Loading...
INDONESIA
Penulis: Sabar Subekti 10:32 WIB | Selasa, 02 Februari 2021

Isu Pengambilalihan Kepemimpinan Partai Demokrat, Muldoko Bicara

Moeldoko, Kepala Staf Kepresidenan. (Foto: tangkap layar video)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM-Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, menanggapi isu pengambilalihan paksa kepemimpinan Partai Demokrat yang disebut-sebut melibatkan pihak Istana dan membuat Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono mengirimkan surat kepada Presiden.

"Sebenarnya saya masih diem-diem aja sih, karena saya tidak perlu reaktif dalam hal ini," kata Moeldoko dikutip Antara ketika memberikan keterangan pers virtual di Jakarta, hari Senin (1/2) malam.

Namun, karena cukup banyak pertanyaan dari media, Moeldoko memutuskan menanggapi isu tersebut. "Poin pertama, jangan dikit-dikitIstana. Dalam hal ini saya mengingatkan. Sekali lagi jangan dikit-dikitIstana dan jangan ganggu pak Jokowi, karena beliau dalam hal ini tidak tahu sama sekali, tidak tahu apa-apa dalam isu ini. Jadi itu urusan saya. Moeldoko ini, bukan selaku KSP (Kepala Staf Presiden-Red.). Moeldoko," katanya.

Dia mengatakan bahwa beberapa kali banyak tamu yang berdatangan ke kediamannya. Moeldoko mengatakan dia sebagai mantan Panglima TNI terbuka kepada siapa pun yang ingin bertemu, tanpa memberikan batas.

"Kepada, siapa pun, apalagi di rumah ini. Terbuka 24 jam dengan siapa pun. Mereka datang berbondong-bondong, ya kita terima," kata Moeldoko menjelaskan.

Moeldoko tidak menyebutkan siapa yang datang ke kediamannya. Namun ditengarai pihak yang sempat datang menemuinya merupakan orang-orang yang disebut AHY sebagai pelaku gerakan pengambilalihan paksa kepemimpinan Demokrat.

Moeldoko mengaku tidak tahu konteks kedatangan orang-orang ke kediamannya. Namun seperti pertemuan dengan pihak lain, Moeldoko mengaku selalu membuka obrolan dengan bicara masalah pertanian.

"Dari obrolan, saya biasa mengawali dari pertanian, karena saya memang suka pertanian. Kemudian, mereka curhat situasi yang dihadapi, ya gua dengerin aja. Berikutnya ya udah dengerin aja. Saya sebenarnya prihatin ya dengan situasi itu, karena saya juga bagian yang mencintai Demokrat," katanya.

Kemudian, kata Moeldoko, muncul isu pengambilalihan kepemimpinan Demokrat. "Kemudian muncul isu itu. Mungkin dasarnya foto-foto ya. Orang ada dari Indonesia timur dari mana-mana datang ke sini kan kepingin foto sama saya. Ya saya terima saja, apa susahnya. Itu lah menunjukkan seorang jenderal tidak punya batas dengan siapa pun. Kalau itu menjadi persoalan yang digunjingkan, ya silakan saja. Saya tidak keberatan," katanya menjelaskan.

Moeldoko kemudian memberikan sebuah saran. Dia mengatakan sebagai seorang pemimpin seseorang harus kuat dan tidak mudah terombang-ambing.

"Berikutnya saran saya. Menjadi seorang pemimpin harus kuat, jangan mudah baper-an, mudah terombang-ambing dan seterusnya. Kalau anak buahnya nggak boleh pergi kemana-mana ya diborgol saja, kali ya. Begitu. Selanjutnya kalau ada istilah kudeta, kudeta itu dari dalam, masa kudeta dari luar," kata Moeldoko kemudian menutup keterangan pers-nya tanpa tanya jawab dengan media.

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home