Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 13:11 WIB | Jumat, 25 November 2016

Cegah Banjir dan Longsor dengan Tanam Bambu

Ilustrasi: Bambu cegah banjir dan longsor, tradisi kearifan lokal yang harus dilestarikan. (Foto: thetreecenter.com)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Bencana banjir dan longsor yang kerap terjadi di Indonesia disinyalir akibat dari kurang stabilnya tanah. “Metode betonisasi yang kerap digunakan ternyata tidak cukup efektif untuk stabilisasi tanah, padahal bambu dapat sangat efektif membuat susunan yang kuat mencegah longsor dan menyerap air bila dipasang sekitar daerah aliran sungai (DAS) saat banjir,” kata Iskandar Zulkarnain, Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di sela-sela peluncuran "Policy Brief: Penanaman Bambu Solusi Penanggulangan Banjir dan Longsor serta Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat" pada Rabu (23/11) di LIPI, Jakarta, seperti dilansir situs lipi.go.id.

Iskandar, yang juga peneliti geologi, mengungkapkan, masyarakat tradisional dari dulu telah memanfaatkan bambu untuk perlengkapan dan pekerjaan penambangan bawah tanah. “Mereka sudah memanfaatkan bambu yang tahan terhadap kelembaban tanah, juga sebagai warning system apabila ada kelebihan beban dari tanah terowongan yang disangganya. Masyarakat yang berada di daerah-daerah rawan longsor perlu kembali memanfaatkan kearifan lokal tersebut,” katanya. 

Menurut Enny Sudarmonowati, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) LIPI, batang bambu juga dapat mengisap air, karena bersifat kapiler dan mampu menampung air sehingga pada musim kemarau dapat dialirkan ke bawah tanah dan timbul mata air. “Bambu memiliki akar serabut yang dapat mengikat permukaan tanah sehingga bisa mengurangi ancaman erosi tanah,” katanya.

Elizabeth A Widjaja, Peneliti Pusat Penelitian Biologi-LIPI, mengatakan tanaman bambu memiliki sejumlah manfaat. “Selain mengurangi banjir dan longsor serta konservasi air, bambu juga ternyata bernilai ekonomi untuk masyarakat setempat karena bisa untuk bahan dasar industri,” kata Elizabeth.

Sayangnya, kata Elizabeth, hingga saat ini belum ada standardisasi bibit untuk bambu, sehingga dikhawatirkan tidak optimal dimanfaatkan masyarakat. “Standardisasi bibit bambu sangat perlu dilakukan, sesuai keadaan tanah dan lingkungan untuk dapat dipakai industri yang sesuai,” katanya.

Ia berharap, penanaman bambu dapat serentak dilakukan di seluruh Indonesia dan standardisasi bibit bisa segera diterapkan. 

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home