Loading...
EKONOMI
Penulis: Melki Pangaribuan 14:46 WIB | Sabtu, 14 Mei 2016

Kiat Menangkan Persaingan: Menjadi Trendsetter

Ilustrasi. Gedung Indosat Jakarta. (Foto: id.techinasia.com)

SATUHARAPAN.COM - Anda haus? Dan, di dekat Anda sebuah vending machine (mesin penjaja) Cola-Cola?

Kini Anda tidak perlu repot-repot lagi memasukkan koin. Gunakan saja ponsel Anda untuk "membeli" sekaleng Coke dari mesin tadi.

Itulah salah satu kehebatan teknologi SMS yang diperagakan Indosat Multi Media Mobile (IM3) dalam suatu kesempatan.

Pengoperasian IM3 sejak Agustus 2001 merupakan bagian strategi bisnis "Four in One" Indosat yang tidak lagi sekadar menjadi penyelenggara telekomunikasi internasional (SLI).

Indosat memutuskan terjun ke bisnis telekomunikasi lengkap dan terintegrasi (full network service provider) sebagai penyelenggara seluler DCS-1800, yaitu pengembangan sistem GSM yang beroperasi di jalur 1800 MHz (IM3), internet dan multimedia (kemudian disebut Indosat Mega Media/IM2), jaringan backbone dan akses lokal yang berbasis tekonologi internet protokol (IP).

Sesuai visinya, IM3 bercita-cita untuk membentuk masyarakat multimedia mobile Indonesia, yaitu masyarakat yang menjadikan telepon seluler sebagai sarana komunikasi utama untuk suara, data, dan gambar serta menjadikannya sebagai bagaian penting dalam kehidupan sehari-hari.

Apa kelebihan IM3?

Selain kapasitas penanganan lalu lintasnya lebih besar, sistem DCS-1800 memiliki berbagai fitur termasuk aplikasi mobile data dan mobile commerce melalui teknologi General Packet Radio Service (GPRS) yang memberikan kecepatan akses data sampai 10 kali lipat dari sistem GSM 900.

Sistem itu, akan memungkinkan pelanggan IM3 melakukan komunikasi data bergerak yang efisien biaya dan secara bertahap dapat dikembangkan menjadi sistem telekomunikasi bergerak generasi ketiga atau 3G.

Teknologi generasi ketiga yang disebut UMTS (Universal Mobile Telecomunication System) bakal memiliki kecepatan transmisi sampai dua Mbps yang memungkinkan layanan berbentuk multimedia dan video conference.

Sistem pada generasi keempat (4G), lebih tak terbayangkan lagi sebab bakal memiliki kecepatan transmisi sampai 100 Mbps.

Dengan langkah tersebut, IM3 mendahului operator lain yang lebih mapan seperti Telkomsel, Satelindo, Excelcomindo maupun pemain baru Telkomobile - anak perusahaan PT Telkom untuk layanan seluler berbasis DCS-1800 - dalam hal layanan mobile internet berbasis teknologi GPRS.

Lalu siapa sasaran IM3?

Sasaran pasar IM3 adalah segmen berjiwa muda dan dinamis dengan umur 15-35 tahun. Mereka mahasiswa atau eksekutif muda yang merupakan early adopter (pemakai awal).

Berdasarkan teori Customer's Adoption Life Cycle hanya 2,5 persen pelanggan yang mau sukarela mencari teknologi mutakhir. Sedangkan 13,5 persen merupakan early adopter yakni kalangan bervisi tapi masih menunggu bukti terlebih dahulu dan 34 persen adalah early majority.

Perusahaan itu memiliki sekitar 150.000 pelanggan Smart (prabayar) dan Bright (pascabayar) sekitar 7.500 orang. Sasarannya hingga akhir tahun 2002 diharapkan mencapai 500.000 pelanggan. Sedangkan komposisi pelanggan IM3 terdiri dari 80-95 persen prabayar, sisanya merupakan pelanggan pascabayar.

Bila pada tahun 2001 layanan IM3 baru menjangkau Jawa, Bali, dan Batam, maka dalam dua tahun ke depan wilayah Indonesia lainnya segera disusul. Pada tahun 2002, perusahaan memusatkan diri pada pembangunan dan pengembangan kapasitas dan jaringan, sehingga layanan yang diberikan dapat lebih maksimal.

Teknologi GSM 1800 memungkinkan IM3 membangun BTS (base transceiver system) yang lebih rapat untuk mendapatkan kualitas maksimal dan melayani lebih banyak pelanggan.

Untuk itu, perusahaan menginvestasikan sebesar US$ 250 juta untuk membangun 1.300 BTS hingga tahun 2003. Saat itu jumlah BTS yang telah beroperasi sekitar 450.

Bagaimana dengan masih adanya keluhan blankspot pada beberapa lokasi di Jakarta?

Hasnul Suhaimi, Presiden Direktur IM3 tahun 2001-2002, telah menyiapkan solusinya.

"Dalam enam bulan ke depan kami merencanakan membangun 350 BTS baru, sebagian besar ada di Jakarta agar jaringan lebih rapat," katanya sebagaimana dikutip dalam buku "45 Kisah Bisnis Top Pilihan".

Sedangkan untuk wilayah lain, karena Indosat juga menjalin sinergi dengan Satelindo maka IM3 akan memanfaatkan jaringan Satelindo yang ada bila memasuki wilayah blankspot melalui kerja sama roaming nasional.

Oleh karena itu, jangan heran bila menemukan pemilik SIM Card Bright dan Smart yang merupakan pelanggan IM3 tiba-tiba di layar monitor ponselnya menampilkan logo SAT-C.

"Itu artinya mereka sedang memanfaatkan jaringan Satelindo," kata Hasnul seraya mempraktekkan fungsi tersebut pada ponselnya.

Trendsetter

IM3 memosisikan diri dengan strategi high value yakni menyediakan kualitas produk tinggi dengan harga medium untuk menarik pelanggan yang sensitif terhadap kualitas serta memberikan nilai manfaat uang yang dimiliki pelanggan (value for money).

"Kita tidak bermaksud untuk menjadi yang paling canggih teknologinya karena itu mudah dikejar, tetapi menjadi trendsetter melalui fasilitas SMS dan tool kits," katanya.

Selaih dilengkapi layanan GPRS, IM3 juga menyediakan fasilitas IOD (Information On Demand), yang disebut M3-Access berupa informasi berita, valas, horoskop, cuaca, dan jadwal acara bioskop. Tiap layanan tersebut memiliki tarif masing-masing.

Khusus berita, valas dan horoskop dipungut Rp 600, informasi bioskop Rp 900 (pascabayar) dan Rp 1.050 (prabayar), akses internet Rp 3.000, WAP CSD sesuai durasi Rp 400/menit untuk pasca bayar dan Rp 550/menit untuk prabayar.

Fasilitas GPRS masih digratiskan hingga bulan April 2002. Ada pula teknologi EFR (Enhanced Full Rate) yang merupakan teknologi pengolahan sinyal suara secara digital sehingga dihasilkan suara yang nyaring dan jernih.

"Ibaratnya, kalau operator lain masih radio AM, kita radio FM," Hasnul membandingkan.

Editor : Eben E. Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home