Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 18:42 WIB | Kamis, 16 Juli 2020

Menolak Pemilu Reformasi Konstitusi Rusia, Seratus Lebih Ditangkap dalam Demonstasi

Menolak Pemilu Reformasi Konstitusi Rusia, Seratus Lebih Ditangkap dalam Demonstasi
Orang-orang berkumpul untuk mengumpulkan tanda tangan untuk membatalkan hasil pemungutan suara terhadap amandemen Konstitusi di Pushkin Square di Moskow, Rusia, Rabu, 15 Juli 2020. Mreka menulis di poster berbunyi: "Tidak untuk Putin abadi!" Awal bulan ini sekelompok aktivis oposisi menyerukan protes terhadap reformasi konstitusi yang memungkinkan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk tetap berkuasa hingga 2036. (Foto: AP)
Menolak Pemilu Reformasi Konstitusi Rusia, Seratus Lebih Ditangkap dalam Demonstasi
Petugas polisi menahan peserta protes terhadap amandemen Konstitusi Rusia di Moskow, Rusia 15 Juli 2020. (Foto: Reuters)

MOSKOW, SATUHARAPAN.COM-Puluhan orang ditangkap pada protes di Moskow pada hari Rabu (15/6) terhadap reformasi konstitusi yang memberi Presiden Vladimir Putin pilihan untuk tetap berkuasa selama 16 tahun ke depan, kata saksi mata dan kelompok pemantau.

Sekitar 500 demonstran, yang kebanyakan dari mereka mengenakan topeng bertuliskan kata "tidak", meneriakkan seruan agar Putin mengundurkan diri dan mengangkat spanduk menentang reformasi.

Polisi mengepung mereka dan mulai melakukan penangkapan pada malam hari setelah para peserta mulai berbaris di salah satu jalan utama kota itu, dengan para petugas yang mengenakan seragam pasukan anti huru-hara mengumpulkan para pengunjuk rasa dan menempatkan mereka di dalam kendaraan.

Lebih dari seratus orang ditahan, menurut kelompok pemantau hak asasi manusia, OVD-info. Tidak ada konfirmasi segera dari polisi atau pemerintah tentang jumlah orang yang ditangkap.

Pemungutan suara awal bulan ini mengamandemen konstitusi Rusia, memberikan Putin hak untuk mencalonkan diri dalam dua masa jabatan presiden lagi, sebuah hasil yang digambarkan Kremlin sebagai kemenangan.

Aktivis oposisi mengatakan pemungutan suara tidak sah dan sudah saatnya Putin, yang telah memerintah Rusia selama lebih dari dua dekade sebagai presiden atau perdana menteri, untuk mundur.

"Saya datang ke sini untuk menandatangani petisi menentang reformasi konstitusi karena saya seorang nasionalis," kata seorang pria berusia 40 tahun dengan kaus hitam ketika pengunjuk rasa meneriakkan "Putin adalah seorang pencuri".

Vasilisa yang berusia empat belas tahun mengatakan dia juga menandatangani petisi karena Putin "yang harus disalahkan atas kemiskinan di negara kami."

"Seorang gay terbunuh di sini, perempuan dipukuli di sini, dan tidak ada yang pernah dimintai pertanggungjawaban," katanya.

Dua aktivis Rusia yang terlibat dalam kampanye menentang reformasi konstitusi ditahan pekan lalu dan rumah lima lainnya digeledah, menjelang protes yang dijadwalkan, yang belum disetujui oleh pihak berwenang.

Pertemuan massal dilarang di ibu kota Rusia, karena pembatasan COVID-19. Bahkan di waktu normal, protes lebih dari satu orang memerlukan persetujuan terlebih dahulu dari pihak berwenang. (Reuters)

Editor : Sabar Subekti

Kampus Maranatha
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home