Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Reporter Satuharapan 14:56 WIB | Senin, 13 Maret 2017

Kangkung dan Mitos Penyebab Kantuk

Kangkung (Ipomoea aquatica, Forssk.). (Foto: id.wikipedia.org)

SATUHARAPAN.COM – Tumis kangkung dan ikan tude bakar acap menjadi pilihan favorit pelancong ketika bersantap di rumah makan yang berderet di sepanjang Manado Boulevard di Kota Manado. Tumis kangkung darat, terasa nikmat dan segar disantap, bahkan tanpa campuran bahan lain.

Beda di Manado, beda pula di luar Manado. Tumis atau ca kangkung bermetamorfosa dalam sajian, biasanya dicampur dengan tomat hijau dan daun bawang. Bukan hanya di Manado dan masakan ala Manado, Bali dan Nusa Tenggara Barat juga memiliki menu makanan berbahan kangkung bernama plecing kangkung yang terkenal. Jambi juga memiliki menu khas cumi cah kangkung. Dan, masih banyak menu makanan lain berbahan dasar kangkung dari daerah lain di Nusantara, seperti ca kangkung bumbu tauco atau bumbu terasi.

Kangkung adalah tumbuhan yang dibudidayakan sebagai jenis sayur-sayuran. Kangkung termasuk sayuran yang mudah ditemukan di pasar-pasar, di segala musim.

Bagian kangkung yang dikonsumsi adalah daunnya, yang mengutip dari akg.fkm.ui.ac.id, banyak mengandung zat besi juga vitamin A dan C.

Seperti sayuran pada umumnya, kangkung juga mengandung serat yang tinggi.

Seratus gram kangkung darat, mengandung 458 gram kalium dan 49 gram natrium. Kedua zat itu merupakan persenyawaan gram bromida yang bekerja sebagai obat tidur karena sifatnya yang menekan susunan saraf pusat.

Kangkung kaya akan senyawa fitokimia. Senyawa fitokimia merupakan komponen bioaktif dan antioksidan alami bagi tubuh. Senyawa ini berperan sebagai nutrisi dan serat alami yang dapat mencegah penyakit yang disebabkan oleh radikal bebas dan mencegah pertumbuhan sel kanker. Beberapa manfaat lain dari senyawa fitokimia adalah menghambat proses penuaan dini dan menurunkan risiko terhadap penyakit kanker, hati, stroke, tekanan darah tinggi, katarak, osteoporosis, dan infeksi saluran pencernaan. Beberapa jenis senyawa fitokimia adalah alkaloid, flavanoid, kuinon, tanin, polifenol, saponin, yang fungsinya saling melengkapi, sebagai antiracun, antiradang, peluruh kencing, menghentikan pendarahan, dan memiliki efek sedatif.

Efek sedatif pada kangkung mampu membawa zat berkhasiat ke saluran pencernaan. Karena itulah kangkung memiliki kemampuan menetralkan racun. Kangkung mengandung zat sedatif yang dapat menurunkan ketegangan dan menginduksi ketenangan. Kandungan zat sedatif dalam kangkung ini lebih banyak terdapat pada kangkung darat daripada kangkung air.

Pada sisi lain, kangkung memiliki kadar purin yang cukup tinggi, lebih tinggi daripada kadar kurin dalam kacang tanah. Dalam setiap 100 gram kangkung terdapat 289 mg purin. Karena itulah konsumsi kangkung oleh penderita asam urat harus dibatasi.

Pertumbuhannya yang mudah, di segala tempat berair, termasuk di saluran pembuangan, dan harganya yang relatif murah, pada sisi lain memunculkan citra merendahkan kangkung, termasuk di Malaysia. Seorang pengamat politik bernama Wan Saiful Wan Jan, seperti dikutip dari BBC Indonesia, mencontohkan sebutan “profesor kangkung”, acap disematkan pada diri akademisi kelas rendah.

Pemerian Botani dan Mitos

Kangkung dari keluarga Convolvulaceae, memiliki nama ilmiah Ipomoea aquatica, Forssk.

