Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Sotyati 09:28 WIB | Jumat, 06 Maret 2020

Jahe, Diburu Orang Gara-gara Virus Corona

Jahe (Zingiber officinale, Rosc). (Foto: Encyclopedia Britannica)

SATUHARAPAN.COM – Awal pekan lalu, seorang gadis sambil membawa secarik kertas berisi daftar belanjaan, berdiri di depan seorang pramuniaga di pasar swalayan Hari-Hari di Bekasi Barat yang bertugas di bagian bumbu dan rempah-rempah. Gadis itu membacakan satu per satu daftar, dan pramuniaga menunjukkan barang yang ia maksud, yang rupanya sudah tinggal sisa-sia.

Cara membacakan dan melihat rempah yang ditunjuk, mengesankan gadis berpenampilan kekinian itu jarang, atau malah tidak pernah, masuk dapur. Ia bingung membedakan mana jahe, kunyit, dan temulawak, dan kecewa mendapati rak yang hampir kosong. Ia akhirnya memutuskan mengambil dua kemasan bumbu dapur. Lalu, kembali ia terlihat kecewa. Baru berhasil menemukan tempat serai, seikat serai yang tersisa, sudah keduluan disambar orang.

Jahe, terutama jahe merah, temulawak, kunyit, ditambah serai dan jeruk nipis, banyak diburu orang belakangan ini, seiring gencarnya pemberitaan tentang merebaknya virus corona baru. Rempah-rempah dan jamu tradisional diberitakan mampu menguatkan daya tahan tubuh menangkal virus dan bakteri. Khasiat dan manfaat rempah-rempah berseliweran diunggah dan disebarkan melalui media sosial.

Tak mengherankan, ada yang mendapatkan berkah mendadak. Penjual jamu tradisional di Pasar Bambu Kuning, Kayuringin, Bekasi Barat, yang biasanya hanya membawa satu botol temulawak, sontak kebanjiran pesanan. Senin (2/3) lalu ia mengaku dua pelanggannya memesan masing-masing dua botol temulawak.

Penjual sayur yang biasanya tidak menyertakan rempah di daftar barang jualannya, kini memajang jahe, jahe merah, temulawak, kunyit, dan sebagainya. 

Virus corona pun menjadi percakapan hangat di antara pedagang dan pembeli, ataupun antarpedagang. Setiap orang tampaknya mengenal corona.

Nazly Parlindungan Siregar, konsultan pajak yang terjun menjadi petani, mengabarkan temulawak yang pada hari Senin (2/3) masih berada pada kisaran Rp7.000 per kilogram, pada hari Rabu (4/3) langsung meroket menjadi Rp25.000 per kilo. Berita di Warta Ekonomi menyebutkan jahe merah yang biasanya berada di kisaran harga Rp50.000 - Rp70.000 per kilogram, melonjak menjadi Rp100.000-Rp150.000.

Ciri Morfologis dan Penyebaran

Jahe memiliki nama ilmiah Zingiber officinale, Rosc. Mengutip dari Wikipedia, jahe adalah tanaman rimpang yang sangat populer sebagai rempah-rempah dan bahan obat. Rimpangnya berbentuk jari-jari yang menggembung di ruas-ruas tengah. Rasa dominan pedas disebabkan senyawa keton bernama zingeron.

Batang jahe merupakan batang semu, dengan tinggi 30 hingga 100 cm. Akarnya berbentuk rimpang dengan daging akar berwarna kuning hingga kemerahan dengan bau menyengat. Daun menyirip dengan panjang 15 hingga 23 mm dan panjang 8 hingga 15 mm. Tangkai daun berbulu halus.

Bunga jahe tumbuh dari dalam tanah berbentuk bulat telur dengan panjang 3,5 hingga 5 cm dan lebar 1,5 hingga 1,75 cm. Gagang bunga bersisik sebanyak 5 hingga 7 buah. Bunga berwarna hijau kekuningan. Bibir bunga dan kepala putik ungu. Tangkai putik berjumlah dua.

Jahe tumbuh subur di ketinggian 0 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut (m dpl), kecuali jenis jahe gajah yang tumbuh subur di ketinggian 500 hingga 950 m dpl.

Untuk bisa berproduksi optimal, dibutuhkan curah hujan 2.500 hingga 3.000 mm per tahun, kelembapan 80 persen, dan tanah lembap dengan pH 5,5 hingga 7,0 dan unsur hara tinggi. Tanah yang digunakan untuk penanaman jahe tidak boleh tergenang.

Jahe diperkirakan berasal dari India. Namun, ada pula yang mempercayai jahe berasal dari Republik Rakyat Tiongkok bagian selatan. Dari India, jahe dibawa sebagai rempah perdagangan hingga Asia Tenggara, Tiongkok, Jepang, hingga Timur Tengah. Kemudian, pada zaman kolonialisme, jahe yang bisa memberikan rasa hangat dan pedas pada makanan segera menjadi komoditas yang populer di Eropa.

