Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 18:48 WIB | Kamis, 02 Mei 2019

Lovebird, Burung Cantik yang Setia

Lovebird (Agapornis fischeri). (Foto: fineartamerica.com)

SATUHARAPAN.COM – Lovebird termasuk salah satu jenis burung yang banyak diminati belakangan ini, karena warnanya yang cantik. Lovebird juga dinilai punya karakter setia kepada pasangan.

Burung yang termasuk spesies beo kecil ini, memiliki suara yang merdu dengan berbagai jenis varian menarik untuk dipelihara. Tidak hanya sebagai burung klangenan, lovebird juga dikenal sebagai burung perlombaan yang memiliki kicauan unik dan ngekek panjang.

Lovebird, atau burung cinta ini adalah jenis burung berparuh bengkok yang termasuk ke dalam keluarga Psittacidae.

Lovebird, menurut Wikipedia, adalah satu burung dari sembilan jenis spesies genus Agapornis (dari bahasa Yunani “agape” yang berarti cinta, dan “ornis” yang berarti burung). Lovebird berukuran kecil, antara 13 sampai 17 cm dengan berat 40 hingga 60 gram, dan bersifat sosial.

Nama burung ini berasal dari kelakuan yang umum diamati bahwa sepasang burung cinta akan duduk berdekatan dan menyayangi satu sama lain. Sifat pasangan burung cinta adalah monogami di alam bebas. Umur hidup rata-rata mereka 10 sampai 15 tahun.

Kondisi alam yang disukai burung lovebird adalah lahan kering dan iklim yang terik. Burung ini bersarang di cabang-cabang pohon, lubang lumpur yang mongering, dan lubang pohon. Terkadang juga ditemukan di bangunan buatan manusia yang terdapat di tepi hutan atau perkebunan.

Dalam penangkaran, burung lovebird bisa beradaptasi di berbagai kondisi iklim. Penyebaran lovebird sebagai hewan peliharaan cukup meluas. Burung ini mudah dijinakkan dan dipelihara, bahkan bisa dilatih untuk atraksi.

Morfologi Love Bird

Lovebird fischeri yang memiliki nama ilmiah Agapornis fischeri, menurut Wikipedia, adalah spesies nuri kecil dari genus Agapornis. Awalnya burung ini ditemukan pada akhir abad ke-19, dan pertama kali dibiakkan di Amerika Serikat pada tahun 1926. Nama ilmiah diambil dari nama penjelajah Jerman, Gustav Fischer.

Habitat asli burung ini adalah area kecil sebelah utara negara Tanzania, di Taman Nasional Serengeti. Keberadaan lovebird fischeri saat ini terancam punah akibat perdagangan burung ilegal.

Ukuran tubuh lovebird, mengutip dari unila.ac.id, beratnya antara 25 – 58 gram. Warna bulu lovebird fischeri didominasi warna hijau. Pada bagian dahi berwarna orange cerah kemerahan, sedangkan bulu leher dan tenggorokan berwarna orange muda. Pada bulu bagian sayap berwarna hijau tua. Bulu punggung juga didominasi warna hijau, tetapi bagian bawah berwarna hijau muda. Adapun, bulu bagian ekor atas berwarna biru violet lembut.

Paruh terdiri atas tulang atas dan tulang bawah yang ditutupi selubung keratin atau rhamphotheca. Bentuk paruh bervariasi bergantung pada jenis makanan dan cara hidup spesies. Paruh burung pemakan biji-bijian pada ordo Psittaciformes berbentuk melengkung di bagian atas dan besar, sedangkan paruh bagian bawah kecil berbentuk seperti kuku kuda.

Paruh lovebird fischeri berwarna merah kekuningan hingga gelap, kelopak mata memiliki lingkaran kulit berwarna putih, dan kulit kaki berwarna abu-abu muda.

Agapornis fischeri disebut juga sebagai lovebird kacamata fischeri karena memiliki mata yang dilingkari kulit berwarna putih seperti kacamata (klep), sedangkan beberapa jenis Agapornis sp., lainnya tidak memiliki mata yang dilingkari kulit berwarna putih yang dikenal sebagai nonkacamata (nonklep).  

