Loading...
EKONOMI
Penulis: Melki Pangaribuan 10:57 WIB | Rabu, 30 Oktober 2019

Kementan-BPS Sepakat Data Padi Seragam dalam 100 Hari

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (kiri) dan Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto pada pertemuan di Kantor BPS Jakarta, Selasa (29/10/2019). (Foto: Antara)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Kementerian Pertanian dan Badan Pusat Statistik sepakat untuk menuntaskan penyeragaman data luas baku sawah, khususnya untuk tanaman padi dalam kurun waktu 100 hari, sesuai target Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

Kesepakatan tersebut ditunjukkan dengan kedatangan Syahrul Yasin Limpo menemui Kepala BPS Suhariyanto di Kantor BPS Jakarta, Selasa (29/10). Dalam pertemuan tersebut, Mentan menegaskan bahwa pihaknya akan mengikuti data BPS sebagai acuan.

"Mulai hari ini, saya yakin penyesuaian data kita yang ada, yang kemungkinan terjadi perbedaan, bisa terselesaikan. Seperti janji saya, seratus hari. Saya kerja Insya Allah semua akan rampung. Intinya, (Kementerian) Pertanian ikut BPS," kata  Syahrul di Jakarta, Selasa.

Berdasarkan data yang diambil dari citra satelit melalui skema Kerangka Sampel Area (KSA), luas lahan baku sawah Indonesia turun menjadi 7,1 juta hektare, dari 7,75 juta hektare pada 2013.

Pemerintah masih terus melakukan verifikasi terhadap data yang dikeluarkan melalui Ketetapan Menteri ATR/Kepala BPN-RI No 339/2018 tanggal 8 Oktober 2018 tersebut.

Oleh karena itu, Syahrul meminta agar pengambilan sampel atau ubinan harus dilakukan bersama-sama antarlembaga terkait agar tidak ada perbedaan data. Selain itu, kedua pihak juga akan menyepakati tentang definisi lahan baku sawah yang bergeser penggunaannya untuk perkebunan.

"Definisi terhadap sawah misalnya. Kalau ditanami tembakau, masih sawah kan namanya. Definisi itu dilakukan penyesuaian di pertanian apa pun tanaman di dalamnya, lahan itu lahan baku sawah," kata Mentan.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan BPS akan bekerja sama dengan lima lembaga lainnya, yakni Kementan, Kementerian ATR/BPN, Badan Informasi Geospasial, LAPAN dan BPPT untuk penyeragaman data lahan baku sawah.

Suhariyanto menyepakati pada tahap awal, penyeragaman data akan difokuskan pada tanaman padi. Data produksi padi ini ditargetkan dapat dipublikasikan oleh BPS pada Januari 2020.

"Kami akan selesaikan yang padi dulu. Setelah itu akan merambah ke yang lainnya, bertahap. Tetapi bahwa target Pak Mentan 100 hari satu data padi dulu, kami akan selesaikan," kata Suhariyanto.

Setelah BPS, Mentan Akan Sambangi Kementerian ATR Bahas Data Sawah

Syahrul Yasin Limpo berencana mendatangi Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR) guna membahas penyesuaian data lahan baku sawah.

Mentan Syahrul Yasin Limpo mengatakan pihaknya berencana menyambangi kantor Menteri ATR/Kepala BPN Sofyan Djalil tersebut pada Kamis (31/10), usai bertemu dengan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto pada Selasa.

"Saya, hari Kamis, lusa ya akan bertemu dengan (Kementerian) ATR. Saya akan datangi Menteri ATR untuk duduk sama-sama lebih banyak mungkin definisi yang mereka pakai dalam melihat lahan baku sawah," kata Mentan Syahrul di Kantor BPS Jakarta, Selasa (29/10).

Syahrul menjelaskan rencana pertemuannya dengan Menteri ATR Sofyan Djalil guna menyatukan pemahaman dan definisi lahan baku sawah, terutama pada lahan-lahan yang bergeser penggunaannya untuk tanaman perkebunan.

Seperti diketahui, berdasarkan data yang diambil dari citra satelit melalui skema Kerangka Sampel Area (KSA), luas lahan baku sawah Indonesia turun menjadi 7,1 juta hektare, dari 7,75 juta hektare pada 2013.

Pemerintah pun masih terus melakukan verifikasi terhadap data yang dikeluarkan melalui Ketetapan Menteri ATR/Kepala BPN-RI No 339/2018 tanggal 8 Oktober 2018 tersebut.

Oleh karena itu, Syahrul meminta agar pengambilan sampel atau ubinan harus dilakukan bersama-sama antarlembaga terkait.

"Definisi terhadap sawah misalnya. Kalau ditanami tembakau, masih sawah kan namanya. Definisi itu dilakukan penyesuaian di pertanian apa pun tanaman di dalamnya lahan itu lahan baku sawah," kata Mentan.

Selain kedua lembaga tersebut, Mentah Syahrul juga berencana menyambangi Kementerian Perdagangan untuk melihat dan mengevaluasi data yang ada.

"Saya juga akan ke Kementerian Perdagangan. Ini penting sekali. Kalau tidak satu melihat 'basic data' yang ada, bagaimana melakukan evaluasi," kata dia. (Ant)

 


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home