Loading...
HAM
Penulis: Yan Chrisna Dwi Atmaja 01:34 WIB | Senin, 16 September 2013

Kapal Aktivis Freedom Flotilla Batal Berlabuh di Merauke Papua

Para peserta Freedom Flotilla telah melakukan perjalanan 5.000 km di darat. Mereka akan berlayar ke Papua hari ini (17/8). (Foto: abc.net.au).

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Kapal Freedom Flotilla yang ditumpangi aktivis Freedom Flotilla pada Minggu (15/9) akhirnya membatalkan rencana berlabuh di Merauke karena adanya apa yang mereka sebut sebagai ancaman dari militer Indonesia. Para aktivis juga mengatakan adanya pengerahan pasukan keamanan di Merauke termasuk polisi yang berjaga di sekitar rumah penyelenggara penyambutan di Merauke.

Sebelumnya pemerintah sudah bertekad akan memerintahkan angkatan laut mengusir bahkan menangkap jika kapal Freedom Flotilla memasuki perairan Indonesia secara ilegal menuju Merauke, Papua.

Izzy Brown koordinator aktivis mengatakan mereka sudah berhasil masuk ke perairan Indonesia (di selatan Papua) dan menyerahkan air dan abu secara simbolis sebagai solidaritas dari Aborigin Australia kepada para pemimpin adat Papua.

“Namun tidak melanjutkan pelayaran ke Merauke karena tidak ingin masuk dalam situasi konfrontasi dengan kapal perang,” kata Brown.

 Freedom Flotilla merupakan gabungan orang pribumi Papua, dan  Aborigin dari Australia Selatan yang mengklaim aktivitas mereka sebagai misi budaya, konvoy lautan dan daratan bagi perdamaian dan keadilan, sebagaimana dilansir dari laman mereka, freedomflotillawestpapua.org.

Freedom Flotilla merupakan bentuk perlawanan kreatif terhadap pemerintah Indonesia atas Papua. Diprakarsai Tetua Adat Aborigin Australia dan Papua untuk membangun solidaritas global dan menyoroti pelanggaran hak asasi manusia dan hak atas tanah terhadap tanah mereka di Papua pada kancah internasional.

Aksi mereka kali ini berlayar dari Cairns Australia ke Papua, ingin menunjukkan pada dunia supaya tahu pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di Papua.

“Papua Barat (dulu Irian Jaya) hidup dalam ketakutan setiap hari terhadap militer Indonesia,” katanya kepada The Guardian. “Kami memulai perjalanan damai untuk membawa kesadaran dan kasih sayang tentang sebuah isu yang sudah terlalu lama diabaikan baik di media Australia maupun internasional,” kata Izzy Brown. (theguardian.com/radioaustralia.net.au)


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home