Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Sotyati 12:47 WIB | Rabu, 02 November 2016

Kuweni, si Mangga Harum Terancam Kepunahan

Kuweni (Mangifera odorata, Griffith). (Foto: Wikipedia)

SATUHARAPAN.COM –  Dari sekian banyak genus mangga, buah kuweni sangat mudah dikenali. Baunya wangi menusuk. Daging buah kuweni padat, lembut, dan seratnya halus, walaupun kulit buahnya agak tebal.

Jenis ini dikenal dengan berbagai nama serupa di banyak wilayah. Di Jawa, kuweni dikenal juga dengan nama kweni atau kaweni, sementara di Sunda dikenal dengan nama kaweni, kawini, bembem. Penyebutan di Bali pun hampir sama, kweni atau weni.

Nama daerah lain adalah kweni, asam membacang, macang, lekup (Melayu); kuwini, ambacang, embacang, lakuik (Minangkabau); kuweni, kebembem (Betawi); kabeni, beni, bine, pao kabine (Madura); pao kaeni (Pulau Sapudi); mangga kuini (Sulut); serta kuini, guin, koini, kowini, koine, guawe stinki, sitingki, hitingki (aneka sebutan di Maluku).

Di wilayah Sabah, Malaysia, buah ini disebut huani atau wani, hampir sama dengan nama di Filipina, yakni huani, uani, atau juani.

Sama dengan mangga, mengutip dari Wikipedia, kuweni juga populer sebagai tanaman pekarangan. Pohon ini ditanam terutama untuk diambil buahnya yang disukai orang karena keharumannya. Buah kuweni masak, dimakan sebagai buah meja atau dijadikan campuran minuman.

Mutu buahnya bervariasi bergantung pada kultivarnya. Yang dianggap paling baik ialah yang baunya tak begitu menyengat, rasanya manis, dengan daging tidak begitu berserat, dan banyak sari buahnya.

Orang juga memanfaatkan inti bijinya untuk ditumbuk dijadikan tepung, sebagai bahan pembuatan makanan sejenis dodol. Kulit batang kuweni digunakan sebagai bahan obat tradisional. Selain itu, kuweni juga bermanfaat dalam industri serta sebagai bahan obat-obat tertentu.

Kuweni, yang memiliki nama ilmiah Mangifera × odorata, Griffith, adalah sejenis mangga-manggaan yang masih berkerabat dekat dengan bacang (Mangifera foetida, Lour). Bedanya, daging buah kuweni lebih padat daripada bacang. Serat buahnya juga lebih halus. Buah bacang lebih bulat dan berkulit lebih keras dan tebal, dengan banyak bintik lentisel berjarak agak rapat.

Beberapa referensi menyebutkan kuweni tidak pernah ditemukan hidup liar. Sebab itu para pakar meyakini tumbuhan ini merupakan hasil silangan alami antara mangga dan bacang. Hasil penelitian R Kiew, LL Teo, dan YY Gan (2003),  mendukung kesimpulan itu.

Pohon mangga kuweni tumbuh baik di dataran rendah sampai ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan air laut, berbeda dengan jenis mangga lain yang bernilai ekonomis. Wilayah yang disukainya adalah daerah dengan curah hujan yang agak tinggi namun merata sepanjang tahun, sehingga tanaman ini cocok untuk menggantikan mangga yang umumnya tumbuh lebih baik di daerah kering. Kuweni biasanya diperbanyak dengan biji.

Harumnya kuweni, baik buah maupun bunganya, dikutip dari fruitipedia.com,  mengantar penamaan spesiesnya dengan “odorata” (odor sama dengan bebauan).

Penyebaran dan Khasiat Kuweni

Kuweni adalah tumbuhan pohon berukuran sedang, dengan tinggi antara 10-15 m. Pohonnya berbatang lurus dengan tajuk bundar atau bundar telur melebar. Seluruh bagian tanaman, mengutip dari Wikipedia, apabila dilukai, akan mengeluarkan getah berbau terpentin, yang mula-mula bening namun lama kelamaan menjadi cokelat kehitaman. Getah ini bersifat gatal bila terkena kulit.

Daunnya tunggal, tersebar, bentuknya lonjong sampai lanset, dengan ujung daun melancip pendek, bertangkai 3–7 cm yang pangkalnya menggembung. Helai daun menjangat, dengan urat-urat daun yang tampak jelas terutama di sisi bawah.

