Loading...
BUDAYA
Penulis: Dewasasri M Wardani 09:37 WIB | Jumat, 28 September 2018

Festival Pesta Ulat Sagu Upaya Jaga Hutan

Ilustrasi. Mama Suku Kombay menyiapkan Bungkusan Ulat Sagu dalam Festival Pesta Ulat Sagu di Kampung Uni, Distrik Bomakia, Kabupaten Boven Digoel, Papua, Rabu (26/9/2018). Festival Pesta Ulat Sagu yang digelar Masyarakat Adat Kombay bersama Perkumpulan Silva Papua Lestari menjadi festival ulat sagu pertama di Papua. (Foto: Antaranews.com//Virna P Setyorini).

MERAUKE, SATUHARAPAN.COM – Masyarakat Hukum Adat (MHA) Kombay menggelar ritual besar Festival Pesta Ulat Sagu atau Yame, yang melibatkan ratusan orang dari komunitas di dalam dan luar masyarakat adat  sebagai rasa syukur, sekaligus melindungi hutan.

Tuan pesta Festival Pesta Ulat Sagu, Yambumo Kwanimba, di Kampung Uni, Distrik Bomakia, Merauke, Papua, Kamis (27/9) mengatakan, tujuan festival ini untuk melindungi hutan mereka dari masuknya perusahaan ke wilayah masyarakat adat Kombay.

"Supaya hutan kami tidak hancur, karena hutan kami termasuk kecil. Harapannya festival ini berlanjut tahun berikutnya, karenanya hutannya tetap harus ada, supaya tanaman sagu tetap ada," kata Yambumo.

Pesta Ulat Sagu, menurut dia, pada awalnya sebenarnya sebuah ritual tidak hanya untuk rasa syukur kepada Tuhan, leluhur, alam semesta, sesama, dan melindungi hutan, tetapi juga menjaga perdamaian.

Direktur Perkumpulan Silva Papua Lestari (PSPL), Kristian Ari, di Distrik Bomakia, Kabupaten Boven Digoel, Papua, mengatakan Yame memiliki pesan moral kerja sama dan solidaritas persaudaraan yang tinggi.

Pesta ulat sagu, menurut dia, sesungguhnya merupakan ritual adat rutin yang dilakukan MHA Kombay. Namun, kali ini mereka menggelarnya dalam skala festival, yang melibatkan banyak masyarakat adat dari berbagai kampung atau marga.

Dengan festival ini, lanjutnya, sekaligus ingin mengajak semua, baik legislatif, yudikatif, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan media, membantu mereka untuk mendapatkan hak pengelolaan hutan adat.

Hal yang masih menjadi kendala berat, dalam upaya pengajuan Perhutanan Sosial untuk Hutan Adat bagi MHA Kombay maupun MHA lain di Papua adalah belum adanya Perda-Perda Pengakuan Masyarakat Hukum Adat, kata Kristian.

Sebelumnya Kepala Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Papua, John Way mengatakan Festival Pesta Ulat Sagu ini termasuk sebagai ajang wisata. Jika dikembangkan lebih lanjut lagi ini bisa menjadi ekowisata di Papua. (Antaranews.com)

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home