12:10 WIB | Senin, 15 Januari 2018

BUMN Dukung Pengembangan Ekowisata Jayapura

Kawasan Ekowisata Bird Watching Isio Hill’s di kawasan Rhepang Muaif, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura, merupakan bentuk pengelolaan ekowisata oleh masyarakat adat secara lestari. (Foto: mongabay.co.id)

SATUHARAPAN.COM – Tujuh BUMN, yakni PT Telkom Indonesia, PT Garuda Indonesia, PT Bank BNI Tbk., PT Pembangunan Perumahan, PT Wijaya Karya, PT Bank Mandiri Tbk., dan PT PLN, mendukung pengembangan Ekowisata Bird Watching Isio Hill’s di kawasan Rhepang Muaif, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura. Kawasan ekowisata “Bird Watching Isio Hill’s” merupakan bentuk pengelolaan ekowisata oleh masyarakat adat secara lestari.

Sebagai lokasi birdwatching atau pemantauan burung, kawasan ini sepeti dilansir wwf.or.id, memenuhi dua kriteria penting sebagai syarat Daerah Penting Burung (DPB), yakni terdapat jenis-jenis burung terancam punah, juga terdapat jenis-jenis burung sebaran terbatas yang merupakan karakteristik dari suatu bioma tertentu/kawasan Daerah Burung Endemic (DBE)

Jenis-jenis burung terancam punah contohnya jenis kasuari gelambir tunggal (Casuarius unappendiculatus), rajawali papua (Harpyopsis novaeguineae), mambruk victoria (Goura victoria). Selain itu terdapat jenis cenderawasih paruh sabit paruh putih (Epimachus bruijnii) yang mendekati kondisi terancam (near threatened).

Jenis-jenis burung sebaran terbatas yang merupakan karakteristik dari suatu bioma tertentu/kawasan Daerah Burung Endemic (DBE) di kawasan itu, seperti jenis burung nuriara pipi-kuning (Psittaculirostris salvadorii) dengan sebaran terbatas di kawasan hutan dataran rendah bagian utara Papua sehingga jenis ini dimasukkan sebagai jenis endemik.

Saat ini, kunjungan wisatawan untuk pemantauan burung, baik lokal, nasional maupun manca negara dari waktu ke waktu meningkat signifikan. Wisatawan yang berkunjung dapat memantau langsung empat jenis burung cenderawasih di lokasi Isio Hills yaitu cenderawasih raja (Cincinnurus regius), cenderawasih kecil (Paradisea minor), cenderawasih mati kawat (Celecoudis melanoleuca), dan cenderawasih paruh sabit paruh putih (Epimachus bruijnii).

Pengembangan ekowisata saat ini diharapkan mampu membangun infrastruktur pendukung kegiatan ekowisata dan pengembangan kapasitas masyarakat adat sebagai pengelola.

Dukungan itu merupakan bentuk komitmen BUMN pada pengembangan pariwisata sebagai salah satu sektor prioritas pendorong ekonomi yang sejalan dengan kebijakan pemerintah. Dukungan itu diharapkan mampu mendorong pengelolaan kampung ekowisata dan pemberdayaan masyarakat adat di Rhepang Muaif menuju kampung wisata percontohan dalam kawasan hutan adat yang pertama di Jayapura dan di Papua.

Rizal Malik, CEO WWF Indonesia, mengatakan pengembangan ekowisata diharapkan dapat memberi manfaat langsung bagi masyarakat adat di Rhepang Muaif. “WWF Indonesia mengapresiasi dukungan BUMN, karena melalui inisiatif ekowisata, masyarakat dan pemerintah setempat berkomitmen untuk melindungi sumber daya alam khususnya satwa burung, agar terus lestari karena burung-burung tersebut adalah aset daerah yang akan bernilai jangka panjang bila dilestarikan,” katanya.

Dinas Kehutanan Provinsi Papua, bersama pemilik hak ulayat dan  WWF Indonesia Program Papua, melakukan pemancangan 8 pal batas permanen untuk lokasi yang diusulkan menjadi wilayah kelola hutan adat Yawadatum wilayah Grime Kabupaten Jayapura Provinsi Papua, seluas 19.000 ha untuk pengelolaan ekowisata pemantauan burung Rhepang Muaif.

Bagi pemerintah Kabupaten Jayapura, kegiatan ekowisata memberikan ruang bagi masyarakat adat untuk mengelola hutannya dan memberikan kesejahteraan serta manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat. Guna mendukung upaya tersebut, WWF Indonesia melalui Program Community Forestry bekerja sama dengan Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup Kabupaten Jayapura melakukan pendampingan bagi kelompok Isio dalam pengelolaan ekowisata pemantauan burung. Pengelolaan kawasan itu penting dalam mewujudkan pengelolaan hutan oleh masyarakat adat secara berkelanjutan.  

Editor : Sotyati

Kampus Maranatha
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home