Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 07:10 WIB | Selasa, 14 April 2020

Maroko Tangkap 4.300 Pelanggar Aturan Darurat

Otoritas Maroko mengenakan masker memeriksa orang-orang di sebuah blok jalan di ibukota Rabat, pekan lalu selama krisis pandemi virus coronavirus COVID-19. (Foto: dok. AFP)

RABAT, SATUHARAPAN.COM-Lebih dari 4.300 orang ditangkap pada akhir pekan di Maroko karena melanggar aturan darurat yang diberlakukan untuk mencegah penyebaran virus corona baru. Lebih dari setengah jumlah itu ditahan dibawa ke tahanan polisi.

Sejak pertengahan Maret, pihak berwenang telah menangkap 28.701 orang di seluruh negara Afrika Utara itu, 15.545 di antaranya telah dirujuk ke pengadilan setelah ditahan, menurut pasukan keamanan nasional negara itu, DGSN.

Hukuman karena tindakan melanggar aturan yang diberlakukan untuk mencegah penyebaran penyakit akibat COVID-19 adalah penjara hingga tiga bulan atau denda hingga 1.300 dirham (sekitar US$ 130), atau hukuman keduanya.

Maroko memberlakukan keadaan darurat kesehatan masyarakat pada 19 Maret, membatasi pergerakan semua orang agar tinggal di rumah mereka, kecuali mereka yang memiliki izin keluar untuk bekerja. Pekan lalu, pihak berwenang mewajibkan warga memakai masker wajah ketika di tempat publik.

Masalah Ekonomi

Polisi dan agen keamanan yang didukung oleh tentara dalam mobil lapis baja telah dikerahkan di seluruh negeri, membuat penghalang jalan dan pos pemeriksaan untuk menegakkan aturan.

Maroko telah mencatat 1.746 kasus terinfeksi COVID-19 yang dikonfirmasi, dengan 120 pasien meninggal, serta 196 orang telah pulih. Sekitar 7.000 tes telah dilakukan.

Penangkapan terbesar terjadi di pusat ekonomi negara itu, Casablanca, dan ibu kota, Rabat, menurut DGSN. Langkah isolasi terbukti paling menantang terjadi di lingkungan kelas pekerja yang padat, menurut laporan media setempat.

Kelumpuhan ekonomi akibat pandemi ini menyebabkan jutaan warga Maroko berada dalam kondisi genting, karena sebagian besar tenaga kerja terdiri dari pekerja informal yang bergantung pada pekerjaan serabutan dan kurangnya akses ke jaring pengaman sosial.

Dengan tidak adanya database sosial, pihak berwenang bekerja untuk mengidentifikasi keluarga yang membutuhkan untuk mendistribusikan bantuan keuangan langsung dan bahan makanan. (AFP)

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home