Loading...
INDONESIA
Penulis: Reporter Satuharapan 17:27 WIB | Selasa, 14 Maret 2017

Menteri Susi: Artefak Jangan Hanya Koleksi Rumah

Pengunjung mengamati barang koleksi Barang Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) yang dipamerkan di Galeri BMKT, Gedung Mina Bahari IV, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Selasa (14/3). Galeri tersebut berisi sekitar 1.500 BMKT dari Dinasti Tang (abad IX) dan Dinasti Song (abad XI-XII) yang berhasil ditemukan dan diangkat dari kapal-kapal tenggelam di perairan Kepulauan Riau, Selat Karimata, Selat Bangka Belitung, dan Laut Jawa. (Foto: Antara)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menginginkan berbagai artefak kelautan yang ditemukan di berbagai kawasan perairan Indonesia harus bisa dikaji seluruh bangsa dan jangan hanya menjadi koleksi di rumah kalangan tertentu.

"Artefak atau BMKT harus dilihat dan dinikmati oleh intelektual anak bangsa, jangan hanya jadi koleksi rumah orang-orang besar," kata Menteri Susi setelah meresmikan Galeri Barang Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) di Gedung Mina Bahari IV lantai 2, kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta, hari Senin (13/3).

Untuk itu, ujar dia, diharapkan juga agar mereka yang saat ini sebagai kolektor banyak artefak berharga juga bisa meminjamkannya untuk dapat dipajang dan dilihat oleh rakyat.

Menurut Susi Pudjiastuti, nilainya tidak bisa dihitung dengan nilai rupiah tetapi juga merupakan bagian dari identitas bangsa Indonesia sebagai negara maritim.

Apalagi, wilayah perairan Indonesia juga merupakan kawasan perairan strategis bagi pelayaran dunia sejak dahulu yang telah menghubungkan negara-negara di Asia, Eropa, dan Timur Tengah.

Sehingga, bukanlah sesuatu hal yang mengejutkan bila kapal tenggelam dan muatannya juga banyak ditemukan terdeposit di perairan yang tersebar di berbagai daerah Nusantara.

Berdasarkan estimasi yang dikeluarkan oleh Badan Riset Kelautan dan Perikanan, ada sebanyak 463 titik lokasi yang tersebar di perairan Indonesia.

Sebagian besar dari muatan BMKT tersebut tersebar sebagian besar di perairan Kepulauan Riau, Selat Karimata, perairan Bangka-Belitung, dan Laut Jawa.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP Brahmantya Satyamurti mengemukakan BMKT memiliki nilai yang kompleks tidak hanya secara ekonomi tetapi juga sejarah dan ilmu pengetahuan.

"Nilai inilah yang kemudian mendasari pemerintah untuk mengelola BMKT dan tidak ingin menyerahkannya kepada pihak lain," kata Brahmantya.

Pemerintah memiliki sebuah kompleks pergudangan BMKT yang menampung sekitar 200.000 lebih koleksi yang berasal dari abad 9-18 Masehi.

Sedangkan di galeri KKP tersebut terdapat lebih dari 1.500 keping BMKT, atau kurang dari 1 persen jumlah BMKT yang dimiliki Indonesia. (Ant)

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home