Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Sabar Subekti 12:16 WIB | Kamis, 04 Maret 2021

Dianggap Punah Selama 172 Tahun, Burung Pelanduk Kalimantan Ditemukan Kembali

Burung Pelanduk Kalimantan (Malacocincla perspicillata) ditemukan kembali setelah 172 tahun dianggap punah. (Foto: Muhammad Rizky Fauzan via Kemen LHK)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM-Satwa endemik Burung Pelanduk Kalimantan (Malacocincla perspicillata) yang diduga mengalami kepunahan sejak tahun 1848 atau 172 tahun yang lalu, kembali ditemukan. Burung ini kembali dijumpai di Pulau Kalimantan tepatnya di Provinsi Kalimantan Selatan.

Burung itu ditemukan tidak dengan sengaja oleh dua orang penduduk lokal di salah satu wilayah di Kalimantan Selatan. Salah satu dari mereka merupakan anggota dari grup sosial media bernama Galeatus yang membahas seluk beluk burung.

Setelah berdiskusi dan ditelaah oleh tim admin, mereka kemudian menghubungi ahli burung dari Birdpacker untuk mencari informasi lebih lanjut terkait temuan tersebut.

"Terdapat perbedaan mencolok pada anatomi burung yang ditemukan dengan literatur yang ada saat ini, termasuk warna iris mata, paruh dan warna kaki. Itulah yang membuat identifikasi mengalami kesulitan saat pertama kali melihat morfologi burung ini," kata Teguh Willy Nugroho yang juga salah satu penulis makalah mengenai burung ini. Dia adalah Pejabat Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Pertama, Balai Taman Nasional (TN) Sebangau.

Burung pelanduk Kalimantan termasuk penyanyi yang tergolong dalam keluarga Pellorneidae. Sebelumnya, spesies ini diklasifikasikan Rentan oleh IUCN. Pada tahun 2008, status burung ini berubah menjadi “Kurang Data” berdasarkan penelitian terbaru yang menunjukkan kurangnya informasi yang dapat dipercaya.

Dalam Peraturan Menteri LHK Nomor P.106 tahun 2018, burung ini belum masuk ke dalam satwa yang dilindungi. Burung Pelanduk Kalimantan tersebar di daerah hutan tropis dataran rendah Kalimantan.

Kurang Data

Teguh menegaskan, temuan ini juga membuktikan bahwa keanekaragaman hayati Indonesia masihbanyak yang ada pada bagian-bagian terdalam hutan. Menurut dia, pada situasi pandemi COVID-19 ini, sangat penting membangun jaringan antara masyarakat lokal, peneliti pemula, peneliti profesional, serta berbagai pihak untuk dapat mengumpulkan informasi tentang keanekaragaman hayati di Indonesia, terutama spesies penting yang memiliki sedikit data. “Jejaring ini dapat berdampak besar bagi kelestarian satwa di Indonesia,” kata Teguh.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Wiratno, pada saat Media Briefing melalui telekonferensi hari Selasa (2/3) menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para citizen science yaitu masyarakat yang bukan peneliti namun sukarela mengumpulkan dan menganalisa data ilmiah.

Wiratno menyebutkan bahwa satwa liar akan sejahtera sepenuhnya apabila hidup di alam habitatnya, hal ini juga menegaskan bahwa pihaknya sangat memerangi perburuan ilegal satwa liar yang dilindungi.

Semenmtara itu, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, pada Direktorat Jenderal KSDAE, Indra Eksploitasia, juga menyampaikan apresiasinya kepada masyarakat di lapangan yang telah menemukan Burung  Pelanduk Kalimantan dan telah memasukkannya ke jurnal ilmiah dan mengharumkan nama Bangsa Indonesia.

Menurut Teguh, Burung Pelanduk Kalimantan yang ditemukan sesuai dengan yang digambarkan oleh ahli ornitologi Prancis, Charles Lucien Bonaparte, pada tahun 1850, berdasarkan spesimen yang dikumpulkan pada tahun 1840-an oleh ahli geologi dan naturalis Jerman, Carl A.L.M. Schwaner selama ekspedisinya ke Kalimantan.

Sejak saat itu, tidak ada spesimen atau penampakan lain yang dilaporkan. Selain itu, asal muasal spesimen juga masih menjadi misteri, bahkan pulau di mana spesimen tersebut diambil juga tidak jelas.

 Asumsi awal bahwa spesimen tersebut diambil di Pulau Jawa, pada tahun 1895 yang menurut ahli ornitologi Swiss, Johann Büttikofer, menunjukkan bahwa waktu itu Schwaner berada di Pulau Kalimantan.

Spesimen inilah kemudian menjadi spesimen satu-satunya di dunia sehingga semua rujukan dan deskripsi morfologi burung mengacu kepada satu spesimen ini.

Editor : Sabar Subekti

Kampus Maranatha
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home