Loading...
EKONOMI
Penulis: Melki Pangaribuan 14:25 WIB | Selasa, 14 Februari 2017

Kemendag Pantau Harga Pangan untuk Tekan Inflasi

Stok beras yang disimpan di gudang di Kawasan Pergudangan Sunter, Bulog Divre DKI Jakarta, Jalan Perintis Kemerdekaan Nomor 1 Kelapa Gading, Jakarta Utara, hari Selasa (14/2). (Foto: Melki Pangaribuan)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag), Oke Nurwan, hari Selasa (14/2), mengatakan pihaknya terus memantau harga pangan guna menekan inflasi sesuai dengan target yang ditetapkan pemerintah sebesar empat plus minus satu persen pada tahun 2017.

Oke mengaku, Kemendag ditugaskan untuk menjaga target inflasi di 4+1 persen pada tahun 2017 dengan mengatur sejumlah komponen harga pangan bergejolak (volatile food).

“Ada (yang dilakukan). Jadi di Kementerian Perdagangan untuk membantu menekan inflasi atau menjaga target inflasi di empat plus minus satu di 2017 ini kita ditugaskan untuk mengatur di-volatile food. Jadi pangan terutama yang kontribusinya cukup besar,” kata Oke Nurwan kepada satuharapan.com, di Jakarta, hari Selasa (14/2).

Oke mengatakan, salah satu yang menjadi perhatian pemerintah adalah beras yang saat ini untuk ketersediaan dalam negeri mencukupi hingga enam bulan mendatang.

“Beras sekitar 3 persen kontribusinya. Nah itu yang harus kita jaga dari sekarang kita lakukan. Sementara ini sampai enam bulan mendatang kita masih aman,” kata Oke tanpa menyebutkan jumlah pastinya.

Bank Indonesia sebelumnya memperkirakan laju inflasi sepanjang 2017 bisa mencapai di atas empat persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi sepanjang 2016 lalu 3,02 persen.

Bank sentral menyatakan, upaya pengendalian inflasi ke depan akan menghadapi sejumlah risiko yang perlu terus diwaspadai, terutama terkait penyesuaian administered prices sejalan dengan kebijakan lanjutan reformasi subsidi energi oleh Pemerintah, serta risiko kenaikan harga volatile food.

Menurut Oke, Kemendag sedang melakukan langkah-langkah untuk menghindari inflasi, bahkan kalau bisa menjadikan deflasi untuk membantu dampak-dampak dari kebijakan administered prices, seperti BBM satu harga dan listrik.

“Jadi volatile food yang kita coba. Langkahnya tadi, sedang kita lakukan dan terutama dari saat ini sudah dijalankan terutama dalam rangka mempersiapkan puasa dan lebaran yang biasanya menyumbang inflasi yang cukup tinggi dari sekarang,” kata Oke.

Gubernur BI Agus Martowardojo saat ditemui di Kompleks Perkantoran BI, Jakarta, hari Jumat (20/1), mengatakan, pada tahun ini bank sentral akan lebih fokus mencermati perkembangan inflasi terutama dari komponen harga yang ditetapkan pemerintah (administered prices) dan harga pangan bergejolak (volatile food).

"Di 2017, perhatian terhadap inflasi harus betul-betul tinggi," kata Agus seperti dikutip dari Antara.

Kendati demikian, lanjutnya, untuk komoditas pangan lain seperti bawang merah kini sudah mengalami deflasi.

Agus mengatakan, upaya pengendalian inflasi harus dibarengi dengan peningkatan intensitas koordinasi dengan pemerintah, terutama untuk harga pangan bergejolak.

Koordinasi antara BI dan pemerintah terkait pangan tersebut akan difokuskan pada upaya menjaga ketersediaan pasokan dan distribusi pangan.

"Jangan sampai pasokan tidak ada dan akhirnya harga akan naik. Mau ada operasi pasar pun akan tetap naik," kata Agus.

Editor : Eben E. Siadari

Kampus Maranatha
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home