Loading...
EKONOMI
Penulis: Sabar Subekti 14:02 WIB | Rabu, 22 September 2021

Jokowi: Krakatau Steel Gunakan Toknologi Modern

Jokowi minta produksi baja ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang terus meningkat.
Presiden Joko Widodo meresmikan Hot Strip Mill #2 PT Krakatau Steel (Persero) TBK di Kota Cilegon, Provinsi Banten, Selasa 21 September 2021. (Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev)

BANTEN, SATUHARAPAN.COM-Industri baja merupakan sektor yang sangat strategis karena produk yang dihasilkan sangat dibutuhkan dan bisa dimanfaatkan untuk industri-industri lain. “Merupakan salah satu pilar penting untuk memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Presiden Joko Widodo.

Pernyataan itu disampaikan dalam sambutan pada acara Peresmian Hot Strip Mill #2 PT Krakatau Steel (Persero) TBK di Kota Cilegon, Provinsi Banten, Selasa (21/9). Sebelumnya, Jokowi meninjau pabrik tersebut yang menggunakan teknologi modern dan terbaru di industri baja.

“Dan hanya ada dua di dunia. Pertama di Amerika Serikat dan yang kedua di Indonesia di Krakatau Steel,” kata Jokowi.

 Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi Hot Rolled Coil (HRC) sebesar 1,5 juta ton per tahun dan merupakan pabrik pertama di Indonesia yang mampu menghasilkan HRC kualitas premium.

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi mengingatkan bahwa kebutuhan baja di dalam negeri juga terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. “Jangan dibiarkan dimasuki produk luar,” kata Presiden.

Dalam lima tahun terakhir, kebutuhan baja di dalam negeri meningkat hingga sekitar 40 persen. “Hal ini dipicu oleh pertumbuhan pembangunan infrastruktur yang terus kita laksanakan,” katanya.

Oleh karenanya, Presiden meminta agar produksi dari pabrik tersebut untuk terus ditingkatkan hingga mencapai empat juta ton/tahun.

“Dengan beroperasinya pabrik ini akan dapat memenuhi kebutuhan baja dalam negeri dan juga akan menekan angka impor baja ke negara kita, yang saat ini berada pada peringat ke-dua komoditas impor Indonesia, sehingga bisa menghemat devisa hingga Rp 29 triliun per tahun,” kata Presiden.

Presiden berpesan agar kualitas produk yang dihasilkan tidak kalah dari produk impor, dapat memenuhi kebutuhan dunia industri di negara kita. “Nantinya akan menjadi komoditas yang mampu bersaing di pasar regional dan global. Saya titip kepada para Menteri untuk terus mendukung para pelaku industri baja dan besi, mendukung BUMN kita agar menjadi lebih profesional dan terus menguntungkan,” kata Presiden.

Upaya ini dilakukan untuk mewujudkan klaster 10 juta ton industri baja di Cilegon yang ditargetkan terealisasi pada tahun 2025.

Juga disampaikan bahwa transformasi BUMN menjadi keharusan agar dapat menjadi perusahaan BUMN kelas dunia yang semakin profesional, kompetitif, dan menguntungkan. Hal ini perlu dilakukan untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyaraka, membuka makin banyak lapangan pekerjaan, dan berkontribusi lebih besar pada pendapatan negara.

Proses transformasi BUMN yang dilakukan adalah mulai dari restrukturisasi di BUMN, pembentukan holding dan sub holding hingga pembentukan klaster-klaster industri strategis.

Presiden juga meminta agar PT Krakatau Steel terus melakukan transformasi dan restrukturisasi. “Tadi, Pak Menteri BUMN menyampaikan Krakatau Steel saat ini sudah makin sehat, produksinya juga sudah semakin lancar,” kata Presiden.

Dalam laporannya, Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Silmy Karim mengatakan bahwa Pabrik Hot Strip Mill #2 Krakatau Steel memiliki nilai investasi mencapai Rp 7,5 triliun ini dengan luas pabrik 25 hektare dan berkapasitas 1,5 juta ton per tahun.

“Pabrik ini adalah pabrik pertama di Indonesia yang mampu menghasilkan produk Hot Rolled Coil dengan ketebalan 1,4 mm hingga 16 mm,” kata Silmy.

Silmy mengatakan bahwa produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang lebih baik sehingga produk HRC HSM2 akan diutamakan untuk mengisi pangsa pasar otomotif yang membutuhkan kualitas baja terbaik.

“Ini seiring dengan rencana Indonesia untuk dapat menjadi salah satu pusat produk mobil listrik dunia. Ini akan berdampak pada penghematan devisa Indonesia serta memperbaiki neraca perdagangan,” kata Silmy.

Turut hadir dalam acara tersebut diantaranya, Ketua DPR RI, Puan Maharani, Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia, Park Tae Sung, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Pandjaitan, Menteri Sekretaris Negara, Pratikno, Menteri BUMN, Erick Thohir, Menteri Investasi/Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia, Gubernur Banten, Wahidin Halim, dan Walikota Cilegon Helldy Agustian.

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home