Loading...
INSPIRASI
Penulis: Weinata Sairin 18:01 WIB | Sabtu, 17 Juli 2021

Menghidupi Hidup Berpengharapan

”Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.” (Amsal 24:16)
Ilustrasi. (Foto: hopegrows.net)

SATUHARAPAN.COM - Siapa pun dalam hidup ini pasti pernah jatuh, baik dalam arti sebenarnya maupun kiasan. Jatuh dalam arti sebenarnya, misalnya: jatuh di kamar mandi yang menyebabkan terjadinya perdarahan di otak lalu harus diantar ke Rumah Sakit Pusat Otak Nasional; jatuh dari pohon kelapa karena pelepah yang diinjak sudah rapuh, lalu diobati dengan meminum air kelapa muda; jatuh karena tersandung ’polisi tidur’ yang ada di jalan; jatuh dari lantai tiga karena tangga kayu yang digunakan kuli bangunan untuk mengecor semen ternyata tidak kokoh, dan lain-lain. Banyak sekali contoh yang bisa diangkat tentang peristiwa jatuh yang dialami oleh setiap orang dalam merancang kehidupannya.

Jatuh dalam arti kiasan juga cukup banyak dialami oleh orang-orang dalam hidupnya. ”Ia kini ’jatuh’ miskin sesudah seluruh harta bendanya dijual habis karena anaknya sangat boros dan ia terlibat utang pada rentenir”; ”Dalam usia setengah baya, ia ’jatuh’ cinta lagi dengan seorang gadis yang kemudian dipersuntingnya sebagai istri”; ”Teman-temannya yang acap menghabiskan waktu di pub dan disko telah membawanya ke pergaulan bebas, sehingga ia ’jatuh’ ke lembah nista. Ia menjadi pengguna narkoba.” Kalimat-kalimat itu menunjukkan dengan amat jelas tentang pemakaian kata ”jatuh” dalam arti kiasan. Ya, jatuh hati, jatuh cinta, jatuh ke lembah nista, jatuh miskin, dan banyak lagi penggunaan kata ”jatuh” yang memberi informasi bagaimana setiap orang bisa mengalami ’jatuh’ dalam hidupnya. Jatuh dalam arti sebenarnya atau jatuh dalam arti kiasan tentu saja memiliki dampak dalam kehidupan seseorang, pada tubuh maupun pada hati.

Sebagai orang beriman, kita juga mengalami jatuh dalam berbagai aspeknya. Kita jatuh karena kurang hati-hati, karena pengaruh orang lain, atau berbagai sebab lainnya. Namun, kita telah bertekad bahwa hidup ini harus terus ’dirayakan’, apa pun yang kita hadapi. Hidup adalah anugerah terindah yang Allah berikan bagi kita, karena itu kita harus mengisi lembar lembar kehidupan ini dengan narasi indah yang kita persembahkan bagi Allah dan sesama. Hidup tidak monoton dan stagnan. Hidup harus bergerak. 

Terlebih, kita diberi tugas oleh Yesus agar selama hari masih siang kita harus mengerjakan pekerjaan Dia, karena akan datang malam di mana kita tidak dapat bekerja (Yohanes 9:4). Hidup harus dijalani. Biarpun harus jatuh bangun. Hidup harus memancarkan sinar kebenaran di mana pun kita berada dan dalam kapasitas apa pun kita. Paulus mengingatkan kita, jikalau kita dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas bukan yang di bumi (bdk. Kolose 3:1, dst.). Orientasi hidup kita haruslah ke arah yang di atas, yang vertikal, dan bukan kepada yang di bumi.

Paulus tidak menyuruh kita untuk melupakan dunia kita, bumi kita, dan kita lalu fly. Paulus ingin mengingatkan bahwa kita ini milik Allah yang sudah dibangkitkan bersama Kristus, karena itu kita harus fokus kepada yang vertikal, ’lokus’ kita di masa datang, tatkala kita mengalami kemuliaan bersama Allah! Kita tidak boleh terbelenggu pada apa yang terjadi ”di bawah”, yang gaduh soal kafir, kelicikan para praktisi hukum, minoritas-mayoritas, negara khilafah, dan sebagainya. Kita harus berjuang keras menegakkan keadilan dan kebenaran di bawah, dengan fokus dan orientasi kita tetap ke atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.

Di bawah ada banyak isu/hal, ada banyak lokasi, ada banyak hoax, ada pelarangan ibadah, kesulitan membangun gedung Gereja  dan sebagainya. Kita harus terus memantau berbagai isu dan lokasi agar kesemuanya bisa bermakna bagi kemajuan HAM dan peradaban manusia, dan tidak justru menjadi instrumen untuk menekan dan/atau mendiskriminasi orang dan komunitas. Firman Allah dalam Amsal mengingatkan kita bahwa berapa kali pun orang benar jatuh ia akan bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana. 

Orang fasik (Ibrani: rasya, Yunani: parakoe) adalah orang yang tidak sungguh sungguh menjalankan agama, berbuat jahat dan maksiat. Mereka adalah orang-orang dengan syahwat politik kuat tanpa moral dan adab. Mereka yang menjadikan hukum sebagai alat kepuasan pribadi dan golongan. Bahkan, mereka yang berniat jahat terhadap keutuhan NKRI. Mereka inilah yang akan roboh dalam bencana!

Mari kita terus berjuang agar kebenaran itu terwujud dan keadilan itu benar-benar hidup. Tampilkan kekristenan yang cantik dan elegan, di mana pun dan kapan pun! Mari hidupi kehidupan ini dengan sukacita dan berpengharapan di era pandemi yang sedang mengguncang kehidupan.

Selamat Menyambut dan  Merayakan Hari Minggu.
God Bless!


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home