Karangan bunga dalam malai serupa piramida di ujung ranting, 15–50 cm panjangnya, dengan banyak kuntum bunga kecil-kecil. Bunga berbilangan 5 (-6), dengan diameter sekitar 6 mm, berbau harum. Kelopak bundar telur, merah cokelat atau kehijauan. Daun mahkota bentuk lanset, dengan pangkal kekuningan dan ujung merah jambu pucat. Panjang tangkai sari sekitar 5 mm dan tangkai putik 3–5 mm.

Buah kuweni adalah buah batu berbentuk lonjong-jorong miring, berukuran 10-13 x 6–9 cm. Kulitnya berwarna hijau sampai kekuningan, dengan bintik-bintik lentisel berwarna kecokelatan yang jarang-jarang. Kulit buah agak tebal, 3–4 mm, dengan daging berwarna kuning sampai agak jingga.

Kuweni, menurut World Conservation Monitoring Centre 1998, adalah tumbuhan asli Guam, Filipina, Thailand, Vietnam, yang kemudian menyebar ke Indonesia (Jawa, Kalimantan, Sumatera), Malaysia (Semenanjung Malaysia, Sabah, Sarawak), dan Singapura.

Wikipedia menyebutkan pohon buah ini umum dibudidayakan di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Semenanjung Malaya, dan Filipina bagian selatan. Selain itu diketahui pula ditanam di Vietnam, Guam, dan Kepulauan Christmas. Meski demikian, budidaya kuweni secara intensif belum dilakukan.

Badan Konservasi Keanekaragaman Hayati Dunia pada 2006 memasukkan Mangifera odorata ke dalam daftar IUCN Red List of Threatened Species kategori “vulnerable” .

Walaupun tidak banyak, tercatat ada beberapa peneliti yang mengambil kuweni sebagai objek penelitian. Souvia Rahimah STP MSc, Ir Marleen Herudiyanto MS, dan Herlina Marta STP dari FTIP Universitas Padjadjaran (2008), seperti dikutip dari lppm.unpad.ac.id, melalui penelitian “Kajian Perbandingan Bubur Mangga Kweni (Mangifera ordorata Griffith) dengan Bubur Bayam (Amaranthus tricolor L) terhadap Beberapa Karakteristik Mix Leather Mangga-Bayam”, melihat kemungkinan mengembangkan kuweni sebagai fruit leather dengan mencampurkannya dengan bayam.   

Fruit leather merupakan salah satu produk makanan ringan dari hancuran buah-buahan (puree) yang dikeringkan dalam oven atau dehidrator yang berbentuk lembaran tipis dengan konsistensi dan rasa yang khas bergantung pada jenis buah yang digunakan. Fruit leather dapat dibuat dari satu jenis buah atau campuran beberapa macam buah-buahan, atau juga campuran buah dan sayuran yang dapat disebut sebagai mix leather. Salah satu buah dan sayur yang dapat digunakan mix leather itu adalah mangga kuweni dan bayam.

Lebih kurang 70 persen dari buah kuweni dapat dimanfaatkan. Per 100g bagian buahnnya mengandung air water 80g, protein 0.9g, abu 0.6g, karbohidrat d termasuk di dalamnya serat 18.5g, karoten ekivalen 0.36mg, niasin 0.7mg, dan vitamin C13 mg.  Buah itu mengandung energi 290kj/100g.

Buah kuweni mengutip dari fuitipedia.com, dimanfaatkan untuk membuat setup buah, acar, dan asinan.  Di Jawa, bijinya dimanfaatkan sebagai tepung untuk dibuat dodol dan jenang pelok. Untuk mengurangi cairannya yang tajam pada kulitnya,  orang sering mencelupkan buahnya ke dalam air perasan jeruk.

Kulit pohonnya dimanfaatkan dalam industri sebagai campuran kosmetik.

Situs tropical.thefrens.info menyebutkan empat varietas dalam kuweni.

Pertama, bembem, bentuk paling inferior. Buahnya berbau tajam menyengat , mengingatkan pada bau terpentin. Kedua, kaweni yang lebih sedikit serat buahnya, demikian juga keharumannya. Varietas ini paling bagus untuk buah konsumsi.  Gandarassa,  varietas ketiga, banyak dijumpai di daerah Banten. Varietas ini kurang manis, bau kurang menyengat, dan sangat berair. Sangay adalah vaietas terakhir, yang dikenali dari kulit buahnya  yang menjadi kekuningan matang.

Dalam tradisi pengobatan tradisional, kulit pohon acap dimanfaatkan sebagai pengobatan luar hystero-epilepsy.

Tajuk pohon yang indah, mengantarkan tumbuhan ini dipilih menjadi pohon peneduh di kebun sayuran atau kebun pisang. 

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home