Loading...
RELIGI
Penulis: Sabar Subekti 06:25 WIB | Senin, 16 Desember 2019

Iran Menindak Orang Kristen Menjelang Natal

Penganut Kristen dari gereja Ortodoks Armenia di Iran. (Foto: dari Al Arabiya)

TEHERAN, SATUHARAPAN.COM- Rezim Iran mulai menindak orang Kristen di Iran menjelang Natal, kata para pakar dan orang Kristen Iran. Para pejabat keamanan secara rutin menangkap warga Kristen selama menjelang Natal, menurut laporan Komisi Kebebasan Beragama Internasional Amerika Serikat 2019, yang menemukan bahwa rezim Iran menangkap 114 orang Kristen selama pekan pertama Desember di 2018.

Pihak berwenang mulai menangkap orang-orang Kristen pekan lalu, kata Dabrina Tamraz, yang menderita penganiayaan sebagai seorang Kristen di Iran. "Perayaan Natal memudahkan otoritas Iran untuk menangkap sekelompok orang Kristen pada satu waktu," kata Tamraz, yang melarikan diri dari Iran sembilan tahun lalu dan sekarang tinggal di Eropa.

Tamraz menjelaskan tentang pelecehan yang dihadapi orang Kristen di Iran hari ini, dengan menceritakan detail tentang bagaimana pihak berwenang menggerebek perayaan Natal keluarganya di Teheran pada tahun 2014.

"Adikku membuka pintu hanya untuk dihadapkan dengan sekitar 30 petugas berpakaian biasa yang mendorong masuk. Mereka memisahkan pria dari wanita dan menelanjangi mereka. Tiga orang, termasuk ayah saya, ditangkap dan didakwa bertindak melawan keamanan nasional dan melakukan penginjilan,” kata Tamraz, yang ayahnya adalah seorang pendeta evangelis.

Perlakuan mereka itu hanyalah salah satu contoh dari intoleransi rezim Iran terhadap minoritas agama, Baha'i, Kristen, dan lainnya, yang sering mengalami pelecehan, penahanan dan bahkan eksekusi, meskipun diakui sebagai minoritas agama yang dilindungi bebas untuk melakukan ritual mereka "di dalam batas-batas hukum, ”menurut konstitusi Iran.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, dikutip Al Arabiya, mengatakan pada bulan Juli bahwa "tindakan keras rezim terhadap Bahai, Kristen dan lainnya terus mengejutkan nurani."

Menargetkan Kelompok injili

Pemerintah Iran menganggap penginjilan sebagai tindakan kriminal. Umat ​​Kristen tidak dapat berdoa atau bernyanyi di depan umum di Iran karena tindakan itu dianggap ilegal, menurut Nina Shea, seorang ahli dalam kebebasan beragama di Institut Hudson.

"Rezim ingin mengintimidasi orang Kristen untuk tidak merayakan agama mereka, bertindak berdasarkan agama mereka, atau memiliki tanda-tanda lahiriah, seperti mengenakan salib," kata Shea, yang bertugas di Komisi AS untuk Kebebasan Beragama Internasional selama lebih dari satu dekade, dikutip Al Arabiya.

Marina Nemat, seorang Katolik Iran yang ditangkap dan ditahan karena aktif secara politik di Iran setelah revolusi 1979, mengatakan bahwa Iran "alergi terhadap orang-orang yang pindah agama dan penginjil."

Penginjil dan orang Kristen baru adalah target khusus rezim, menurut Tamraz dan Nemat. "Jika Anda seorang Kristen di Iran dan tidak menginjili, dan tidak mengiklankan agama Anda, Anda tidak akan masuk penjara,” kata Nemat.

Sementara itu, gereja-gereja evangelis mungkin menjadi target utama rezim, namun gereja mana pun dalam berbagai denominasi, rentan terhadap pelecehan, menurut Shea. “Kelompok injili Kristen tidak terlindungi dan rentan terhadap penangkapan massal. Tetapi bahkan gereja-gereja yang diakui dapat diserbu, karena pria dan wanita bergabung selama kebaktian atau minum minuman mengandung alkohol sebagai bagian dari ibadah(Perjamuan kudus-Red.),” kata Shea.

Menurut laporan Komisi Kebebasan Beragama Internasional AS 2019, rezim Iran menjatuhkan hukuman penjara kepada orang Kristen karena mengadakan perayaan Natal pribadi, mengorganisasi dan memimpin gereja rumah, dan membangun dan merenovasi rumah ibadah.

Tamraz, yang berbicara atas nama orang Kristen Iran pada acara PBB tahun ini tentang kebebasan beragama, mengatakan orang Kristen di seluruh dunia harus mengambil keberanian dari iman yang kuat bagi orang Kristen di Iran.

“Kita harus berdoa untuk mereka dan memberanikan diri dengan iman mereka. Terlepas dari penangkapan dan penganiayaan serta tekanan tinggi dari pemerintah, orang-orang Kristen masih mengumpulkan dan merayakan kelahiran Kristus dan tidak membiarkan pemerintah membuat ketakutan,” kata Tamraz.

Editor : Sabar Subekti

Kampus Maranatha
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home