Loading...
EKONOMI
Penulis: Sabar Subekti 08:55 WIB | Selasa, 12 Januari 2021

Jokowi Dorong Pertanian Skala Luas dan Penerepan Teknologi

Presiden Joko Widodo memimpin rapat kerja, hari Senin (11/1). (Foto: Setneg.)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM-Presiden Joko Widodo meminta jajaran pemerintah untuk melakukan secara detil pembangunan pertanian, utamanya yang terkait komoditas yang saat ini masih impor.

"Urusan bawang putih, gula, jagung, kedelai, dan komoditas lain yang masih impor, tolong ini menjadi catatan dan segera dicarikan desain yang baik agar bisa kita selesaikan," kata Presiden, hari Senin (11/1). Jokowi memimpin Rapat Kerja Nasional Pembangunan Pertanian Tahun 2021 di Istana Negara, Jakarta.

Peningkatan skala ekonomi dan penerapan teknologi pertanian merupakan langkah utama pembangunan pertanian nasional yang harus segera ditempuh. Dengan cara itu maka biaya produksi dapat menjadi lebih murah, dan harga yang kompetitif dari produksi komoditas pertanian nasional.

"Skala luas dan teknologi pertanian harus dipakai betul. Itulah cara-cara pembangunan pertanian yang harus kita tuju, sehingga harga pokok produksinya bisa bersaing dengan harga komoditas yang sama dari negara lain," kata Presiden menekankan.

Di masa pandemi saat ini, sektor pertanian menempati posisi sentral. Apalagi dengan penduduk Indonesia yang sejumlah lebih dari 270 juta jiwa mengharuskan pengelolaan pertanian dijalankan dengan baik dan serius.

Food Estate

Dia mengatakan bahwa pembangunan pertanian kini tak lagi bisa hanya dilakukan dengan menggunakan cara-cara konvensional yang sudah bertahun-tahun dilakukan. Yang dibutuhkan negara kita ialah membangun sebuah kawasan pertanian berskala ekonomi besar, termasuk salah satunya lumbung pangan baru.

"Oleh sebab itu saya dorong food estate ini harus diselesaikan. Paling tidak tahun ini yang di Sumatera Utara dan Kalimantan Tengah harus selesai. Kita mau evaluasi masalahnya apa, teknologinya yang kurang apa, karena ini akan menjadi contoh," katanya.

Kepala Negara melihat bahwa permasalahan utama yang dihadapi para petani lokal selama ini ialah tidak kompetitifnya harga komoditas yang mereka hasilkan. Biaya pokok produksi yang tinggi, karena produksi yang dilakukan dalam jumlah sedikit menyebabkan komoditas lokal kalah bersaing dengan komoditas impor.

Untuk itu diperlukan peningkatan skala ekonomi, sehingga para petani yang nantinya terhimpun dalam kelompok tani besar memiliki nilai tukar petani yang lebih besar sekaligus meningkatkan jumlah produksi.

"Kalau harga tidak kompetitif ya akan sulit kita bersaing, sehingga sekali lagi ini harus dibangun dalam sebuah lahan yang sangat luas," kata Presiden.

Hadir dalam rakernas tersebut adalah Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri BUMN Erick Thohir, Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, dan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko.

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home