Loading...
RELIGI
Penulis: Bayu Probo 21:19 WIB | Kamis, 07 Agustus 2014

Kisah Keluarga Muslim Juru Kunci Makam Yesus Kristus

Salah satu keturunan juru kunci Gereja Makam Kudus—Holy Sepulchre—Adeeb Joudeh menjalankan kewajibannya dengan membuka pintu utama gereja di Yerusalem Timur tersebut. (Foto: ipsnews.net)

SATUHARAPAN.COM – Sudah ratusan tahun, klan Nusseibeh dan Joudeh menjadi juru kunci Gereja Holy Sepulchre—dipercaya sebagai kawasan Golgotha tempat  penyaliban dan makam Yesus Kristus—Gereja Makam Kudus. Dua keluarga Muslim ini dianggap berkah karena dapat jadi penengah di tengah perselisihan banyak denominasi gereja yang mengelola petilasan di Yerusalem Timur tersebut.

Keluarga Nusseibeh

Ketika Khalifah Umar bin Khattab memasuki Yerusalem, pada 637 M, sebagai bagian dari Penaklukan Syria, Patriark Sophronious kelahiran Damaskus, memberikan kunci-kunci Gereja Makam Kudus untuk disimpan oleh umat Islam. Khalifah, setelah mempertimbangkan, memutuskan untuk mempercayakan itu pada Abdullah bin Nusseibeh al-Maziniyya dari  suku al-Khazraj, yang terbesar dan pendukung paling kuat dari nabi Muhammad di Madinah.

Pada pertemuan itu sang Patriark sempat menawarkan supaya Khalifah Umar salat di dalam gereja yang dibangun atas perintah Ratu Helena—ibunda Kaisar Konstantinus I—ini. Namun, sang khalifah menolak. Ia menjawab, “Jika saya salat di gereja ini, kelak orang-orang sesudah saya bisa jadi menghancurkan gereja ini dan membangun masjid di atasnya. Mereka beralasan ini karena Umar pernah salat di ini.” Sang Khalifah lalu salat di lapangan di selatan gereja. Dan, 400 tahun kemudian di tempat salat ini, dibangun Masjid Umar yang berdampingan dengan Gereja Makam Kudus.

Keluarga Nusseibeh melaksanakan tugas kehormatan ini selama berabad-abad sampai Tentara Salib menduduki Yerusalem pada 1099 M, dan orang-orang dari keluarga yang lolos dari pembantaian, berlindung di desa Bureen, di salah satu puncak bukit kota Nablus.

Pada 1187, Sultan Salahuddin (Saladin) berhasil mengalahkan tentara Salib Eropa dan menduduki kembali Yerusalem, setelah hampir seratus tahun pendudukan Eropa, menyamar di bawah bendera Perang Salib.

Pada 1191 Sultan Saladin dari Mesir dan Richard the Lion Heart dari Inggris menandatangani perjanjian damai di Ramleh. Salah satu keputusannya adalah peziarah Eropa diizinkan mengunjungi Yerusalem. Sultan Saladin mempercayakan sekali lagi kunci Makam Kudus kepada keluarga Nusseibeh.

Keluarga Joudeh

Selama era Ustmaniyah (Ottoman), khalifah Turki tersebut sadar akan pentingnya Makam Kudus untuk orang Kristen. Mereka juga tahu adanya perselisihan abadi antara beberapa denominasi Kristen yang mengelola gereja itu. Mereka terus mempercayakan tugas menjaga makam itu kepada keluarga Nusseibeh. Namun, sejak 1611, mereka menugaskan keluarga Joudeh menjadi membawa kunci Makam. Dan, sejak itu Di pagi hari, anggota laki-laki dari klan Joudeh membuka pintu gereja, sementara itu ditutup pada malam hari oleh anggota dari klan Nusseibeh hingga hari ini.

Dinasti Utsmani juga menugaskan keluarga Yerusalem lain Mustafa Agha Darwis untuk berbagi dengan keluarga Nusseibeh. Mustafa bertugas mengumpulkan pajak untuk jemaah di pintu masuk gereja. Pendapatan itu untuk mendukung yayasan filantropi Khasqi Sultan yang mendistribusikan makanan gratis untuk orang miskin dari Yerusalem dan peziarah yang kurang mampu. Khasqi Sultan—seorang etnis Rusia—adalah istri Sultan Suleiman Agung.

Namun saat muncul fatwa penghapusan iuran pada abad kesembilan belas, peran keluarga Darwis berakhir. Peraturan ini dicabut saat Mohammad Ali dari Mesir dan putranya Ibrahim Pasha memerintah Yerusalem dan Palestina pada dekade awal abad kesembilan belas.

Penghasilan keluarga Nusseibeh dan Joudeh, pikir sebagian besar nominal, diberikan dalam bentuk donasi disumbangkan oleh berbagai denominasi Kristen, setiap tahun. Keluarga Nusseibeh memperoleh dua pertiga, sementara keluarga Joudeh memperoleh sepertiga.

Berperan Saat Paskah

Tiap perayaan Paskah, saat ibadah Sabtu Sunyi, ketika orang  Kristen menyalakan Api Kudus, setiap tahun, anggota keluarga Nusseibeh bersama uskup yang ditunjuk setiap tahun untuk menerima Api Kudus dan mendistribusikannya ke jemaah yang hadir di situ merayakan kesempatan, tradisi berlangsung sejak 900 tahun lalu.

Menurut sejarawan Omar al-Barghouti Assaleh pada awal-awal kekuasaan kekhalifahan, berbagai denominasi Kristen meminta Khalifah Umar untuk menengahi perselisihan. Orang-orang Kristen memintanya untuk memilih salah satu dari orang-orang untuk menjadi penengah, dan ia memilih keluarga Nusseibeh, dari suku Khazraq Madinah, yang berada di barisan depan pasukan Arab. Ini adalah salah satu yang tertua, memang keluarga tertua di Yerusalem, yang sudah ada sejak 14 abad lalu. Ketika Saladin merebut Yerusalem ia mengembalikan kunci keluarga. (nytimes.com/nuseibehfamily.net)

Artikel terkait keluarga Nusseibeh, Joudeh, dan Makam Kudus dapat Anda baca di:


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home