Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 04:32 WIB | Sabtu, 02 November 2019

Demonstran Kecam Keterlibatan Iran di Irak

Ulama besar Syiah Irak, Ayatollah Ali al-Sistani. (Foto: ist)

BAGHDAD, SATUHARAPAN.COM-Massa demonstrasi anti pemerintah di Irak mengritik keras keterlibatan Iran dalam urusan negara itu, selain mereka mengeluhkan tentang kemerosotan ekonomi, korupsi, pengangguran dan layanan publik yang buruk.

Banyak pengunjuk rasa mengarahkan kemarahan mereka ke Iran, yang muncul sebagai pialang kekuasaan di Irak setelah penggulingan Saddam Hussein. Iran diketahui memiliki hubungan dekat dengan partai-partai politik yang kuat di sana, menurut laporan Al Arabiya.

Iran juga diketahui memberikan dukungan pada milisi yang dimobilisasi untuk memerangi kelompok Negara Islam (ISIS), namun di antara mereka sekarang telah menjadi politis yang mengendalikan faksi-faksi di sana.

Ulama besar Syiah Irak, Ayatollah Ali al-Sistani, hari Jumat (1/11) juga memperingatkan para aktor asing agar tidak ikut campur dalam protes anti-pemerintah yang meletus awal bulan lalu dan mendesak faksi politik untuk menghindari "pertikaian."

"Tidak ada orang atau kelompok, tidak ada pihak dengan pandangan tertentu, tidak ada aktor regional atau internasional dapat merebut kehendak rakyat Irak dan memaksakan kehendaknya pada mereka," kata al-Sistani dalam khotbah mingguannya yang dikutip AFP.

Pernyataannya itu muncul setelah komentar dari pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada hari Rabu di mana dia mendesak para pemrotes di Irak dan Lebanon untuk menyampaikan tuntutan melalui "kerangka hukum."

Irak memiliki hubungan dekat tapi rumit dengan negara tetangganya Iran. Sedangkan dengan Lebanon, Iran adalah pendukung kelompok Hizbullah dan Amal Syiah, yang tampaknya terdesak oleh tuntutan rakyat di sana.

Sejak demonstrasi digelar awal Oktober di Irak yang menentang korupsi dan pengangguran, para demonstran dan kelompok yang menolak protes, saling menuduh bahwa mereka didukung oleh aktor-aktor dari luar.

Al-Sistani dalam pernyataannya mengecam kekerasan dan mengatakan Irak tidak boleh diseret ke "jurang pertikaian." Dia mendesak baik pengunjuk rasa dan pasukan keamanan untuk mengendalikan diri.

Para pengunjuk rasa membakar beberapa kantor milik partai politik Syiah dan kelompok milisi Syiah di Provinsi Muthanna, Irak selatan, hari Jumat, kata sumber-sumber kepolisian. Pasukan keamanan berusaha menghalau para demonstran dengan gas air mata.

Di Baghdad, massa protes terkonsentrasi di Lapangan Tahrir. Hampir 200.000 orang berkumpul di sana dijaga ketat aparat keamanan yang melindungi Zona Hijau, kawasan pusat pemerintahan dan kantor diplomat asing.

Para pengunjuk rasa menuntut perubahan pada sistem politik yang dibangun setelah invasi pimpinan Amerika Serikat 2003 untuk menggulingkan Sadam Hussein. Mereka memprotes korupsi yang meluas di pemerintahan, angka pengangguran yang tinggi, dan layanan publik yang buruk.

Setidaknya 255 orang telah tewas, dan belasan ribu orang terluka dalam dua gelombang besar protes sejak awal Oktober. Pada hari Jumat (1/11), setidaknya lima orang tewas, dan sekitar 350 orang terluka ketika pasukan keamanan menembakkan gas air mata dan peluru karet ke ara demonstran.

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home