Loading...
MEDIA
Penulis: Sabar Subekti 11:35 WIB | Selasa, 02 Maret 2021

Junta Militer Myanmar Tangkapi Wartawan

Junta Militer Myanmar Tangkapi Wartawan
Orang-orang mempersiapkan upacara peringatan sebagai penghormatan kepada seorang guru yang meninggal dalam protes pada 28 Februari, di Yangon, Myanmar, hari Senin (1/3). (Foto: AP)
Junta Militer Myanmar Tangkapi Wartawan
Pengunjuk rasa anti kudeta melarikan diri dari serangan dengan gas air mata yang diluncurkan oleh pasukan keamanan di Yangon, Myanmar pada hari Senin (1/3). (Foto: AP)

YANGON, SATUHARAPAN.COM-Seorang reporter Myanmar diserang di rumahnya dan ditahan oleh militer, kata atasannya, hari Selasa (2/3), setelah berhari-hari melakukan tindakan keras oleh junta militer terhadap pengunjuk rasa anti kudeta.

Militer Myanmar telah meningkatkan kekuatannya saat berupaya untuk memadamkan pembangkangan erontakan pemerintahannya, menggunakan gas air mata, peluru karet, dan semakin banyak peluru tajam.

Para jurnalis menjadi sasaran polisi dan tentara ketika mereka mencoba meliput kerusuhan di jalanan. Dalam beberapa hari terakhir, beberapa jurnalis telah ditangkap, termasuk seorang fotografer dari Associated Press (AP) di Yangon.

Reporter Democratic Voice of Burma (DVB / Suara Demokratik Burma) menyiarkan langsung serangan pada Senin malam di gedung apartemennya di kota Myeik, di selatan, saat dia memohon bantuan.

Beberapa jam kemudian, DVB mengatakan di Twitter bahwa reporter Kaung Myat Naing telah diambil dari rumahnya oleh pasukan keamanan. "DVB tidak tahu ke mana dia dibawa, dan otoritas militer mana yang membawanya," kata pernyataan itu.

Laporan itu menambahkan bahwa laporan terbaru Kaung Myat Naing adalah tentang penumpasan militer akhir pekan di Myeik, dan serangan pada demonstrasi pada hari Senin.

Terdengan suara keras tembakan dalam siaran langsung Kaung Myat Naing, yang diunggah di halaman Facebook resmi DVB. "Jika Anda menembak seperti ini, bagaimana saya akan mundur?" dia berteriak pada pasukan keamanan di luar.

DVB, sebuah organisasi berita terkenal di Myanmar, dimulai sebagai outlet media pengasingan selama kekuasaan junta sebelumnya, menyiarkan laporan tanpa sensor di televisi dan radio.

Setelah memegang kekuasaan selama 49 tahun, kediktatoran militer melonggarkan cengkeramannya pada tahun 2011, dan DVB pindah ke Myanmar pada tahun berikutnya.

Outlet berita tersebut menuntut militer membebaskan Kaung Myat Naing, serta jurnalis lainnya yang ditahan sejak kudeta 1 Februari. “Mereka semua melakukan pekerjaan profesional mereka sebagai jurnalis,” katanya. (AFP)

Editor : Sabar Subekti

Kampus Maranatha
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home