Loading...
RELIGI
Penulis: Reporter Satuharapan 18:55 WIB | Selasa, 13 Oktober 2020

Mengenang Hari Kelahiran Nabi Khongcu

Ilustrasi. (Foto: Bernas.id)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - 13 Oktober 2020 (tanggal 27 bulan 8 Imlek) adalah hari ulang tahun kelahiran Nabi Khongcu yang ke-2571 tahun. Karyanya bagi dunia pendidikan, etika moral, tata kenegaraan, dan tata hubungan serta kesusilaan antar sesama manusia, juga  manusia dengan Tuhan Sang Pencipta, demikian besar pengaruhnya pada bangsa Asia pada umumnya. Sehingga, dunia mengakuinya sebagai seorang nabi, guru agung sepanjang masa.

Dalam mengenang hari kelahirannya, kita ajak para pembaca untuk membuka kembali lembaran kehidupan Nabi Khongcu yang telah meninggalkan kita 2499 tahun lamanya (wafat tahun 479 SM).

Sebuah peristiwa yang telah lampau sekali, bahkan banyak hal telah dilupakan orang. Namun, dikarenakan kebajikan mulia yang disumbangkannya kepada umat manusia, maka karyanya dibukukan oleh murid-murid serta pengikutnya, dan dilestarikan secara turun-temurun sampai sekarang. Ajarannya disebut agama Ru (Ru-jiao) atau di Indonesia disebut sebagai agama Khonghucu. 

Nabi Khongcu, sewaktu lahir diberi nama kecil Kong Qiu alias Zhong Ni. Dia merupakan putera kedua dari ayah yang bernama Kong Shu Liang He dan Ibu bernama Yan Zheng Zai. Ia mempunyai sembilan kakak perempuan dan satu abang dari lain ibu. 

Dikisahkan, Ibunda Yan Zeng Zai yang sering mendaki bukit Ni memanjatkan doa, memohon ke hadirat Tuhan agar dikaruniai seorang putra. Selang tidak berapa lama pada suatu malam, dia diberi penglihatan: Datang Malaikat Bintang Utara berkata, “Terimalah karunia Tuhan Yang Maha Esa, seorang putra agung nan suci, seorang nabi. Engkau akan melahirkannya di lembah Kong Sang.” 

Sejak kejadian itu, Ibu Yan mulai mengandung dan diberi penglihatan lain. Datang seekor Qi-lin (hewan suci bertubuh kijang, bertanduk tunggal, bersisik seperti naga, berekor seperti lembu). Dari mulutnya, menyembur keluar sebuah kitab kumala (Yu Shu) yang bertuliskan: “Putra sari air suci akan datang untuk menggantikan Dinasti Zhou yang sudah lemah, dan akan menjadi Raja tanpa mahkota”. 

Setelah itu, Ibu Yan mengikatkan pita merah pada tanduk hewan suci tersebut. Setelah hamil selama 11 bulan, lahirlah seorang bayi pada tanggal 27 bulan 8 tahun 551 SM (jaman Chun Qiu), di negeri Lu, kota Zou Yi, desa Chang Ping, lembah Kong Sang (sekarang Kota Qufu, Provinsi Shandong, Tiongkok)

Sewaktu kelahiran Kong Qiu tampak tanda-tanda menakjubkan, yaitu: muncul dua ekor naga berjaga mengitari tempat kelahiran; datang lima Malaikat Tua menyambut; malam itu bintang utara bersinar terang, langit jernih, bumi damai; terdengar musik nan merdu mengalun di angkasa; angin bertiup sepoi-sepoi dan keesokan harinya matahari bersinar hangat;  Sungai Kuning yang biasa airnya keruh bergolak, menjadi jernih dan tenang alirannya; dari langit terdengar suara, “Tuhan telah berkenan menurunkan seorang putra yang nabi”; muncul sumber air hangat untuk memandikan sang bayi di lantai gua Kong Sang; pada tubuh sang bayi, tampak 49 tanda-tanda luar biasa yang bermakna: Yang akan menetapkan hukum abadi dan membawa damai bagi dunia.

Usia tiga tahun, Kong Qiu kehilangan ayah. Sejak itu, ia ikut Ibunda Yan berpindah ke dekat rumah nenek. Ia dibesarkan Ibunda Yan dan juga mendapat bimbingan dari nenek luarnya. 

Ketika usia tujuh tahun, meski dalam kemiskinan, Ibunda Yan menyekolahkan Kong Qiu di perguruan Yan Ping Zhong; seorang cendekiawan dari Negeri Qi. Di sekolah ini, para murid diajarkan cara menyiram, membersihkan lantai, bertanya jawab dengan guru, juga pendidikan budi pekerti, musik, menunggang kuda, memanah, sastra dan berhitung. 

Pada usia 15 tahun, Kong Qiu telah menetapkan hati untuk teguh dalam belajar. Masa kecil Kong Qiu bukanlah masa yang bahagia. Ia terbiasa mengerjakan banyak pekerjaan kasar. Dalam kitab Lun Yu tertulis, Nabi bersabda: “Aku bukanlah pandai sejak lahir. Aku hanya suka belajar hingga lupa makan dan minum. Di dalam mengajar juga tidak merasa lelah…. Waktu kecil banyak pekerjaan kasar pernah kulakukan, maka banyaklah pengetahuan dan keterampilan saya.” Beliau juga pandai dalam hal memanah dan mengendarai kereta kuda.

Ketika Kong Qiu berusia 17 tahun, Ibunda tercinta yang banyak bekerja keras membesarkan anaknya, sehingga kurang terawatlah kesehatannya, meninggal dunia dalam usia 35 tahun. Kong Qiu bersedih dan menyemayamkan peti jenazahnya di tepi jalan kota, berharap ada orang yang mengetahui letak makam ayahnya, agar dapat dimakamkan bersama. Tiga hari kemudian, datanglah seorang nenek mengaku tetangga Ibunda Yan, memberi petunjuk pada Kong Qiu tentang letak makam ayahnya. Maka terkabullah niatnya untuk menyatukan kedua orang tuanya di makam yang berdampingan.

Dari kisah masa kecil Nabi Khongcu (Kongzi), dapatlah kita petik beberapa suri tauladan. Pertama,  semangat juang seorang ibu membesarkan anaknya seorang diri, meski miskin tetapi mengutamakan pendidikan anaknya. Kedua, kesadaran seorang anak yang telah kehilangan ayah sejak kecil, untuk tidak mengecewakan harapan sang ibu, menjadi anak yang patuh, berbakti, teguh dalam semangat belajar, rajin membantu ibunya. 

Tidaklah dapat disangkal bahwa dibalik kebesaran nama Nabi Khongcu terdapat jerih payah ibunda Yan yang tidak ternilai harganya. Maka berbanggalah wahai para ibu yang bekerja keras mendidik dan mendorong anak-anaknya untuk maju. Karena kabahagiaan yang diperoleh ketika melihat anak berhasil adalah kebahagiaan yang tidak dapat dibeli dengan uang berapa pun juga.

Ws Ir Djohan Adjuan

(Tokoh Khonghucu)

 


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home