Loading...
INDONESIA
Penulis: Melki Pangaribuan 16:15 WIB | Selasa, 27 Oktober 2020

FKUB Sulteng - TNI Cegah Paham Radikal Saat Pandemi COVID-19

Danrem 132 Tadulako Brigadir Jenderal Farid Makruf dari Korem 132 Tadulako Palu bersilaturahim dengan Prof Dr KH Zainal Abidin MAg yang merupakan Ketua FKUB Sulteng sekaligus Ketua MUI Palu, di kediaman Prof Dr KH Zainal Abidin, di Palu, Senin malam (25/10). (Foto: ANTARA)

PALU, SATUHARAPAN.COM - Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sulawesi Tengah siap membantu TNI dalam pencegahan tumbuh dan berkembangnya paham intoleransi, radikalisme, dan terorisme di Sulteng, saat adanya penyebaran virus corona jenis baru (COVID-19).

"Salah satu strategi pencegahan yang dibangun oleh FKUB Sulteng yakni memaksimalkan moderasi beragama kepada umat beragama," ucap Ketua FKUB Sulteng, Prof Dr KH Zainal Abidin MAg, di Palu, Selasa (27/10).

Prof Zainal Abidin mengaku telah membahas upaya pencegahan paham intoleransi, radikalisme, dan terorisme bersama Danrem 132 Tadulako Brigadir Jenderal Farid Makruf, saat Barigjen Farik Makruf bersilaturahmi dengan dirinya di kediamannya, di Palu, Senin (25/10) malam.

Prof Zainal Abidin yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu menyebut bahwa, salah satu cara untuk menangkal atau mencegah tumbuh dan berkembangnya intoleransi, radikalisme dan terorisme yakni perlu penguatan dan pemaksimalan moderasi beragama.

Moderasi beragama, menurut dia, perlu diawali dengan peningkatan kapasitas dan sumber daya manusia umat beragama dalam memahami agama-agama yang ada.

"Dari pemahaman moderasi beragama itu kemudian diharapkan bisa tumbuh satu sikap toleransi yang menghargai dan menjunjung tinggi keyakinan umat beragama lainnya," katanya.

Dengan peningkatan kapasitas dan SDM, Guru Besar Pemikiran Islam Modern IAIN Palu itu mengemukakan, maka umat beragama akan memiliki cara pandang keagamaan yang luas dalam kehidupan sosial keagamaan.

"Dengan pemahaman yang luas, kita harapkan tidak ada lagi umat beragama yang saling menyalahkan, saling mengkafirkan, saling menghina dan menjelekkan," sebutnya.

Penanaman moderasi beragama, kata dia, hal dilakukan secara maksimal melibatkan para penceramah, akademisi, yang menyampaikan hal itu tidak hanya secara offline. Tetapi juga perlu secara online.

"Kita tahu bersama bahwa pengaruh penyebaran paham intoleransi, radikalisme dan terorisme sangat gencar lewat media sosial. Maka dalam rangka mencegah paham-paham tersebut, perlu penanaman moderasi beragama dilakukan juga lewat media sosial," katanya.

Hal itu agar umat beragama utamanya generasi muda, tidak mudah terpengaruh dengan faham-faham intoleran, radikalisme dan terorisme lewat media sosial. (Antara)

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home