Jahe (Zingiber officinale, Rosc.) merupakan salah satu jenis tanaman yang termasuk ke dalam suku Zingiberaceae. PA Vasala, dalam Handbook of Herbs and Spices menyebutkan nama zingiber berasal dari bahasa Sansekerta “sringavera” (Rosengarten 1973) dan Yunani “zingiberi” (Purseglove et al. 1981), yang berarti tanduk, karena bentuk rimpang jahe mirip dengan tanduk rusa. Officinale merupakan bahasa latin (officina) yang berarti digunakan dalam farmasi atau pengobatan (Janson 1981).

Jahe dikenal dengan nama umum (Inggris) ginger atau garden ginger. Nama ginger berasal dari bahasa Prancis: gingembre, bahasa Inggris lama: gingifere, Latin: ginginer, Yunani (Greek): zingiberis. Namun, kata asli dari zingiber berasal dari bahasa Tamil inji ver. Istilah botani untuk akar dalam bahasa Tamil adalah ver, jadi akar inji adalah inji ver.

Di Indonesia, mengutip Wikipedia, jahe memiliki berbagai nama daerah. Di Sumatera, jahe disebut halia (Aceh), beuing (Gayo), bahing (Karo), pege (Toba), sipode (Mandailing), lahia (Nias), sipodeh (Minangkabau), page (Lubu), dan jahi (Lampung).

Di Jawa, jahe dikenal dengan jahe (Sunda), jae (Jawa), jhai (Madura), dan jae (Kangean). Di Sulawesi, jahe dikenal dengan nama layu (Mongondow), moyuman (Poros), melito (Gorontalo), yuyo (Buol), siwei (Baree), laia (Makassar), dan pace (Bugis). Di Nusa Tenggara, disebut jae (Bali), reja (Bima), alia (Sumba), dan lea (Flores). Di Kalimantan (Dayak), jahe dikenal dengan sebutan lai, di Banjarmasin disebut tipakan.

Di Maluku, jahe disebut hairalo (Amahai), pusu, seeia, sehi (Ambon), sehi (Hila), sehil (Nusalaut), siwew (Buns), garaka (Ternate), gora (Tidore), dan laian (Aru). Di Papua, jahe disebut tali (Kalanapat) dan marman (Kapaur). Berbagai nama daerah jahe itu menunjukkan penyebaran jahe meliputi seluruh wilayah Indonesia.

Karena jahe hanya bisa bertahan hidup di daerah tropis, penanamannya hanya bisa dilakukan di daerah khatulistiwa seperti Asia Tenggara, Brasil, dan Afrika. Saat ini Ekuador dan Brasil menjadi pemasok jahe terbesar di dunia.

Terdapat tiga jenis jahe yang populer di pasaran, yaitu jahe gajah atau jahe badak, jahe kuning, dan jahe merah.

Jahe gajah atau jahe badak merupakan jahe yang paling disukai di pasaran internasional. Bentuknya besar, gemuk, dan rasanya tidak terlalu pedas. Daging rimpang berwarna kuning hingga putih.

Jahe kuning adalah jahe yang banyak dipakai sebagai bumbu masakan, terutama untuk konsumsi lokal. Rasa dan aromanya cukup tajam. Ukuran rimpang sedang dengan warna kuning.

Jahe merah memiliki kandungan minyak atsiri tinggi dan rasa paling pedas, sehingga cocok untuk bahan dasar farmasi dan jamu. Ukuran rimpangnya paling kecil dengan kulit warna merah. Seratnya lebih besar dibanding jahe biasa.

Khasiat dan Manfaat

Selain dipasarkan dalam bentuk segar, langsung dipasarkan setelah panen dan dibersihkan, jahe juga dijual dalam bentuk olahan.

Terdapat beberapa hasil pengolahan jahe yang terdapat di pasaran, yakni jahe kering, awetan jahe, jahe bubuk, minyak jahe, oleoresin jahe.

Jahe kering merupakan potongan jahe yang dikeringkan dengan irisan memotong serat irisan tipis. Jenis ini sangat populer di pasar tradisional.

Awetan jahe merupakan hasil pengolahan tradisional dari jahe segar. Yang paling sering ditemui di pasaran adalah tingting jahe (permen jahe), acar, asinan, sirup, dan jahe instan. Beberapa jenis olahan jahe ini disukai konsumen dari daerah Asia dan Australia. Sementara, Jepang, dan Tiongkok sangat menyukai asinan jahe.

Bubuk jahe merupakan hasil pengolahan lebih lanjut dari jahe menggunakan teknologi industri. Jahe dikeringkan, selanjutnya digiling dengan kehalusan butiran bubuk yang ditentukan. Bubuk jahe diperlukan untuk keperluan farmasi, minuman, alkohol, dan jamu. Biasanya menggunakan bahan baku jahe kering.

Di Indonesia, sekoteng, bandrek, dan wedang jahe merupakan minuman yang digemari karena memberikan rasa hangat di malam hari, terutama di daerah pegunungan.

Di masyarakat Barat, ginger ale jadi produk yang digemari. Sirup jahe disenangi masyarakat Tiongkok, Eropa, dan Jepang.

Oleoresin jahe adalah hasil pengolahan lebih lanjut dari tepung jahe. Warnanya cokelat dengan kandungan minyak atsiri 15 hingga 35 persen.

Editor : Sotyati


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home