Loading...
PARENTING
Penulis: Agus Gunawan 09:35 WIB | Jumat, 04 Juni 2021

Hati-Hati dengan “Empty Nest Syndrome”

(Foto ilustrasi: dok. Ist)

SATUHARAPAN.COM-Menjadi Tua pasti terjadi pada setiap manusia. Tidak ada seorang pun yang mampu menolaknya. Ketika kita melihat tanda-tanda di wajah kita, tentu kita merasa bahwa kita tidak sama lagi secara fisik dibanding saat muda dulu.

Agus Gunawan

 

Ketika memasuki usia lanjut, kita mesti berhati-hati, sebab ada syndrome yang menyerang di masa itu yaitu empty nest syndrome atau dikenal dengan sindrom sarang kosong. Sindrom ini bisa membuat karakter kita berubah. Kita tidak bisa bersuka cita karena perasaan yang kita bangun sendiri dalam diri kita.

Apakah yang dimaksud sindrom sarang kosong (empty nest Syndrome)? Empty Nest Syndrome adalah sebuah perasaan kesepian yang begitu mendalam akibat dari situasi kehilangan; biasanya ketika pasangan hidup kita meninggal; kakak atau adik yang tinggal serumah berpulang atau ketika anak-anak sudah besar, dan mereka mulai sibuk dengan diri mereka masing-masing (kuliah, kerja atau menikah).

Kesedihan pada sindrom sarang kosong sering tidak dikenali, karena seorang anak yang sudah dewasa pindah dari rumah dapat dilihat sebagai peristiwa yang normal. Namun, perasaan sedih atau kehilangan ini perlu mendapat perhatian bila keadaan ini berlangsung lama sampai menimbulkan stress dan bahkan pada beberapa orang sampai membuatnya depresi.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mendeteksi apakah kita mengalami empty nest syndrome adalah:

  • Ketika muncul perasaan seperti merasa dirinya sudah tidak bermanfaat lagi dan hidupnya telah berakhir,
  • Ketika kita sering menangis secara berlebihan dalam kesepian atau kesendirian,
  • Ketika kita merasa begitu sedih, sehingga tidak mau lagi bergaul dengan teman-
  • teman atau bekerja kembali (tidak mau melakukan apa-apa),
  • Banyak mengeluh (biasanya untuk mencari perhatian),
  • Pura-pura sakit supaya ditengok,
  • Ketus menjawab telepon dari anak,
  • Mengalami psikosomatis.

Penting bagi kita melawan sindrom sarang kosong ini dengan cara tetap semangat dan berpikir secara positif. Firman TUHAN hari ini mengajak kita belajar dari tokoh Kaleb yang berusia sudah 85 tahun tapi semangatnya yang masih sama dengan 45 tahun lalu ketika Musa mengucapkan firman TUHAN kepadanya.

Apa yang bisa kita pelajari dari semangat Kaleb tersebut? Pertama, Kaleb percaya TUHAN telah memelihara hidupnya, seperti yang dijanjikan-Nya. Kedua, Kaleb memiliki pemikiran yang positif karena bukti penyertaan TUHAN yang ia yakini, maka ia bisa berkata, ”Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya.

Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini; pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk.”

Salah satu cara melawan sindrom sarang kosong adalah dengan percaya bahwa penyertaan Allah tetap hadir bahkan ketika kita merasa sendiri dan kesepian. Allah selalu menyertai dan memberkati kita. Dengan demikian, kita membangun pemikiran yang positif dan bertumbuh.

Kita mesti merelakan kekasih kita yang berpulang lebih dahulu atau bersukacita ketika anak-anak kita mulai membangun keluarga mereka sendiri. Meskipun memasuki usia senja, kita mesti tetap memiliki hati yang gembira (Amsal 17:22). Kalau kita tidak bergembira, maka seluruh tubuh kita akan menjadi lemah dan secara psikis akan mengganggu psikologis kita.

Mari, kita belajar seperti Kaleb, kita percaya meskipun hari ini kita sendiri, kita masih memiliki semangat. Ada banyak kegiatan yang bisa kita lakukan beberapa di antaranya adalah:

  • Membaca Alkitab secara rutin pagi dan malam hari,
  • Mengikuti acara-acara gereja melalui tayangan Youtube,
  • Membaca buku-buku atau majalah untuk melatih otak kita agar tidak cepat lupa,
  • Menghubungi teman, saudara, anak dan cucu secara rutin untuk bertanya kabar dan berbincang sejenak
  • Berolah raga rutin setiap pagi dan sore,
  • Melakukan kegiatan keseharian yang bermanfaat misalnya mencoba masakan baru atau membuat kue-kue kering,
  • Membuat tulisan dan mengirimkan tulisan ke media sosial untuk berbagi cerita,
  • Bercakap-cakap dengan tetangga di sebelah ruman (sambil tetap menjaga protocol kesehatan),
  • Mengkonsumsi makanan yang bergizi untuk menjaga tubuh tetap sehat,
  • Mengerjakan hobi-hobi yang disukai seperti berkebun, menyulam, bermain catur atau permainan game di handphone.

Menjadi tua, tidak masalah! Kita akan memasukinya dengan sukacita dengan hati yang gembira, tubuh yang sehat dan juga pikiran yang positif. Ada Tuhan yang selalu menjaga kita.

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home