Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 15:09 WIB | Selasa, 24 Juni 2014

Indonesia Kekurangan 1,3 Juta Kantong Darah per Tahun

Seorang petugas menyimpan kantong darah yang telah selesai diproses di lemari penyimpanan di Laboratorium Unit Donor Darah (UDD) PMI Banyumas, Jateng (Foto: antaranews.com)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM  - Indonesia masih kekurangan sekitar 1,3 juta kantong darah per tahun. Tingkat kebutuhan mencapai 4,8 juta kantong, dan baru terpenuhi 3,5 juta kantong darah.

"Kondisi saat ini, kebutuhan (darah) itu meningkat satu persen seluruh dunia, sementara ketersediaan turun satu persen. Ini akan terjadi diskrepensi. Efeknya adalah ada manusia di dunia yang tidak memiliki akses dan mati sia-sia," kata Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi Prof Dr dr Agus Purwadianto, SH, MSi, SpF(K) pada seminar untuk memperingati Hari Donor Darah Sedunia di Jakarta, Selasa (24/6).

Ibu hamil dan melahirkan, termasuk salah satu kelompok yang mengalami kerugian dari kekurangan kantong darah tersebut, di mana lebih dari sepertiga dari penyebab kematian ibu melahirkan adalah pendarahan.

Angka Kematian Ibu (AKI) juga masih cukup tinggi, yaitu 359 per 100.000 kelahiran (SDKI 2012), di mana di tahun yang sama data Ditjen Gizi dan KIA Kementerian Kesehatan menunjukkan penyebab kematian ibu melahirkan 35 persen adalah akibat pendarahan.

Permasalahan lain muncul, karena ketersediaan darah saat ini tidak seluruhnya berasal dari donor sukarela, melainkan di beberapa daerah juga didominasi oleh donor pengganti dari keluarga pasien.

"Ini masih harus ditumbuhkan kesadaran kesana (menjadi donor sukarela). Kita ingin evaluasi semua regulasi dan insentif, kita inginkan pendonor sukarela diberi penghargaan," kata Agus.

Meski demikian, Agus juga menegaskan, kebijakan memberikan transfusi juga harus ditinjau ulang agar dapat diberikan seperlunya, tidak berlebihan.

Sebelumnya, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan negara anggotanya untuk memfokuskan Hari Donor Darah Sedunia 2014, pada ketersediaan kantong darah untuk membantu ibu melahirkan, karena transfusi darah adalah salah satu kunci penyelamatan nyawa pada penanganan komplikasi terkait kehamilan.

"Pemerintah perlu memastikan tersedianya darah, dan produk darah yang cukup dan aman dari berbagai kuman penyakit seperti HIV, hepatitis, sifilis, dan malaria. Kita memerlukan lebih banyak sukarelawan yang mau mendonorkan darah, serta memastikan keamanan darah selama transfusi," kata Direktur Regional World Health Organization (WHO) untuk kawasan Asia Tenggara,  Dr Khetrapal Singh beberapa waktu lalu.

Di dunia, diperkirakan 800 ibu meninggal setiap hari selama kehamilan, saat melahirkan dan sesaat setelah melahirkan dengan 99 persen di antaranya tinggal di negara berkembang. (Ant)

 

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home