Loading...
SAINS
Penulis: Sabar Subekti 11:29 WIB | Kamis, 21 Juli 2022

Kasus COVID-19 Naik, Australia Sarankan Warga Kembali Bekerja dari Rumah

Dalam sepekan tercatat 300.000 lebih kasus baru yang didominasi sub varian BA.4 dan BA.5.
Seorang perempuan sendirian, mengenakan masker pelindung wajah, berjalan melintasi jembatan pusat kota saat negara bagian Victoria berupaya mengekang penyebaran wabah penyakit virus corona (COVID-19) di Melbourne, Australia, 16 Juli 2021. (Foto: dok. Reuters)

CANBERRA, SATUHARAPAN.COM-Warga Australia yang dirawat di rumah sakit karena COVID-19 mendekati level rekor pada hari Rabu (20/7) ketika pihak berwenang mendesak bisnis untuk membiarkan staf bekerja dari rumah dan merekomendasikan orang-orang memakai masker di dalam ruangan, dan mendapatkan suntikan booster segera di tengah wabah besar virus corona.

Australia berada dalam cengkeraman gelombang Omicron ketiga yang didorong oleh subvarian baru yang sangat mudah menular, BA.4 dan BA.5, dengan lebih dari 300.000 kasus tercatat selama tujuh hari terakhir. Pihak berwenang mengatakan jumlah sebenarnya bisa dua kali lipat dari total itu, dan 53.850 kasus baru hari Rabu adalah penghitungan harian tertinggi dalam dua bulan.

Perdana Menteri, Anthony Albanese, menolak tekanan untuk memberlakukan kembali pembatasan ketat untuk menghentikan penyebaran virus, termasuk membuat masker wajib di dalam ruangan, meskipun ia menyarankan orang untuk memakainya.

“Yang benar adalah bahwa jika Anda memiliki mandat, Anda harus menegakkannya,” kata Albanese kepada wartawan, hari Rabu. "Meskipun ada mandat di transportasi umum ... tidak semua orang memakai masker."

Albanese mengatakan bisnis dan karyawan harus memutuskan bersama tentang pengaturan kerja dari rumah, karena serikat pekerja meminta pengusaha untuk berbuat lebih banyak untuk staf mereka.

Pengusaha harus melampaui pembayaran cuti pandemi pemerintah dan memberikan cuti berbayar dengan gaji penuh bagi pekerja yang perlu mengisolasi, dan menawarkan tes antigen cepat gratis, kata Presiden Dewan Serikat Buruh Australia, Michele O'Neil.

“Tidak ada pekerja yang harus memutuskan antara meletakkan makanan di atas meja atau mengisolasi diri dengan COVID-19,” kata O'Neil.

Pekan lalu, Australia mengembalikan pembayaran dukungan untuk pekerja lepas yang harus dikarantina.

Chief Medical Officer Australia, Paul Kelly, memperkirakan jumlah orang yang berakhir di rumah sakit akan segera mencapai rekor tertinggi, dan mendesak bisnis untuk membiarkan lebih banyak staf bekerja dari rumah.

Australia dapat menghadapi "jutaan" kasus baru selama beberapa pekan mendatang, pihak berwenang telah memperingatkan.

Sekitar 5.350 warga Australia saat ini dirawat di rumah sakit dengan COVID-19, tidak jauh dari rekor 5.390 yang tercatat pada Januari selama wabah BA.1, menurut data resmi. Jumlah kasus di negara bagian Queensland, Tasmania, dan Australia Barat sudah mencapai angka tertinggi sejak pandemi dimulai.

Banyak petugas kesehatan garis depan juga sakit atau dalam isolasi, yang semakin membebani sistem kesehatan.

Dokter Australia mengatakan masker harus diwajibkan di tempat-tempat dalam ruangan. “Kami tidak memiliki sabuk pengaman opsional, kami tidak memiliki batas kecepatan opsional. Ada banyak batasan pada kebebasan yang kami terima, karena itu adalah hal yang benar untuk dilakukan," kata Presiden Asosiasi Medis Australia, Omar Khorshid, kepada stasiun radio 2GB.

Pihak berwenang juga telah memperingatkan adanya keterlambatan pada orang-orang yang mengambil suntikan booster mereka.

Sejauh ini, 95 persen orang usia di atas 16 tahun memiliki dua dosis, membantu menjaga total kasus COVID-19 Australia di bawah sembilan juta dan kematian pada angka 10.884, jauh lebih rendah daripada banyak negara. Tetapi hanya sekitar 71 persen yang menerima tiga dosis atau lebih. (Reuters)

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Edu Fair
Back to Home