Perkembangbiakan

Agapornis fischeri liar, mengutip dari unila.ac.id, berkembang biak pada musim kering antara Januari hingga Juli. Pada rentang waktu tersebut, spesies ini akan membangun sarang di lubang-lubang pohon, rongga-rongga tembok, atau di pangkal pelepah pohon pakis, dan palem. Sarang yang dibuat berasal dari daun-daunan atau ranting kayu yang kering.

Di alam liar, lovebird fischeri bertelur 3-6 butir telur pada musim kemarau (Januari sampai Juli). Inkubasi berlangsung antara 21-23 hari dan anakan membutuhkan waktu 5-6 minggu untuk bisa mandiri.

Telur pertama lovebird ditelurkan sekitar hari ketujuh hingga sepuluh hari setelah kopulasi berwarna putih, berbentuk lonjong, dan lebih besar dari telur parkit.  Anak lovebird mulai meninggalkan sarang setelah 35 – 50 hari, dan lovebird muda yang telah makan sendiri lebih baik disapih karena sewaktu-waktu induk dan pejantannya dapat menyerang.  

Faktor pendukung keberlangsungan hidup dalam usaha penangkaran adalah pakan. Beberapa zat makanan utama dalam bahan makanan adalah protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan air harus diusahakan dapat terpenuhi.

Pemeliharaan Lovebird Fischeri

Lovebird fischeri, mengutip dari Wikipedia, berukuran kecil tetapi sangat aktif dan harus diberi banyak ruang agar dapat bergerak bebas. Sangkar untuk satu lovebird minimal harus berukuran 45 cm dan di dalamnya diberikan dua batang tempat bertengger, agar burung bebas bergerak melompat dari batang satu ke yang lain. Untuk sepasang lovebird disarankan kandang persegi berukuran 40 X 60 cm.

Lantai sangkar idealnya dilapisi dengan kertas. Lembaran kertas dipotong seukuran dengan dasar sangkar, agar memudahkan ketika kita hendak membersihkan kotorannya. Tinggal mengganti kertas alas kotoran. Itu adalah cara terbaik untuk menjaga kesehatan burung.

Jangan menempatkan kandang di tempat yang terkena sinar matahari langsung lebih dari dua jam karena dapat mengakibatkan burung kepanasan. Kandang disarankan diletakkan di area rumah yang terdapat banyak aktivitas karena lovebirds fischeri sangat sosial dan suka menjadi pusat perhatian.

Budidaya Lovebird Fischeri

Lovebirds fischeri sangat mudah dikembang biakkan dalam penangkaran koloni. Pada usia kurang lebih satu tahun biasanya secara alami mereka akan mulai berpasang-pasangan, kemudian mulai bersarang. Lovebirds fischeri bersifat monomorfik (jantan dan betina tidak dapat dibedakan secara visual).

Lovebird akan bertelur kurang lebih 10 hari setelah kawin, kurang lebih tiga sampai delapan butir telur dengan jangka waktu bertelur satu hingga dua hari (total waktu bertelur antara satu hingga dua minggu) dan masa inkubasi (mengeram) sekitar 21 - 23 hari.

Karena selisih pada saat bertelur, hambatannya adalah terdapat perbedaan masa penetasan telur sehingga terdapat anakan yang berukuran kecil dan biasanya mati karena kalah bersaing pada saat meminta lolohan ke induk.

Hambatan itu dapat diatasi dengan cara mengambil anakan lovebird yang berukuran besar untuk dilakukan handfeeding (diloloh sendiri oleh pemilik), dan menyisakan anakan burung berukuran kecil diloloh oleh indukan.

Indukan lovebird yang sedang meloloh sebaiknya diberi banyak makanan, jagung muda sangat direkomendasikan. Kedua indukan (jantan dan betina) merawat anakan secara bersama-sama sampai anakan lovebird siap untuk mandiri.

