Loading...
SAINS
Penulis: Reporter Satuharapan 08:45 WIB | Kamis, 24 November 2016

Indonesia Kekurangan Tenaga Informasi Geospasial

Ilustrasi: Sosialisasi peran penting Badan Informasi Geospasial melalui pameran, seperti pameran di ajang Pertemuan Ilmiah Tahunan Masyarakat Ahli Penginderaan Jauh Indonesia XIX di Makassar 2012. (Foto: bakosurtanal.go.id)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Indonesia saat ini masih kekurangan tenaga di bidang informasi geospasial (IG), tidak hanya dari sisi kuantitas namun juga sisi kualitas. Distribusinya juga masih minim.

Kepala Bidang Pengembangan SDM dan Industri Informasi Geospasial, Badan Informasi Geospasial (BIG), Dr Sumaryono, mengemukakan, saat ini tenaga informasi geospasial  yang dibutuhkan mencapai 33.414 orang, namun sumber daya yang tersedia hanya 11.084 orang. “Diprediksi jumlah kebutuhan tenaga IG tahun 2024 mencapai 40.743 orang,” kata Sumaryono dalam sosialisasi Standar kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) bidang Informasi Geospasial di Ruang Auditorium Merapi, Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Rabu (23/11).

Ia menambahkan, beberapa bidang keahlian yang dibutuhkan dalam IGM meliputi penginderaan jauh, fotogrametri, sistem informasi geografi, survei kewilayahan, dan kartografi.

Dari sisi kualitas dan kompetensi tenaga suveyor IG yang ada saat ini, menurut Sumaryono, di tingkat ASEAN saja jumlah surveyor Indonesia mencapai 5.500 orang atau berada di peringkat kedua setelah Filipina yang jumlah suveyornya mencapai 9.325. Meski begitu, jumlah surveyor di Indonesia tersebut belum ada yang terlisensi. “Sebanyak 4.397 surveyor di Filipina sudah terlisensi. Sementara Malaysia dan Singapura yang masing-masing memiliki 662 dan 100 suveyor, masing-masing 531 surveyor Malaysia dan 66 surveyor Singapura sudah memiliki lisensi,” ia menjelaskan kepada Gusti Grehenson dari Humas UGM.

BIG dan perguruan tinggi, menurut pendapatnya, perlu melakukan upaya untuk mendorong pengembangan SDM bidang informasi geospasial berbasis kompetensi. Apalagi, pengembangan SDM berbasis kompetensi sudah menjadi tren nasional dan dunia. “Perlu harmonisasi antara kebutuhan kompetensi SDM dan kurikulum pendidikan formal, diklat, dan kursus,” katanya.

Dosen Fakultas Geografi UGM, Drs Projo Danoedoro MSc, mengatakan dari sisi perspektif geografi memang masih ada gap antara penguasaan keterampilan teknis dan penguasaan konseptual teoretis terkait aplikasi yang tidak sepenuhnya terakomodasi dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) bidang Informasi Geospasial. Menurutnya, pengembangan kurikulum harus sepenuhnya mengakomodasi SKKNI dan memuat konten lebih penguasaan kompetensi. “Sebaliknya, yang dimasukkan dalam SKKNI lebih bersifat teknis terukur bukan penguasaan pengetahuan,” ujarnya.

Sementara itu, Dr Harintaka ST MT, dosen Departemen Geodesi FT UGM, menyampaikan beberapa teknologi mutakhir yang bisa dimanfaatkan dalam bidang informasi geospasial, di antaranya teknologi lidar/ALS, mapping from space, dengan skala luasan yang lebih besar. “Bahkan, sudah ada mobile mapping yang dikembangkan oleh perusahaan Google,” katanya. (ugm.ac.id)

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home