Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 22:43 WIB | Selasa, 04 Februari 2020

Karyawan Medis Hong Kong Mogok Kerja Tuntut Perbatasan Dengan China Ditutup

Karyawan medis Hong Kong menggelar mogok kerja, pada hari Senin dan Selasa (3-4/2)menuntut penutupan semua perbatasan dengan China untuk mencegah penyebaran virus corona. (Foto: dari AFP)

HONG KONG, SATUHARAPAN.COM-Rumah sakit di Hong Kong mengurangi layanan ketika ribuan pekerja medis melakukan pemogokan pada hari kedua, Selasa (4/2) untuk menuntut perbatasan dengan China daratan ditutup sepenuhnya. Virus corona baru telah menyebabkan kematian pertama di wilayah semi-otonom itu, dan pihak berwenang khawatir wabah akan menyebar secara lokal.

Semua, kecuali dua, penyeberangan darat dan laut Hong Kong dengan daratan telah ditutup pada tengah malam setelah lebih dari 2.000 pekerja rumah sakit mogok pada hari Senin (3/2). Otoritas kesehatan Hong Kong melaporkan dua pasien tambahan tanpa diketahui melakukan perjalanan ke pusat penyebaran virus, sehingga jumlah kasus yang ditularkan secara lokal menjadi empat.

Jumlah kasus yang meningkat "menunjukkan risiko signifikan terhadap penularan komunitas" dan dapat diperkirakan menjadi wabah dalam "skala besar", kata Chuang Shuk-kwan, kepala bagian penyakit menular di Pusat Perlindungan Kesehatan.

Lebih dari 7.000 tenaga kesehatan bergabung dalam aksi mogok pada hari Selasa, menurut Aliansi Karyawan Otoritas Rumah Sakit, penyelenggara mogok kerja.

Otoritas Rumah Sakit Hong Kong mengatakan mereka mengurangi layanan karena “sejumlah besar anggota staf tidak hadir dari tugas'' dan ''layanan darurat di rumah sakit umum telah terpengaruh.''

Carrie Lam Kritik Pemogokan

Hong Kong pernah mengalami wabah SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome), atau sindrom pernafasan akut yang parah, pada tahun 2002-2003, suatu penyakit dari keluarga virus yang sama dengan wabah saat ini. Kepercayaan pada otoritas China telah menurun setelah berbulan-bulan protes anti-pemerintah terjadi di pusat keuangan Asia itu.

Kepala eksekutif Hong Kong, Carrie Lam, mengkritik pemogokan itu dan mengatakan pemerintah melakukan semua yang bisa untuk membatasi aliran orang melintasi perbatasan.

"Layanan penting, operasi kritis telah terpengaruh," termasuk perawatan kanker dan perawatan untuk bayi baru lahir, kata Lam kepada wartawan. "Jadi saya mengajak mereka yang mengambil bagian dalam tindakan ini, mari kita menempatkan kepentingan pasien dan seluruh sistem kesehatan masyarakat di atas semua hal lainnya."

Pemimpin kawasan perjudian terdekat, Makau, meminta bos kasino kota itu untuk menunda operasi untuk mencegah infeksi lebih lanjut setelah seorang pekerja di salah satu resor dinyatakan positif terkena virus. Secara keseluruhan, Makau telah mencatat 10 kasus.

Data terbaru di daratan China menunjukkan 425 kematian dan 20.438 infeksi yang dikonfirmasi dari virus corona baru. Data ini menunjukkan kenaikan tajam dari hari sebelumnya. Di luar China daratan, setidaknya 180 kasus telah dikonfirmasi, termasuk dua kematian, satu di Hong Kong dan yang lainnya di Filipina.

Pasien yang meninggal di Hong Kong adalah seorang pria berusia 39 tahun yang telah melakukan perjalanan ke Wuhan, kota daratan tempat wabah dimulai.

Penangguhan Penerbangan

Negara-negara dari Belgia hingga Vietnam melaporkan kasus baru virus ini, dan Iran bergabung dengan semakin banyak negara yang mengatur penerbangan untuk membawa warganya pulang dari Wuhan.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea mengatakan seorang perempuan Korea Selatan berusia 42 tahun dinyatakan positif terkena virus beberapa hari setelah dia kembali dari perjalanan ke Thailand. Ini adalah kasus ke-16 di Korea Selatan. Thailand telah mengkonfirmasi 25 kasus, sebagian besar turis China, tetapi juga seorang sopir taksi Thailand.

China telah berjuang untuk mempertahankan persediaan masker wajah, bersama dengan pakaian pelindung dan barang-barang lainnya. Aturan baru juga diberlakukan untuk pemeriksaan suhu tubuh di rumah, kantor, toko dan restoran. Juga keharusan mengenakan masker di ruang umum. China juga mencegah lebih dari 50 juta orang untuk meninggalkan rumah, terutama di Wuhan dan kota-kota tetangga.

Kantor Uni Eropa di Beijing, dikutip AP, mengatakan negara-negara anggota telah mengirim 12 ton peralatan pelindung ke China, dengan lebih banyak lagi dalam perjalanan.

Lufthansa Jerman menjadi maskapai internasional terbaru yang menangguhkan penerbangan ke China, dan beberapa negara melarang pelancong China atau orang-orang yang melewati China baru-baru ini. Japan Airlines dan All Nippon Airways mengatakan mereka mengurangi penerbangan ke beberapa kota China dari pertengahan Februari hingga akhir Maret.

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Edu Fair
Back to Home