Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 09:35 WIB | Kamis, 26 November 2020

Ethiopia Tolak Seruan Dialog dan Hentikan Pertempuran

Ethiopia klaim “hancurkan” 10.000 pasukan Tigray.
Seorang anggota Pasukan Khusus Amhara berpatroli di sebuah jalan di desa Soroka di wilayah Amhara dekat perbatasan dengan Tigray, Ethiopia, pada 9 November 2020. (Foto: dok. Reuters)

ADIS ABABA, SATUHARAPAN.COM-Sebuah kantor berita di wilayah Amhara Ethiopia mengatakan pada hari Rabu (25/11) bahwa lebih dari 10.000 tentara Tigrayan telah "dihancurkan" selama konflik tiga pekan yang berkecamuk di pegunungan utara.

Laporan oleh kantor berita, AMMA yang dikelola pemerintah daerah di Amhara, di mana pihak berwenang mendukung pasukan federal Perdana Menteri Abiy Ahmed, tidak dapat diverifikasi, dan juga tidak ada tanggapan langsung dari Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF).

Koneksi telepon dan internet ke Tigray terputus dan akses ke area tersebut dikontrol dengan ketat, yang berarti pernyataan semua pihak sulit untuk diverifikasi, menurut Reuters.

Tolak Seruan Internasional

Abiy Ahmed menolak konsensus internasional untuk dialog dan menghentikan pertempuran di wilayah Tigray, dan menyebut itu sebagai "campur tangan" urusan dalam negeri. Dia mengatakan negaranya akan menangani konflik itu sendiri karena ultimatum penyerahan 72 jam sudah habis.

Ethiopia "menghargai keprihatinan yang bermaksud baik dari teman-teman kita," pernyataan dari kantor Perdana Menteri Abiy Ahmed hari Rabu, tak lama sebelum akhir ultimatumnya bagi para pemimpin regional Tigray untuk menyerah. Tapi "kami menolak campur tangan apa pun dalam urusan internal kami."

“Komunitas internasional harus bersiap sampai pemerintah Ethiopia mengajukan permintaan bantuannya kepada komunitas bangsa-bangsa,” tambah pernyataan itu dikutip AP. "Kami dengan hormat mendesak komunitas internasional untuk menahan diri dari tindakan campur tangan yang tidak diinginkan dan melanggar hukum."

Abiy, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian tahun lalu, bersikeras menyebut konflik sebagai "operasi penegakan hukum" sementara tank mengepung ibu kota Tigray, Mekele, dalam upaya terakhir untuk menangkap para pemimpin Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF).

Pemerintah Abiy telah memperingatkan setengah juta penduduk kota untuk menjauh dari para pemimpin TPLF atau "tidak akan ada belas kasihan," bahasa yang telah diperingatkan oleh kepala hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-bangsa dan lainnya dapat menyebabkan "pelanggaran lebih lanjut terhadap hukum humaniter internasional."

Komunikasi tetap hampir sepenuhnya terputus ke wilayah Tigray yang berpenduduk sekitar enam juta orang, mempersulit upaya untuk memverifikasi klaim pihak yang bertikai. Dalam situasi tersebut, tidak jelas berapa banyak orang di Mekele yang mengetahui peringatan dan ancaman tembakan artileri dalam beberapa jam mendatang.

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home