Budi Prawoto, dalam bukunya Memelihara dan Menangkar Lovebird (Penerbit Sahabat Klaten, tahun 2011), biji jewawut, millet, bijian pakan kenari, biji matahari, dan biji sawi merupakan pakan utama lovebird. Lovebird perlu diberi pakan tambahan berupa kangkung, sawi putih, bayam, wortel, brokoli, dan tauge, yang diberikan setiap hari atau bergantian.

Lovebird juga perlu diberi pakan dengan sumber mineral, seperti tulang sotong . Pemberian pakan yang  bervariasi lebih dianjurkan daripada hanya satu atau dua jenis pakan.

Perawatan lovebird dewasa tidak rumit. Perlengkapan kandang seperti wadah pakan dan air minum dijaga kebersihannya agar tidak menimbulkan bibit penyakit. Pakan dan air minum dikontrol dua kali sehari, pagi dan sore hari.

N Kaleka dan NK Haryadi, dalam bukunya, Mencetak Lutino & Varian Eksotis Lainnya (Penerbit Visi Mandiri, Tahun 2013, Surakarta), menyebutkan pemberian pakan tidak perlu berlebihan, sehingga kesegaran pakan dapat selalu terjaga dan sisa pakan tidak menimbulkan sumber penyakit.  

Anne Johnson, dalam tulisannya, Shower Power-Bathing Birds FAQ. Winged Wisdom Pet, Bird Magazine, Enzine (1998), mengatakan grooming (penampilan diri) merupakan aspek penting lain dari perawatan harian untuk menjaga kesehatan yang optimal. Mandi termasuk dalam kategori grooming. Mandi rutin dapat meningkatkan penampilan burung dan menjaga bulu dalam kondisi prima.

Selain itu, mandi juga sebagai sarana membentuk ikatan kuat antara kawanan dengan saling bersolek satu sama lain. Banyak burung akan menikmati mandi di sebuah wadah besar. Sepasang burung yang bersarang akan memanfaatkan air di dalam kandang sehingga diperlukan sesering mungkin mengganti air yang lama. Hal itu akan memungkinkan untuk mengatur kelembapan dalam nest box (kotak sarang) tersebut .

Lovebird adalah burung yang sangat vokal, mengeluarkan suara keras dan bernada tinggi, yang dapat mengganggu tetangga. Mereka membuat kebisingan sepanjang hari, tetapi terutama pada waktu-waktu tertentu dalam sehari. Namun, fischeri tidak sekeras beberapa varietas lovebird lainnya. Walaupun sering bersorak, mereka tidak berteriak seperti burung beo yang lebih besar. Tingkat kebisingan meningkat secara substansial ketika terlibat dalam ritual pra-kawin.

Menurut Yudiantoro dan Maloedyn Sitanggang dalam buku  Si Cantik Bersuara Merdu, edisi 1 (Penerbit AgroMedia, Jakarta 2011), lovebird merupakan burung pilihan penggemar burung kicauan. Burung yang memiliki irama dan frekuensi kicauan berulang-ulang disebut burung berkicau atau burung penyanyi (song bird).

Proses pembelajaran dalam melatih burung berkicau lebih penting daripada hanya memiliki bakat. Song learning efektif dilakukan pada fase kritis (critical period) ketika sel-sel saraf dan pusat suara yang terdapat di otak sedang berkembang, sejak menetas sampai umur 60 hari dan mulai belajar bernyanyi umur 90 hari.

Anang Dewanto dan Maloedyn Sitanggang dalam buku Buku Pintar Merawat & Melatih Burung Kicauan (Penerbit AgroMedia Pustaka, 2009), menyebutkan terdapat beberapa cara melatih burung berkicau, meliputi menggunakan burung kicau sejenis atau jenis berbeda, dan melatih dengan perangkat elektronik seperti kaset atau bentuk rekaman suara lain.

Lovebird sangat aktif dan suka mengunyah sesuatu, dan menyayangi pemiliknya. Lovebird menikmati dan membutuhkan interaksi teratur dari pemiliknya. Lovebird betina seharusnya lebih agresif daripada jantan tetapi keduanya bisa membuat hewan peliharaan yang baik, dengan kesabaran dan pelatihan yang benar.

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home