Kangkung berasal dari India yang kemudian menyebar ke Malaysia, Burma, Indonesia, China Selatan, Australia, dan sebagian Afrika. Di daerah penyebarannya, kangsung dikenal dengan nama water spinach, water convolvulus, swamp cabbage (Inggris); kankon, you-sai (Jepang); ong tsoi, weng cai (bahasa Kanton); toongsin tsai (bahasa Mandarin); kang kong (Filipina, Malaysia); kang kung, rau muong (Vietnam); pak bung (Thailand); batata acquatica, cancon (Portugis).

Ada dua bentuk kangkung yang dijual di pasar. Yang pertama adalah kangkung berdaun licin dan berbentuk mata panah, yang memiliki ukuran panjang 10–15 cm. Tumbuhan ini memiliki batang berongga yang menjalar, dengan batang yang menegak dan daun berselang.

Jenis kedua adalah dengan daun sempit memanjang, biasanya tersusun menyirip tiga.

Mengutip dari Wikipedia, kangkung budidaya terbagi ke dalam empat kelompok kultivar. Kangkung sawah (Kelompok Lowland) adalah kelompok yang paling dikenal, tumbuh meliar di rawa-rawa dangkal dan persawahan yang terbengkalai. Kultivar ini yang secara tradisional dikonsumsi. Kangkung air tumbuh baik pada tempat yang basah atau berair. Kangkung ini memiliki tangkai daun panjang, daunnya lebar, bunganya berwarna ungu dan daunnya memiliki warna hijau tua.

Kelompok berikutnya adalah kangkung darat atau Kelompok Alba, yang pernah dikenal sebagai Ipomoea reptans, Poir. Tetapi, nama ini sekarang dianggap tidak valid. Kangkung darat, yang juga disebut kangkung cina, berdaun lebih sempit dan lebih adaptif pada lahan kering, sehingga dapat ditanam di tegalan atau bahkan kebun. Warna bunganya putih dan dipelihara untuk menghasilkan biji sebagai benih yang baru. Kangkung darat umumnya dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dan dapat menjadi salah satu menu di rumah-rumah makan

Kelompok berikutnya adalah kangkung berdaun keunguan atau Kelompok Rubra. Kelompok ini daun dan bunganya memiliki semu warna merah atau ungu, berdaun agak lebar, tetapi juga adaptif pada lahan kering.

Kelompok terakhir adalah kangkung kering atau Kelompok Upland, dikenal dalam bahasa Kanton sebagai hon ngung choi.

Kangkung merupakan tanaman yang tumbuh cepat yang memberikan hasil dalam waktu 4- 6 minggu sejak dari benih. Mengutip dari akg.fkm.ui.ac.id, kangkung beradaptasi terhadap kondisi iklim dan tanah yang cukup beragam, akan tetapi memerlukan kelembaban tanah yang relatif tinggi untuk pertumbuhan yang optimum.  Tanah dengan kandungan bahan organik tinggi lebih disukai. Kangkung dapat memberikan hasil yang optimum pada kondisi dataran rendah tropika dengan temperatur tinggi dan penyinaran yang pendek. Temperatur yang ideal berkisar 25 – 30 derajat celsius, sedangkan di bawah 10 derajat celsius tanaman akan rusak.

Mitos yang berkembang selama ini menyebutkan kangkung menyebabkan kantuk. Namun, mengutip dari akg.fkm.ui.ac.id, hingga saat ini belum ada penelitian yang bisa menjelaskan alasan yang tepat mengenai hal tersebut. Beberapa pendapat mengatakan kandungan besi (Fe) yang tinggi pada kangkung menyebabkan kantuk itu. Namun, pendapat itu pun terpatahkan mengingat hampir semua daun berklorofil mengandung Fe.

Pendapat lain mengatakan serat tinggi pada kangkunglah yang menyebabkan kantuk. Kadar serat yang tinggi akan menyebabkan alat pencernaan bekerja keras dan membutuhkan oksigen dalam jumlah banyak. Berkurangnya jatah oksigen pada otak berefek pada rasa kantuk. Namun, alasan ini pun kurang tepat.

Sampai saat ini, pendapat yang mendekati kebenaran mengapa kangkung disebut sebagai tanaman penyebab kantuk adalah zat sedatif yang terkandung di dalamnya, walaupun ini pun belum bisa menjadi alasan yang tepat karena tingkat respons sedatif setiap orang berbeda-beda. 

Editor : Sotyati

Kampus Maranatha
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home