Loading...
BUDAYA
Penulis: Reporter Satuharapan 18:30 WIB | Jumat, 17 Agustus 2018

Melalui Film Menimbang Ulang Semangat Kebangsaan

Poster film "Merah Putih". (Foto: Bentara Budaya Bali)

GIANYAR, SATUHARAPAN.COM - Program Sinema Bentara di Bentara Budaya Bali (BBB) setiap bulannya selalu mengetengahkan tematik khusus selaras upaya mengkontekstualkan film-film yang dihadirkan dengan situasi atau momentum penting yang tengah berlangsung. Kali ini, memaknai Kemerdekaan Republik Indonesia, Sinema Bentara yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2018 di Jl. Prof. Ida Bagus Mantra No.88A, bypass Ketewel, Sukawati, Gianyar,  mengetengahkan tajuk “Pujian Bagi Tanah Air”. 

Film-film yang ditayangkan bukan saja dari Indonesia, namun juga mancanegara, sama-sama mengkritisi dan menimbang ulang apa itu nilai-nilai kebangsaan serta nasionalisme, di tengah perjuangan penegakan kemanusiaan yang bersifat lintas bangsa.

Selama dua hari, publik dalam menyaksikan sinema pilihan yang boleh dikata lintas zaman, yakni diproduksi tahun 1948 hingga yang terkini 2015. Film-film tersebut antara lain Enam Djam di Djogja, karya sutradara Usmar Ismail, diproduksi tahun 1951. 

Sebagai film kedua yang diproduksi oleh PERFINI, Enam Djam Di Djogja sempat mendulang kesuksesan besar di Indonesia serta terus ditayangkan di TVRI sampai tahun 1980-an. 

Selain itu, akan ditayangkan pula Merah Putih (2009)  yang disutradarai Yadi Sugandi. Sedangkan untuk film mancanegara yang ditayangkan yaitu dari Perancis, berjudul Les Chevaliers Blancs (2015), disutradarai Joachim Lafosse. Juga karya sutradara legendaris Italia, Vittorio De Sica, yang berjudul Shoeshine (1948). 

Judul-judul film tersebut juga berjaya di berbagai ajang penghargaaan. Misalnya saja film Merah Putih, yang telah diputar di berbagai festival dunia, seperti: Festival Film Busan, Berlin, Cannes, Moscow, Perth, Sydney, Hongkong, Bangkok, dan Amsterdam dengan catatan terpuji. 

Di dalam negeri film ini menerima empat penghargaan utama dalam Bali Internasional Film Festival 2009, memenangkan Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Yadi Sugandi), Aktris Terbaik (Rahayu Saraswati), dan Tempat Pertama Pilihan Penonton, dan masuk nominasi Aktor Terbaik (Donny Alamsyah) dalam Festival Film Bandung 2010.    

Atau Les Chevaliers Blancs, yang dinominasikan pada Toronto International Film Festival 2015,  Philadelphia Film Festival 2015, Jerusalem Film Festival 2016, Hong Kong International Film Festival 2016, serta menerima penghargaan sutradara terbaik pada San Sebastián International Film Festival 2015.

Demikian pula Shoeshine, yang hingga kini dianggap sebagai salah satu film neorealis pertama di Italia. Pada tahun 1948, film ini  menerima Penghargaan Kehormatan di Academy Awards. 

Film-film di atas bukan saja berkisah tentang masa-masa merebut kemerdekaan bangsa, atau berlatar suasana perang dunia, namun yang juga menggambarkan perjuangan kemanusiaan. 

Dengan demikian, publik dapat memahami nilai-nilai kepahlawan ataupun kebangsaan yang bersifat positif. Hal ini sekaligus juga upaya untuk terhindar dari fanatisme atau Chauvinisme, yang mudah dikobarkan melalui berita-berita hoax di media sosial yang memungkinkan timbulnya pribadi yang terjangkiti virus radikalisme dan kekerasan dalam bentuk apapun.

Sebagaimana sebelumnya, acara ini masih diselenggarakan dengan konsep Misbar, mengedepankan suasana nonton bersama yang akrab, guyub, dan hangat. Selain itu dihadirkan pula diskusi sinema, Minggu (19/8) bersama narasumber Sofyan Syamsul, seorang sinematografer yang pernah terlibat sebagai still photographer dalam film Memburu Harimau, Sepatu Baru, Ada Apa Dengan Cinta? 2, Athirah, Kulari ke Pantai dan The Seen and Unseen. 

Adapun program kali ini didukung oleh  Sinematek Indonesia, Bioskop Keliling BPNB Bali Kemendikbud RI, Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar, Pusat Kebudayaan Prancis Institut Français d’Indonésie, Alliance Française Bali, dan Udayana Science Club. (PR)

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home