Loading...
SAINS
Penulis: Sabar Subekti 10:11 WIB | Jumat, 29 Januari 2021

Kasus COVID-19 Eropa Turun, WHO: Terlalu Dini untuk Melonggarkan

Eropa alami “pandemi paralel” dalam kesehatan mental akibat kelelahan dan depresi.
Lambang WHO di kantor pusat di Jenewa. (Foto: dok. AFP)

EROPA, SATUHARAPAN.COM-Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)cabang Eropa mengatakan bahwa masih terlalu dini untuk melonggarkan pembatasan virus corona di Eropa, meskipun terjadi penurunan kasus baru di sebagian besar negara.

Hans Kluge, direktur regional WHO untuk Eropa, mengatakan 30 dari 53 negara anggota WHO di kawasan Eropa telah "melihat penurunan kasus COVID-19 yang signifikan dalam 14 hari."

"Namun, tingkat penularan di seluruh Eropa masih sangat tinggi, mempengaruhi sistem kesehatan dan layanan yang telah kelelahan, membuatnya terlalu dini untuk dilonggarkan," kata Kluge dalam konferensi pers online.

Direktur regional itu juga mencatat bahwa karena hanya tiga persen orang di wilayah tersebut yang sudah dikonfirmasi terinfeksi, daerah yang pernah "terpukul parah sekali bisa terkena lagi."

Kluge menggambarkan situasi saat ini sebagai "paradoks pandemi", mencatat bahwa peluncuran vaksin menawarkan "harapan luar biasa... varian baru yang menjadi perhatian menghadirkan ketidakpastian dan risiko yang lebih besar."

Negara-negara anggota WHO di Wilayah Eropa, yang juga mencakup Rusia dan beberapa negara Asia Tengah, 35 negara telah memulai vaksinasi, menurut WHO.

Sedangkan untuk varian baru yang pertama kali ditemukan di Inggris, telah dikonfirmasi di 33 negara dan varian yang pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan telah dilaporkan di 16 negara.

Menurut penghitungan AFPuntuk Eropa, yang mengecualikan beberapa negara Asia Tengah, kasus baru berjumlah 1.421.692 dalam tujuh hari terakhir, turun sekitar 10 persen dibandingkan dengan tujuh sebelumnya.

Beberapa hari lagi dari peringatan satu tahun kasus pertama Covid-19 yang dikonfirmasi di Eropa, Kluge mengatakan "memutus rantai transmisi adalah prioritas yang jelas."

Namun dia juga menekankan bahwa dampaknya terhadap kesehatan mental kini begitu parah, sehingga kesehatan mental yang buruk telah menjadi “pandemi paralel”.

Mengutip angka dari Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), Kluge mengatakan setengah dari orang-orang yang berusia antara 18 dan 29 tahun, serta 20 persen dari petugas kesehatan, menderita "kecemasan dan depresi". (AFP)

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home