Loading...
SAINS
Penulis: Sabar Subekti 07:30 WIB | Sabtu, 20 Juni 2020

Krisis Keuangan Melanda Rumah Sakit di Lebanon

Suasana di ibu kota Lebanon, Beirut. (Foto: dok. Reuters)

BEIRUT, SATUHARAPAN.COM-Krisis keuangan melanda rumah sakit Lebanon di tengah pandemi virus corona akibat kekacauan ekonomi yang sedang berlangsung di negara itu. Pada hari Senin, salah satu dari dua perusahaan yang menyediakan oksigen ke rumah sakit hanya akan melayani dengan pembayaran tunai dalam dolar, ketika pasokan makin langka di negara ini.

Masalah lain yang dihadapi rumah sakit Lebanon adalah kekurangan nitro oksida, yang digunakan dalam produksi gas untuk anestesi.

Sleiman Haroun, Presiden Syndicate of Hospitals di Lebanon, mengatakan tidak mungkin melakukan operasi tanpa zat esensial ini. "Ada 136 rumah sakit swasta di Lebanon dan sekarang mereka telah berhenti menerima kasus baru, kecuali mereka adalah kasus darurat yang disubsidi oleh Bank Sentral Lebanon," katanya kepada Arab News.

Importir pasokan medis menghadapi masalah karena Bank Sentral menunda persetujuan transfer uang, menghambat pembayaran untuk impor pasokan medis. "Pembayaran iuran pemerintah ke rumah sakit swasta tidak dilakukan secara teratur, termasuk iuran dalam pound Lebanon dari Kementerian Kesehatan, Dana Jaminan Sosial Nasional dan dana kesehatan militer... Pembayaran pemerintah bahkan lebih sedikit daripada yang harus kita bayarkan kepada importir pemasok medis, dan pembayaran ini didasarkan pada nilai tukar resmi pound Lebanon (LBP) 1.507 untuk satu dolar AS,” katanya.

Pemerintah telah berutang hampir US$ 1,3 miliar sejak 2011 ke rumah sakit swasta, sementara fasilitas ini berutang kepada penyedia pasokan medis sampai US$ 350 juta selama dua tahun terakhir.

Bergantung pada Dolar

Ketidakmampuan untuk merawat pasien tidak sesuai dengan komitmen Lebanon sebagai negara anggota Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya.

Menurut Human Rights Watch, perjanjian ini mengatakan negara-negara harus menjamin hak setiap individu atas standar kesehatan fisik dan mental yang terbaik. Negara harus mengadopsi langkah-langkah yang diperlukan untuk pemenuhan kesehatan medis, dan mencegah “berkurangnya kualitas layanan kesehatan” seperti ketidakmampuan orang untuk mendapatkan obat yang sebelumnya tersedia untuk mereka.

Ekonomi Lebanon selalu bergantung pada aliran dolar yang stabil dan Bank Sentral telah mematok pound Lebanon ke mata uang AS sejak 1997, menurut nilai tukar tetap LBP 1.507.

Namun, dalam dekade terakhir jumlah dolar di pasar Lebanon terus menurun karena mundurnya pertumbuhan ekonomi, penurunan pengiriman uang ekspatriat, dan perang di Suriah.

Bencana Medis

Pada paruh kedua 2019, dengan penurunan kepercayaan pada ekonomi Lebanon, deposan besar menarik uang mereka dari bank, memperburuk krisis keuangan negara dengan kelangkaan dolar yang semakin meningkat di pasar.

Sektor perbankan, dalam menanggapi protes jalanan tahun lalu, membatasi transfer uang ke luar negeri. Ini membekukan deposito AS, menumpuk tekanan pada pound Lebanon yang tenggelam nilainya sampai LBP 5.200 per dolar di pasar gelap dengan nilai resmi LBP 3.200 setelah Bank Sentral mulai memasok pasar dengan dolar AS.

Lebanon mengimpor semua pasokan medisnya dari luar negeri. Rumah sakit melakukan pembayaran dalam pound Lebanon, sementara importir membayar dalam dolar sesuai dengan kurs tetap resmi.

Bank Sentral telah memutuskan untuk mensubsidi 85 persen pembayaran untuk peralatan medis dalam dolar, sementara perusahaan harus menyediakan 15 persen dari dolar baru yang dibeli dengan kurs pasar.

"Bank Sentral memutuskan untuk mengklasifikasikan nitro oksida sebagai produk industri yang tidak memenuhi syarat untuk subsidi, sedangkan itu adalah produk medis par excellence, dan tidak ada operasi yang dapat dilakukan tanpa anestesi jenis ini," kata Haroun. “Pabrik-pabrik di Lebanon yang memproduksi oksigen juga disubsidi dan membutuhkan suku cadang yang harus diimpor dari luar negeri melalui uang segar, yang meningkatkan tekanan pada rumah sakit. Semua rumah sakit mengambil langkah penghematan dengan menutup departemen dan memberhentikan karyawan dan staf, dan jika situasinya terus berlanjut seperti ini, kita sedang menuju bencana medis.”

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
LAI Got talent
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home