Loading...
INDONESIA
Penulis: Prasasta Widiadi 18:40 WIB | Jumat, 16 September 2016

Masyarakat Diharap Semakin Cerdas Sikapi Isu SARA di Medsos

Budayawan dan pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Franz Magnis Suseno (paling kiri) saat menyampaikan materi di diskusi bertema "DKI Jakarta Menuju Pemilihan Gubernur Yang Bermartabat. Emang Ada Calon Yang Main Rasis?", hari Jumat (16/9), di Grha Oikumene, Gedung Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Jakarta. (Foto: Prasasta Widiadi)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Masyarakat diharap semakin cerdas dalam menyikapi isu perbedaan Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA), dan masyarakat jangan terpengaruh hasutan yang berbau kebencian dengan berdasar pada SARA yang terdapat di media sosial.

Budayawan dan pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Franz Magnis Suseno, mengatakan demikian saat menjadi pemateri di diskusi bertema  "DKI Jakarta Menuju Pemilihan Gubernur Yang Bermartabat. Emang Ada Calon Yang Main Rasis?", hari Jumat (16/9), di Grha Oikumene, Gedung Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI),  Jakarta. “Kita harus menentang banyak sindiran dan rasisme (perbedaan warna kulit) yang ada di media sosial,” kata dia.

Dalam diskusi yang diselenggarakan Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) DKI Jakarta tersebut, laki-laki yang biasa disapa Romo Magnis itu mengatakan masalah tentang perbedaan berdasar warna kulit, budaya, dan agama bila tidak diwaspadai akan menyebar secara spontan.

Romo Magnis memberi contoh saat dia berada di Jerman ada persepsi jangan bergaul dengan orang berkulit hitam. “Padahal saya di Jerman bahkan sekarang banyak orang kulit hitam yang kualitasnya tidak kalah dengan orang Jerman,” kata dia.

Romo Magnis membandingkan rasisme di Indonesia masih kalah dengan  pengalaman dia saat masih di Jerman. “Di Jerman, rasisme menjadi suatu masalah yang sangat besar dan jauh lebih besar dari Indonesia,”kata dia.

Dia menyarankan politikus di Indonesia jangan melayani dan mengedepankan SARA atau perbedaan tersebut. “Karena kalau kita melihat di Indonesia ada banyak ras, karena hal itu bertentangan dengan Pancasila,” kata dia. 

Editor : Eben E. Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Edu Fair
Back to Home