Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 11:55 WIB | Selasa, 14 Januari 2020

California Paksa Siswa SMA Matikan Ponsel

Para remaja lebih banyak menggunakan waktunya untuk melihat ponsel pintarnya. (Foto: voaindoesia.com)

CALIFORNIA, SATUHARAPAN.COM – Sebuah SMA di California memaksa siswa untuk meletakkan telepon seluler di tas khusus yang dikunci, dan hanya dapat dibuka dengan peranti khusus. Hal ini untuk menghindari gangguan dan meningkatkan pembelajaran di sekolah.

Di SMA Silicon Valley itu, guru-guru mengunci telepon seluler siswa. Guru Prancis Joanne Sablich di SMA San Mateo mengatakan, “Melihat telepon seluler dan mengirim pesan teks, mengecek media sosial.. Saya akan menyita telepon itu berulang kali.”

Ketua OSIS SMA San Mateo Michael Picchi mengatakan, “Orang-orang hanya bermain Fortnite di telepon seluler mereka, di atas meja, ketika pelajaran di kelas sedang berlangsung,” seperti dilansir voaindonesia.com, pada Selasa (14/1).

Wakil Kepala Sekolah SMA San Mateo Adam Gelb mengatakan, “Kami melihat sebagian siswa menghabiskan waktu 11 hingga 12 jam sehari hanya untuk telepon.”

Setiap siswa kini harus menyimpan telepon seluler mereka di tas kecil yang dilengkapi kunci magnetik.

“Pin ini masuk di sini, dan ini akan terkunci sepanjang hari. Ketika sekolah berakhir, para siswa dapat mengambil kembali telepon mereka dengan mengetuk kantung ini,’’ kata Adam.

Tas itu disebut ‘’Yondr Pouch’’. Yondr digunakan saat konser dan tempat-tempat seni, agar orang tidak menggunakan telepon, tetapi kini digunakan di banyak sekolah di Amerika dan Eropa.

‘’Para siswa sangat sibuk tahun ini. Alih-alih mereka hanya menggunakan telepon untuk selfie atau melihat-lihat ponsel,’’ kata Joannes.

Tetapi sebagian siswa tidak suka dengan penyitaan telepon seluler mereka.

“Orang meletakkan barang di jarum, mereka akan mematahkan jarum. Mereka bahkan membeli magnet di internet supaya dapat membuka kunci tas ini,” kata Lana.

Sekolah memiliki konselor yang dapat mendukung mereka yang stres tanpa telepon seluler mereka.

“Lebih sulit untuk keluar dari masalah dan kecemasan, serta depresi, ketika kami tidak memiliki telepon,” katanya.

Kekhawatiran atas ketergantungan pada telepon seluler ini, memotivasi CEO Yondr yang juga mantan pemain pro-sepakbola, Graham Dugoni, untuk menciptakan Yondr.

“Orang-orang umumnya melihat dunia lewat layar selama 8-10 jam per hari. Menjadi semakin jelas bahwa gagasan menciptakan ruang yang bebas peranti ini di setiap bentuk perkotaan modern merupakan sesuatu yang harus terjadi dan akan sangat membantu,’’ kata Graham.

Biaya untuk menyewa peranti ini sekitar 20.000 dolar AS (Rp 272 juta) per tahun, atau 12 dolar AS (Rp 163.000) per siswa, yang menurut Adam Gelb sejauh ini sangat bermanfaat.

“Sulit membayangkan ruang kelas yang masih memiliki telepon seluler saat ini,” kata Adam.

Manfaat terbesar yang mereka harapkan segera terwujud adalah peningkatan nilai begitu rapor dibagikan dalam waktu dekat ini.

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home