Loading...
RELIGI
Penulis: Reporter Satuharapan 13:25 WIB | Selasa, 27 Agustus 2019

Majelis Agama untuk Perdamaian Serukan “Kesejahteraan Bersama”

Konferensi Agama untuk Perdamaian ke-10 (the 10th World Assembly of Religious for Peace), dalam sebuah deklarasi pada tanggal 23 Agustus 2019, menyerukan untuk menjaga masa depan dan memajukan kesejahteraan bersama. (Foto: Religious for Peace)

LINDAU, SATUHARAPAN.COM – Konferensi Agama untuk Perdamaian ke-10 (the 10th World Assembly of Religious for Peace), dalam sebuah deklarasi pada tanggal 23 Agustus 2019, menyerukan untuk menjaga masa depan bersama dan memajukan kesejahteraan bersama. Pertemuan Majelis Agama untuk Perdamaian Dunia diadakan di Lindau, Jerman, dihadiri 900 orang dari 125 negara.

“Kami berterima kasih atas perjalanan 49 tahun untuk tetap fokus pada tekad membangun perdamaian dan berbicara untuk mereka yang paling membutuhkan,” demikian bunyi pernyataan tersebut. “Kami adalah aliansi kepedulian, kasih sayang, cinta-kasih.”

Agama-agama untuk Perdamaian Dunia itu mengakui dengan sedih bagaimana komunitas-komunitas agama telah gagal selama ini. ”Hati kami berduka atas penyalahgunaan agama kami, terutama cara mereka memelintirnya untuk memicu kekerasan dan kebencian,” bunyi teks tersebut, “Aliansi kami menghormati perbedaan agama, kami melayani siapa pun yang memerlukan.”

Kebebasan dari segala jenis telah diserang di seluruh dunia, lanjut deklarasi. “Di bidang ekonomi, segelintir orang terkaya memiliki kekayaan lebih dari empat miliar orang,” bunyi teks itu. “Sudah terlambat waktunya: kita dipanggil untuk segera bertindak.”

Kesejahteraan, secara intrinsik adalah berbagi, deklarasi itu menyatakan. “Membantu yang lain, (berarti) kita dibantu; melukai yang lain, kita akan melukai diri kita sendiri,” bunyi teks itu. “Kami sepenuhnya mengakui peran yang tak ternilai dari perempuan dan pemuda, dan akan terus mengarusutamakan kontribusi mereka yang tak tergantikan.”

Deklarasi itu mencatat, kita dipanggil untuk menunjukkan dengan contoh berlandaskan kebebasan. “Menumbuhkan kebajikan (akan) mengatasi ketidaktahuan, egoisme individu, dan egoisme kelompok yang merusak komunitas yang autentik,” demikian bunyi teks tersebut, “Kebaikan tertinggi bagi kita adalah yang sakral, meskipun kita memahaminya secara berbeda.”

Deklarasi itu mengungkapkan komitmen untuk mencegah konflik kekerasan. “Kami berkomitmen untuk mengintegrasikan upaya penyembuhan ke dalam semua pekerjaan resolusi konflik kami,” teks tersebut berbunyi. “Untuk memperbarui komitmen kami terhadap pelucutan nuklir, kami berjanji untuk menjadi mitra penuh Kampanye Internasional untuk Menghapuskan Senjata Nuklir.”

Mempromosikan masyarakat yang adil dan harmonis adalah prinsip lain dari deklarasi.

“Kami bersyukur bahwa aktor dan lembaga multi-agama bekerja untuk membangun masyarakat yang adil dan harmonis dengan semangat kepedulian dan komitmen yang kuat terhadap keadilan,” bunyi pernyataan itu, “Kami berkomitmen untuk menanamkan rasa hormat, kebersamaan, dan solidaritas yang penting untuk mempromosikan, membangun, dan mempertahankan komunitas yang adil, harmonis, dan beragam.”

Konferensi Agama untuk Perdamaian berjanji untuk melindungi anak-anak, individu dan komunitas yang rentan, dan mengadvokasi hak asasi manusia dan kesejahteraan mereka dalam menghadapi penderitaan berat.

“Kami juga berkomitmen untuk upaya bersama dalam komunitas kami, dengan mitra masyarakat sipil dan pemerintah, untuk memastikan prinsip kebebasan beragama di seluruh dunia,” demikian bunyi pernyataan tersebut, “Kami, orang-orang beriman, rindu untuk melindungi situs-situs suci dan merasa aman di dalamnya.”

Komitmen untuk melindungi bumi juga diuraikan, “Kami akan memperjuangkan akuntabilitas pribadi untuk konsumsi berkelanjutan, martabat tenaga kerja, dan distribusi kekayaan yang adil,” kata pernyataan itu.

“Kami berkomitmen untuk mengambil tindakan segera terhadap krisis iklim.” (oikoumene.org)

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home