Loading...
INSPIRASI
Penulis: Endang Hoyaranda 08:41 WIB | Senin, 19 Maret 2018

EQ di Atas IQ

IQ gets you hired, EQ gets you promoted
Foto: istimewa

SATUHARAPAN.COM – Cerita tentang orang yang brilian dan  terampil, yang dipromosikan ke posisi pimpinan, namun gagal menunjukkan kinerja yang diharapkan, bukan sekali dua kali kita dengar.  Di tempat lain, ada pula cerita mengenai seorang yang cukup cerdas namun tidak istimewa, memiliki keterampilan yang memadai namun juga tak istimewa, yang dipromosikan di posisi yang sama dan berhasil dengan cemerlang.

Anekdot demikian mendukung keyakinan banyak orang bahwa kepemimpinan bukan semata tergantung pada kecerdasan. Pada 1990-an, mulai berkembang pandangan bahwa kematangan emosi lebih berperan dibanding hanya kecerdasan. Daniel Goleman kemudian menulis buku dan sejumlah publikasi mengenai pentingnya kecerdasan emosi khususnya dalam pekerjaan. Peyakinan akan pentingnya EQ kemudian berkembang terus, bahkan hingga saat ini, dan Goleman dikenal sebagai ”Guru” dalam kecerdasan emosi.

Dalam salah satu tulisannya yang dimuat di Harvard Business Review tahun 1996  yang hingga sekarang masih dicetak ulang karena dinilai tetap relevan, ia menyatakan bahwa semua pemimpin yang efektif memiliki kecerdasan emosi, disingkat EQ, kependekan dari Emotional Quotient, yang tinggi. IQ tetap penting, namun jika harus memilih antara IQ atau EQ maka EQ menempati posisi teratas. Pemimpin dengan EQ tinggi bisa melebihi kinerja pemimpin ber IQ tinggi sebesar 20%.

Ada 5 keterampilan utama dalam EQ yang ditunjukkan pemimpin yang efektif:

Pertama adalah kesadaran akan kelebihan dan kelemahan diri sendiri, dalam istilah Goleman disebut sebagai self-awareness. Menyadari bahwa tenggat yang ketat akan menyebabkan tekanan besar, maka  pimpinan dengan EQ tinggi akan merancang jadwalnya jauh hari agar terhindar dari tekanan. Mengenal diri sendiri juga berarti mengenal nilai yang penting diperjuangkan dalam hidup, mengenal hal apa yang akan memacu semangat atau merusak gairah.

Kedua adalah apa yang disebut oleh Goleman sebagai self-regulation, yaitu kemampuan untuk mengendalikan dan mengarahkan emosi dan impuls yang disruptif. Misalnya mengendalikan kemarahan ketika seorang bawahan melanggar tenggat karena ketidakseriusan.

Ketiga adalah motivasi. Seorang pemimpin dengan EQ tinggi, tidak tergantung pada faktor luar untuk menumbuhkan motivasi internalnya. Jika  gagal, seorang pemimpin dengan EQ tinggi  tak akan mencari kesalahan orang lain ataupun bawahannya sebagai penyebab kegagalannya. Ia akan mencari penyebab kesalahan dan mencari jalan untuk mengkoreksinya.

Keempat adalah empati.  Seorang pemimpin yang memiliki empati akan mempertimbangkan perasaan orang lain ketika mengambil keputusan. Pemimpin dengan EQ tinggi memiliki kemampuan membaca bahasa tubuh, bisa memahami harapan orang lain, dan berusaha mengarahkan harapan orang lain dengan tujuan besar yang ingin dicapainya.

Kelima dan terakhir adalah keterampilan sosial.  Dalam hampir semua pelatihan kepemimpinan didengungkan bahwa pemimpin bekerja melalui tangan orang lain. Pemimpin yang cerdas belum tentu dapat menggerakkan tangan orang lain. Tetapi pemimpin dengan EQ yang tinggi bisa membuat orang lain bekerja dengan semangat hanya atas pengarahan pimpinannya. Pemimpin model demikian, selalu menunjukkan efektivitas dalam memimpin sebuah tim, mampu memersuasi orang, memiliki keterampilan membangun jejaring, dan efektif dalam menggiring perubahan.

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home